Kalian sudah mendengar kasus yang dialami oleh owner Bolosego?
Jika belum, saya beri intinya. Jadi, Mbak Diah yang merupakan owner Bolosego menceritakan kronologis saat ia ingin berjualan dengan food truk di Alun-alun Kidul alias Alkid Jogja. Mbak Diah sudah berusaha melakukan izin resmi dengan berbagai kanal serta membayar biaya ini itu sesuai administrasi.
Lah ndilalah saat baru pertama berjualan, ia diminta uang parkir kendaraan yang digunakan untuk berjualan. Jumlah tak main yakni 2,5 juta perhari. Walau bisa dinego sebesar sejuta sehari, tetapi akhirnya Mbak Diah menyerah tidak lagi berjualan di sana karena omsetnya tidak menutupi.
Nah, bukan hanya soal viralnya kasus ini yang menarik perhatian, tetapi cara pemerintah Jogja menanggapinya. Mereka seakan menutupi kasus ini dan menekan Mbak Diah dengan berbagai cara. Mulai mendatangi juru parkir dan membuat framing seakan-akan kejadian itu hanya salah paham hingga munculnya rating buruk pada outlet Bolosego yang sangat kelihatan digerakkan oleh oknum tertentu.
Tidak hanya itu, wercok di sana juga seakan pro kepada preman dan pungli. Saat Mbak Diah mengatakan bahwa ada 3 orang wercok yang datang ke food trucknya dan meminta makanan, pihak wercok pun hingga kini belum bisa mengungkap siapa mereka. Artinya, antara preman, pemerintah Jogja, dan wercok Jogja sudah satu suara mendukung premanisme dan pungli bagi UMKM.
Maka dari itu, kasus ini sepertinya sudah membuka tabir bagaimana pungli bisa begitu menggurita di Jogja. Tidak hanya pungli, premanisme juga tumbuh subur di sana. Saya yang beberapa tahun tinggal di sana untuk bekerja di sana juga sedikit banyak tahu, kalau tidak bekingan kuat, akamsi alias anak kampung sini, rasanya mustahil bisa berusaha di tanah istimewa.
Tentu, banyak yang tahu kawasan Babarsari yang dianggap sebagai Gotham City. di sana sering terjadi pertikaian karena gesekan ekonomi. Setelah pertikaian terjadi, pihak wercok tidak bisa menangkap atau mengamankan pelaku kekerasan. Contohnya, para debt collector yang bisa dengan mudah merampas kendaraan atau mengintimidasi seseorang yang dianggap punya tanggungan hutang.
Dalam kaitannya dengan wisata, tentu kasus scam yang melibatkan pelaku wisata di belakang bangunan keraton. Saat itu, ada wisatawan yang mengaku dijebak harus membeli kopi luwak di sebuah kafe kecil. Padahal, awalnya ia ditawari kopi gratis.
Bagi kalian yang pernah atau sering ke Jogja, mungkin sering kena scam tukang becak yang menggetok harga tak wajar. Kalau tidak, kadang ada tukang becak yang tidak mengantarkan ke tempat tujuan, tetapi memutar dahulu ke tempat oleh-oleh. Belum lagi warung makan yang menggetok harga dengan tak nalar. Jangan lupakan pula tukang parkir di area wisata yang menggetok parkir dengan biaya hingga ratusan ribu rupiah.
Semua kejadian ini akhirnya terakumulasi dengan hadirnya kasus Bolosego. Walau pihak pemerintah Jogja sudah berusaha memulihkan dan membuat nama Jogja baik kembali, rasanya sudah sia-sia. Sudah banyak kekecewaan yang muncul. Sudah banyak orang yakin bahwa Jogja sangatlah istimewa dalam hal pungli dan premanisme.
Jika terus begini, maka jangan salahkan orang atau wisatawan enggan ke Jogja. Saat ini, ada banyak daerah yang mulai menata wisatanya lebih ramah. Semisal Solo, Purwokerto, dan Semarang. Bisa jadi, Jogja tak lagi menjadi tujuan utama para wisatawan untuk melepas penat suatu saat nanti.
