Lorong Waktu

Oh ini tahun 1999. Ini tahun 2004. Ini tahun 2009. Ini tahun 2014.

 
Bukan tahun-tahun pemilu, bukan pula bilangan kelipatan tertentu. Tapi saya sekenanya menuliskan tahun-tahun itu yang begitu terkenang di pikiran. Ya, entah beberapa hari terakhir, saya cukup senang melakukan nostalgia sederhana.

Apa pasal?
Entah, saya mulai bosan dengan hal yang bersifat kekinian. Zaman now dan segala jenis rupa. Seakan mundur ke belakang, nostalgia di tahun-tahun tersebut sedikit membuat saya semangat. Sedikit membuat saya membuka cakrawala bahwa saya membutuhkan suatu hal: rehat.

Kenapa saya perlu rehat? Jawaban kembali kepada entah. Entah apa alasannya, mungkin bisa bermuara kepada rutinitas. Ya, rutinitas hari-hari belakangan ini memang menggila. Atau bisa jadi, saya yang terlalu larut dalam rutinitas itu.

Tahun 1999. Di tahun ini, saya mulai mengenal sebuah sinetron yang judulnya sama dengan tulisan ini. Bang Dedy Mizwar beserta Jourast Jourdey, aka Zidane membuat sebuah warna dalam diri saya. Warna yang membuat nostalgia di dalam otak saya benar-benar bekerja.


Sinetron yang mengajarkan saya bahwa ada sesuatu hal yang akan kita petik dari perilaku kita di masa sekarang. Masa yang akan menjadi masa lalu jika dilihat dari masa datang. Lalu, kala pikiran untuk bermalas-malasan datang, dengan segera ia akan bisa dienyahkan. Apa yang enak dari malas-malasan?

Tahun 2004. Untuk kali pertama saya mengenal kegiatan menulis, mengarang, dan segala rupa. Kala itu saya masih mengenakan baju putih biru dan mulai menjadi salah satu tim majalah dinding di kelas. Oke, ini terdengar naΓ―f tapi saya benar-benar bangga kala itu. Padahal, saya hanya bertugas mengisi kolom humor yang sebagian besar saya kutip dari humor jayus di media cetak.

Dengan sedikit sentuhan rekan yang menggambar beberapa motif bunga dan hewan di kertas asturo, tulisan saya pun terpasang. Sayang, saya tidak memiliki ponsel kala itu. Lupakan ponsel. Untuk pergi dan pulang ke sekolah saja, saya harus benar-benar irit. Ya, saya benar-benar miskin. Sedikit ingatan bagaiaman saya pulang sekolah cukup sore adalah salah satu hal masih membekas. Saya mulai menyukai dunia tulis-menulis.

Tahun 2009. Sungguh ini tahun berat. Ya, seragam SMA saya akan saya tanggalkan. Persimpangan demi persimpangan begitu banyak. Saya benar-benar bingung. Persimpangan-perismpangan itu yang membuat saya memilih langkah yang sedikit banyak saya sesali. Kalau saya boleh kembali, saya tak akan memilih jalan itu apapun yang terjadi. Ah sudahlah, itu sudah jadi pilihan saya yang harus saya terima konsekuensinya.

Jadi, di tahun itu dan beberapa tahun sesudahnya, saya hanya bisa menyimpan apa yang saya pikirkan melalui tulisan. Entah ada yang membaca atau tidak. Entah ada yang peduli atau tidak. Saya hanya terus menulis hingga media yang menjadi tempat saya menulis benar-benar tak bisa dibuka lagi.

Tahun 2014. Saya akan mengingat tahun ini. Awal-awal krisis usia 20an mulai terjadi. Bersyukur, saya mengawali krisis ini dengan torehan cukup manis. Tulisan saya, yang bisa dibilang “ya begitulah” terpajang di seluruh took buku Indonesia. Meski dalam bentuk antologi, namun saya masih bisa bersyukur. Paling tidak, hidup saya tidak sia-sia.

Tahun 2019. Hidup saya memang tidak sia-sia. Apa yang harus disia-siakan? Ketika saya mengetik tulisan ini, antara pergolakan batin yang luar biasa, saya kembali meyakinkan diri bahwa Tuhan tidak menciptakan Makhluknya untuk kesia-siaan.

Mungkin, ada pertanyaan. Mengapa saya tiba-tiba berpikiran semacam itu? Jawabannya kembali kepada pembaca masing-masing. Pernahkan Anda merasa hidup Anda sia-sia? Jika ya, apa yang akan Anda lalukan?

Untuk itu, saya bertekad di tahun ini bisa menerbitkan 3 buku solo. Buku pertama sudah siap cetak dan akan mulai terbit bulan Agustus nanti. Buku kedua masih menunggu konfirmasi dari penerbit mayor. Dan buku ketiga masih dalam proses pengerjaan. Jikalau tidak sempat, saya masih berharap masih ada umur untuk melihat buku pertama saya terbit. Itu saja.

Entah, apa yang akan terjadi di tahun 2024. Apakah saya akan meninggal? Atau saya akan tetap hidup dan masih single? Atau mungkin saya sudah menikah dan berputra?

Diantara sangkaa-sangkaan itu, saya hanya bisa sedikit menarik nafas dan mulai menyusun strategi beberapa bulan ke depan. Ya, saya hanya bisa memikirkan itu. Sambil terus menabung apa yang bisa saya tabung dan menulis apa yang bisa saya tulis. Saya, hanya bisa berfokus pada tujuan itu sambil mencoba berbagi dan bermanfaat untuk sesama.

Memikirkan hal lain? Saya rasa tidak ada hal yang perlu dipikirkan. 

Kalaupun ada, saya berkeinginan untuk mengajak teman-teman sekalian yang ingin menerbitkan sebuah buku antologi. Tentang apa? Sementara ini, saya hanya punya 1 topik: traveling. Jikalau buku ini berhasil terbit, ia akan menjadi lorong waktu yang bisa diandalkan.

Kalau ada yang tertarik, bolehlah sedikit masukan di dalam kolom komentar. Sambil menunggu komentar yang masuk, saya mau jalan-jalan ke lorong waktu lagi. Atau jika teman-teman ingin menerima respon saya dengan cepat, bisa hubungi saya di media sosial. Terima kasih.

5 comments:

  1. tak terasa begitu cepatnya melalui hal2 yang tidak mengenakkan berjuang untuk bisa jauh lebih di kehidupan yang akan datang. mesin waktu ke masa lalu tak ubahnya flashback saat masa2 dimana kita merasa tak mampu dan berjuang untuk mampu

    ReplyDelete
  2. memang waktu ceppat sekali berlalu bang kita nggak bisa kembali sekarang waktunya berbuat yang terbaik untuk masa depan

    ReplyDelete
  3. saya juga senang flash back mas, dimana masa lalu adalah masa indah dan zulit lupakan, sesulit melupakan indahnya matahari Pagi, cieee...gue kayak punjangga yah....πŸ˜ƒπŸ˜πŸ˜†.

    dulu saya punya diary kecil, utk menuliskan uneg2, tpi pakai bahasa sandi, biar klu orang baca pada ngak ngerti, heheheh....

    ReplyDelete
  4. yang namanya waktu atau pun momen tak akan pernah terulang lagi. flash back ke masa lalu sangat diperlukan agar kita bisa evaluasi apa saja yang pernah kita lakukan...

    ReplyDelete
  5. Wah .., kira-kira buku topik apa lagi yang akan launching bulan Agustus nanti, ya ..
    Jadi kepo nih, mas Ikrom 😁

    Kalau aku beli bukunya, boleh dong aku minta tanda tangan di sampul bukunya .., ya ... , ya , boleh yaaa ..

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.