![]() |
Hai, apa kabar 19 juta lapangan padel eh lapangan pekerjaan?
Sudahkah terbuka lebar untuk masyarakat Indonesia. Kalau melihat banyaknya PHK daripada gelombang job fair, rasanya belum ya. Malah makin hari rasanya mencari uang makin susah. Makin susah mencari pekerjaan yang sekadar layak.
Kemarin, ada teman saya menawarkan menu katering gegara saya pernah posting mencari warung katering saat malam hari. Wah, langsung dong saya iyakan karena warung langganan saya sudah tidak jualan lama.
Menu yang dijualnya juga yang saya suka dan GERD-friendly. Mulai dari bubur ayam, nasi tim dengan aneka sayur, dan tentunya kuah semur. Cocok untuk saya yang hampir susah mencari makan saat malam hari karena sedang on duty.
Namanya teman, saya bertanya dong. Tumben nih dia mencari usaha sampingan. Ternyata, usaha katering yang ia bangun merupakan usaha utama. Ia baru saja terkena gelombang PHK beberapa bulan lalu. Lantaran ada tanggungan istri dan 3 anak yang masih kecil, tak ada lagi cara untuk tetap bertahan hidup selain berjualan.
Apalagi, saya kenal istrinya pandai memasak karena dulu pernah bekerja di sebuah hotel berbintang. Ia tidak membuka stan dan memilih membuka katering karena alasan biaya. Uang pesangonnya lebih banyak digunakan dulu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Iya sih, zaman segini sewa stan juga tidak mudah. Membuka di rumah saja adalah solusi.
Walau sudah berjalan beberapa bulan, tetap saja usahanya belum menunjukkan tanda-tanda perkembangan. Pembelinya ya dari orang sekitar, keluarga dan teman. Untungnya, beberapa rekan saya mau membeli kateringnya karena kami juga butuh makan malam hari dan memang sangat tidak sempat keluar. Mentok-mentok, ya delivery food.
Beberapa saat kemudian, ada teman saya lagi yang menawarkan menu makanan tapi untuk sarapan. Ceritanya pun sama. Ia terkena PHK dan sekarang terpaksa ngojek saat malam hari. Paginya, ia membantu istrinya berjualan nasi kuning sampai siang. Dulunya sih dia bekerja di pabrik di kawasan Sidoarjo. Gelombang PHK juga tampa ampun ikut menghantamnya.
Dua cerita tadi membuat saya makin miris melihat keadaan ekonomi sekarang. Jumlah penjual seakan lebih banyak daripada pembeli. Pekerja yang terkena PHK akan langsung berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mau cari kerja sampai dapat ya keburu kelaparan. Tak jauh-jauh, ibu saya sendiri yang akan memasuki masa pensiun juga berniat berjualan nasi di rumah. Sekarang juga sudah mencicil menjual aneka kebutuhan untuk makanan seperti kardus nasi dan lain sebagainya. Intinya berjualan adalah kunci.
Padahal, indikator kesuksesan ekonomi bukan dilihat dari seberapa banyak orang berjualan. Kalau lebih banyak orang yang berjualan, siapa yang lantas membeli? Jadi, penggerak ekonomi dalam hal ini sektor formal benar-benar menyusut parah. Di tempat kerja saya juga sudah tidak lagi membuka lowongan kerja. Sampai-sampai saya capai memberi jawaban bahwa saya tidak ada info lowongan pekerjaan.Saya hanya bisa bantu untuk mempromosikan secara gratis siapa saja yang mau berjualan. Paling tidak saling support satu dengan lainnya.
Saat berada di jalan, saya juga melihat banyak sekali pedagang berjualan tapi sepi pembeli. Bagaimana tidak sepi, yang mau dibelanjakan juga tidak ada uangnya. Makanya, berhemat adalah kunci saat ini. Kalau sudah begini, apa iya masih mau terus optimis? Sampai kapan?
