![]() |
| Ilustrasi |
Kemarin, saya melihat sebuah kejadian kebakaran di salah satu Warung Madura di Kota Malang.
Kebetulan, saya sedang bersiap menuju Mojokerto karena baru masuk siang. Saat melintas di jalan yang dekat warung tersebut, sudah banyak warga yang menonton. Saya melihat banyak petugas damkar berjibaku dan wercok yang mengatur lalu lintas.
Nah, yang menjadi perhatian saya saat itu adalah cukup banyak ambulans yang melintas. Saat saya berhenti sejenak karena kena macet, saya melihat ada sebuah kantong jenazah yang dikeluarkan dari ambulans. Waduh, pasti ada yang meninggal dunia.
Benar saja, saat di dalam bus dan membaca berita yang berseliweran, kebakaran tersebut menelan satu korban jiwa. Sementara, satu korban lainnya selamat, tetapi mengalami luka bakar yang cukup parah dan harus segera dilarikan di rumah sakit.
Dari berita yang saya baca, kebakaran diduga terjadi karena sambaran api dari kompor yang digunakan salah seorang pegawai warung tersebut untuk memasak mie instan. Apesnya, di dalam warung tersebut ada tempat penyimpanan bensin dan bisa ditebak, api langsung menjalar. Belum lagi, banyak barang yang mudah terbakar, seperti tabung gas elpiji.
Bahkan, dari video yang beredar, saya mendengar suara letupan gas elpiji yang meledak dengan sangat keras. Kobaran api yang menjulang tinggi juga merembet ke bangunan sebelahnya seperti sebuah penginapan. Untung saja, toko roti langganan saya tidak ikut terbakar.
Korban yang meninggal dunia diduga tidak sempat menyelamatkan diri karena berada di alntai 2 dan sedang tertidur saat api baru menyala. Ia ditemukan tak bernyawa di dalam bak mandi. Bisa jadi, ia sudah bingung harus lari ke mana saat api mulai membesar. Duh, rasanya miris sekali.
Kejadian ini membuat SOP keselamatan di Warung Madura juga perlu diperhatikan. Beberapa tahun yang lalu, di Kota Malang juga pernah terjadi tragedi di Warung Madura. Saat itu, seorang penjaga warung terseret ke dalam sebuah parit yang berada di bawah warung saat hujan deras turun. Ia ditemukan tak bernyawa sekitar 3 kilometer dari tempat kejadian. Bangunan warung dianggap tidak layak karena dibangun di atas parit dengan pondasi yang rapuh.
Kejadian berulang ini semestinya menjadi pelajaran bahwa warung yang sering diplesetkan menjadi warung 24 jam ini bisa menjadi tempat petaka. Pemilik warung sering tidak memperhatikan kondisi warungnya, terutama soal keselamatan. Banyak dari mereka yang menimbun bensin di dalam warung yang sangat sempit. Padahal, di dalamnya sering dilakukan kegiatan yang menimbulkan api, seperti memasak.
Sirkulasi udara warung madura juga bisa dikatakan buruk. Banyaknya barang dagangan di dalamnya membuat suasana di dalam cukup pengap. Saat terjadi kebakaran, maka api juga akan merembet dengan cepat.
Satu hal lagi adalah kebiasaan merokok penjaga warung. Mereka kerap merokok saat berjaga sepanjang waktu. Padahal, di dalamnya juga ada bensin yang siap menyambar kapan saja. Makanya, edukasi mengenai keselamatan ini juga sangat penting.
Yang membuat miris, korban kebanyakan para penjaga warung yang masih sangat muda. Mereka biasanya baru lulus sekolah dan belum dapat pekerjaan. Mereka juga menjadi korban saat tertidur atau saat lengah. Untuk itulah, para pekerja baru ini juga perlu diberi bimbingan dan tidak asal menunggu warung saja.
Semoga tidak ada kejadian serupa di warung madura manapun. Saya sering miris juga jika berbelanja di sana karena standar keamanan warungnya sangat minim.
