Kemarin, saya menolak ajakan nongkrong seorang teman yang ingin bertemu saya.
Penolakan ini saya dasarkan kepada waktu ajakan yang mendadak. Di samping itu, ada alasna lain yang membuat saya enggan untuk mengiyakan ajakan tersebut. Tak lain dan tak bukan karena tempat nongkrong yang akan didatangi adalah sebuah tempat dugem terkenal di Surabaya. Tentu, alasan ini saya tolak.
Saya sangat tidak suka dugem. Apapun alasannya, entah untuk menemui orang berduit atau yang punya jabatan tinggi, saya akan tetap menolak. Alasannya jelas, tempat dugem adalah tempat maksiat, tempat banyak orang minum-minuman keras. Kadang, tempat dugem juga sering digunakan sebagai tempat transaksi jual beli narkoba. Gak lucu kan kalau saya tiba-tiba kena grebek Satpol PP dan viral di media sosial?
Makanya, saya akan menolak langsung ajakan nongkrong di tempat dugem. Walau dibayar sekalipun akan saya tolak. Selain tempat dugem, ada beberapa syarat yang harus saya pertimbangkan untuk memenuhi undangan makan. Apa saja itu?
Makanan dan minuman harus halal
Syarat ini mutlak karena saya akan mengkonsumsi makanan dan minuman di tempat nongkrong tersebut. Makanya, saya akan menolak jika tempat makan yang dituju menjual makanan non-halal. Tidak hanya makanan non-halal, tempat makan yang belum jelas kehalalannya, seperti restoran Jepang dan Korea juga saya hindari.
Saat ini kan banyak resto Jepang dan Korea yang belum tersertifikasi Halal MUI, tetapi mencantumkan tulisan no pork no lard. Saya tahu sih, mereka akan berusaha semaksimal mungkin menjaga bahan baku dan proses masaknya halal. Namun, lantaran belum tersertifikasi halal, lebih baik saya hindari.
Walau demikian, saya akan tetap hadir nongkrong di resto non-halal jika keadaan memaksa. Biasanya sih, saya hanya pesan air mineral kemasan. Kegiatan ini sering saya lakukan karena circle pertemanan saya saat ini hampir 90% nonmuslim sehingga mereka sering makan di tempat yang menjual makanan non-halal.
Terdapat ruangan bebas rokok
Saya sangat tidak suka asap rokok. Maka dari itu, sebisa mungkin saya mencari tempat nongkrong yang bebas asap rokok. Duduk nongkrong berjam-jam cukup lama. Dada terasa sesak jika saya berada di tempat yang banyak asap rokoknya. Atas alasan ini, saya mensyaratkan tempat nongkrong yang terdapat ruangan bebas asap rokok.
Saya tidak melarang rekan saya yang nongkrong untuk merokok. Asal, jika ia atau mereka ingin merokok, maka mereka bisa menepi dulu di smoking area. Barulah jika mereka telah selesai, mereka bisa lagi bergabung dengan saya.
Ada menu tidak pedas dan bukan kopi
Saya punya penyakit GERD. Maka dari itu, saya sangat menghindari tempat nongkrong yang hanya menjual makanan pedas dan minuman kopi. Lambung saya bisa berontak jika saya makan dan minum dengan menu tersebut.
Kadang, ada tempat makan yang isi menunya hanya makanan pedas. Saya sampai pernah hanya beli es teh saking tidak ada menu makanan yang bisa saya pesan. Alhasil, saya hanya bisa menatap rekan saya menyantap makanan dengan lahapnya. Saya hanya bisa ngiler melihat kelakuan mereka.
Kalau mengajak saya di kedai mie level pedas masih saya toleransi. Di sana ada banyak menu bukan mie seperti siomay yang bisa saya makan. Namun, jika ada yang mengajak saya di tempat makan yang menunya hanya pedas seperti ceker pedas, lebih baik saya tidak ikut.
Bukan tempat duduk dengan krat botol
Saya sangat anti tempat nongkrong yang menggunakan krat botol sebagai tempat duduk. Ya Tuhan kok bisa-bisanya krat botol yang bukan peruntukannya untuk duduk digunakan untuk nongkrong berjam-jam. Encok saya bisa kumat. Badan saya bisa pegal-pegal sehabis nongkrong.
Walau dikata estetik sekalipun tentu akan saya tolak. Saya tidak mau kesehatan punggung saya terganggu setelah nongkrong. Makanya, saya lebih memilih nongkrong di ruangan ber-AC dan tempat duduknya menggunakan sofa empuk. Nongkrong kan untuk santai buat apa menyiksa diri.
Itulah beberapa syarat tempat nongkrong bagi bapak-bapak usia 30an. Kalau kalian sendiri apa punya syarat khusus?
