Jujur, saya sebenarnya engga mood membahas masalah ini.
Saya sudah sering dituduh sebagai kurir kecemasan dan suruh berhenti. Namun, setiap hari rasanya mengalami kejadian tidak mengenakkan dan membaca berita yang juga tidak kalah mengenakkan. Saya bukan malaikat dan diberi rasa cemas oleh Yang Maha Kuasa.
Dari dunia nyata, siapa sih yang hari ini enggak pusing masalah bensin? Siapa coba? Saya itu sampai gak tau mau harus bagaimana soal bensin ini. Saya punya motor yang harus saya isi bensin. Iya sih, seharusnya dengan keadaan desil 9 saya mengisinya dengan Pertamax.
Cuma, harga kebutuhan yang makin hari makin bertambah naik harganya membuat saya berpikir berkali-kali lipat jika ingin menggunakan Pertamax. Walhasil Pertalite jadi pilihan. Dulu, saat Shell masih beroperasi, saya masih ikhlas lahir batin menggunakan shell walau dikata harga per liternya bisa 15 ribu rupiah lebih. Sekarang, kalau disuruh pakai Pertamax, saya mah ogah.
Sebagai pengguna transportasi umum, saya juga ikut merasakan dampak kelangkaan BBM ini. Banyak rute bus yang headwaynya luama sekali akibat armadanya ikut isi solar. Kemarin, saya sampai harus nebeng ke orang random di Krian karena nunggu bus Trans Jatim tak kunjung datang. Ia rencana akan ke Malang dan akhirnya saya mendapat tumpangan gratis. Saat saya mengecek aplikasi Trans Jatim, bus-bus sedang antre solar ternyata. Kalau saya menolak ajakan orang tersebut, bisa dipastikan saya enggak pulang-pulang.
Sampai sini, di dunia nyata saya sudah merasa cemas. Dapat bensin gak ya? Bisa pulang gak ya? Lagi-lagi, rasa cemas itu wajar dan manusiawi. Ya kali situ kena PHK engga cemas sama sekali. Ups, keceplosan.
Di dunia maya, rasanya layar ponsel saya full oranye dengan suasana langit Kalimantan yang sedang terbakar. Asli, saya yang ribuan kilometer jauhnya ikut sesak dan ngilu. Rasanya ikut cemas melihat saudara-saudara kita sangat tertekan dan menderita di sana.
Terlebih, saat saya melihat orang utan yang menderita hingga meninggal akibat kebakaran, duh rasanya miris. Belum lagi para balita yang terkena ISPA. Para lansia yang entah bagaimana bisa bernapas di kondisi sesesak itu. Tentu, saya cemas dan saya membagikan kecemasan itu.
Lagi-lagi, saya tidak bisa diam dan takut dituduh sebagai kurir kecemasan. Biarlah mereka - yang sok elegan itu - terus berusaha menutupi apa yang sedang terjadi di negeri ini. Menjilati para penguasa dengan keangkuhan mereka.
Saat saya dituduh jadi kurir kecemasan, ada satu poin yang membuat saya tertawa. Saya dan kita disuruh optimis kepada pemerintah agar keadaan lebih baik. Nyatanya, keadaan bertambah buruk. Agama saya mengajarkan jika keadaan buruk, maka kita sebagai umat ya harus mengubahnya. Dengan cara apa? Ya dengan cara bersuara.
Saya tidak tahu apa di benak orang-orang ini yang masih abai dan seakan bermain aman dengan kondisi sekarang. Mungkin, saat dampaknya baru terasa oleh mereka, maka mereka akan bersuara. Tapi saya tidak yakin. Mereka sudah kadung malu dan tidak mau kalah. Yang penting terlihat sempurna dan bahagia.
Saya menulis ini sambil membaca berita soal IHSG yang jatuh hingga 10 persen lebih. Ada selentingan kabar bahwa pasar modal Indonesia akan berada sama level dengan negara semacam Zimbabwe. Asli, saya benar-benar muak dan cemas. Kira-kira, apa yang akan dikomentari oleh mereka yang mengatakan saya kurir kecemasan soal ini?
Entahlah. Sebagian dari mereka juga sudah tiarap. Entah bagaimana dunia mereka sekarang di dunia nyata saya tak peduli. Satu hal yang pasti, keadaan bangsa saat ini juga tak lekang dari ulah mereka. Lah kok bisa?
Pikirkan sendiri.
