Mejejejaki Keharuman Nama Mangkunegara VII di Kota Solo

Solo adalah kota yang cantik, namun menyimpan bara api yang ganas. 

Patung Mangkunegara VII di Pura Mangkunegaran
Ungkapan itu keluar dari beberapa pihak selepas terjadinya gerakan antiswapraja pada masa pergolakan mempertahankan kemerdekaan RI hingga akhirnya berujung pada penghapusan status Daerah Istimewa Surakarta (DIS). Hingga kemudian, pergolakan berlanjut saat kini Solo dianggap kurang memiliki “ruh” sebagai pusat budaya jawa dan simbol kuasa Mataram.

Miris memang melihat kenyataan itu. Namun, bagi saya, Solo tetaplah istimewa. Terutama, jika berbicara mengenai sebuah gerakan modernisasi budaya Jawa yang dilakukan di kota ini dan berimbas pada kota-kota lainnya di Jawa. Modernisasi yang akhirnya bermuara kepada meningkatkan harkat masyarakat Jawa dan membuat Solo menjadi inisiator gerakan perubahan tersebut.

Adalah Mangkunegara VII, seorang adipati penguasa Mangkunegaran yang memulai tahapan ini. Ia memiliki nama kecil R.M. Soerjo Soeparto. Putra dari Mangkunegara V ini namanya begitu harum oleh masyarakat Jawa dan dunia dari kebijakan-kebijakannya saat memerintah antara 1916-1942. Di masa pemerintahannya yang terbilang cukup lama itu, Mangkunegara VII berhasil membawa Jawa pada sebuah perdaban baru yang mungkin tidak dilakukan oleh raja-raja Jawa lainnya.

Untuk menapaktilasi peran Mangkunegara VII dalam menata wilayahnya, saya berkesempatan mengunjungi Kota Solo selama beberapa hari. Saya berfokus mengunjungi wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaan Kadipaten Mangkunegaran. Tak lain adalah wilayah Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Di sini, angin perubahan yang dilakukan oleh Mangkunegara VII sangat terlihat nyata.

Persinggahan pertama saya mulai dari Ponten Ngebrusan. Sebuah bekas ponten, atau banyak orang menyebutnya sebagai kamar mandi umum masih berdiri kokoh. Ponten ini berada di Kampung Kestalan yang tak jauh dari Puro Mangkunegaran. Dari ponten ini, keharuman nama Mangkungeara VII bisa saya rasakan.


Bagaimana bisa dari MCK umum keharuman itu bisa tercium? Bukankah bau anyir yang akan menyeruak?

Ponten ini bisa jadi berbau anyir dan tidak menjadi jujugan wisatawan. Namun, dibandingkan pemandian raja atau putri raja yang tampak jauh lebih megah, ponten ini bagi saya lebih istimewa. Bangunan yang memiliki bentuk seperti bangunan Eropa ini merupakan jerih payah sang raja yang berusaha sekuat tenaga agar rakyatnya terhindar dari penyakit berbahaya.

Ponten Ngebrusan menjadi simbol bahwa ada raja Jawa yang tidak hanya mementingkan urusan pribadi dan keluarganya namun kepentingan rakyatnyalah yang utama. Mangkunegara VII, dengan segala kekurangannya hanya ingin bagaimana agar warga Solo tidak terkena penyakit kolera dan pes. Makanya, ponten ini dibangun pada 1936 dengan bantuan Thomas Karsten, arsitek kenaman Belanda yang juga membangun beberapa kota lain.

Tak hanya membangun secara fisik, namun Mangkunegara VII juga membangun mental warga Solo dalam menjaga kebersihan dan kesehatan. Ponten ini dibangun dengan desain khusus yang membuat penggunanya menjalani kegiatan BAB, BAK, dan mandi secara lebih sehat dibandingkan sebelumnya. Air sungai yang mengalir di sekitar Ponten Ngebrusan juga dikelola dengan semaksimal mungkin. Sang adipati juga kerap blusukan meninjau ponten ini agar tetap bisa melayani warga Solo secara optimal. Akhirnya, warga Solo yang mulanya melakukan kegiatan tersebut apa adanya berubah menjadi lebih baik dan sehat.

Ponten Ngebrusan tidak hanya membangun secara fisik namun juga mental. Hingga kini, meski tidak lagi digunakan, ponten ini selalu dibersihkan.
Selepas puas menjelajahi Ponten Ngebrusan, saya bergeser ke utara. Saya pun memilih Taman Balekambang sebagai persinggahan selanjutnya. Di taman ini, keharuman nama Mangkunegara VII semakin semerbak. Taman ini dibangun oleh Mangunegara VII untuk kedua putri kesayangannya, yakni GRAy Partini dan GRAy Partinah. 

Patung GRAy Partini di tengah kolam Taman Balekambang
Kedua putri Mangkunegara VII ini kemudian diabadikan dalam dua buah patung, yang salah satunya terletak di tengah kolam besar. Walau awalnya keberadaan taman ini ditujukan untuk kedua putrinya dan keluarga raja, nyatanya dalam perjalanannya kemudian, Taman Balekambang dibuka untuk umum dan bisa dinikmati oleh siapa saja, terutama warga Solo.


Kursi taman yang cantik di Taman Balekambang
Di Taman Balekambang ini, saya begitu takjub lantaran aneka satwa, terutama rusa bisa berkeliaran dan berdampingan dengan pengunjung. Mungkin hanya di taman ini dan hanya di Kota Solo saya menemukannya. Saya bisa lebih dekat dengan satwa-satwa tersebut yang tampak asyik makan dan tidur-tiduran. Saya juga masih bisa mendengar kicau burung dan merasakan semilir angin di sebuah kota yang melaju dengan modernitasnya.

Rusa hidup yang mulanya saya kira patung dan akan saya naiki.
Dalam bidang kebudayaan, Mangkunegara VII juga menjadi inisiator pertunjukan wayang wong yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Kalau sebelumnya pertunjukan ini begitu eksklusif ditujukan hanya bagi kalangan istana, di masa pemerintahannya ia mendobrak itu semua.

Bersama salah satu tokoh Tionghoa, Lie Wat Djien, Mangkunegara VII menggelar pertunjukan wayang wong secara terbuka di Sonoharsono. Mangkunegara VII juga mengawali kembali pertunjukan ini karena pada masa pemerintahan pamannya, Mangkunegara VI, pertunjukan tersebut tidak digelar lantaran adanya krisis keuangan kerajaan. Sejak saat itu, pertunjukan wayang wong boleh dinikmati oleh siapa saja. Kegiatan ini kemudian diikuti koleganya, Paku Buwana X yang mengadakan pertunjukan serupa di Sriwedari. Dengan demikian, Mangkunegara VII juga menerobos tembok feodalisme dan penghalang interaksi antara penguasa dan rakyatnya.

Masih dalam bidang kebudayaan, Mangkunegara VII juga menjadi inisiator lahirnya Java Institute. Lembaga ini merupakan hasil dari kongres kebudayaan yang diadakan tahun 1918. Keberadaan Java Institue lalu menjadi pendorong bagi masyarakat luas untuk menggalakkan kebudayaan daerah, tak hanya Jawa namun juga Sunda, Madura, dan Bali.

Berkat Mangkunegara VII, kini Wayang Wong bisa dinikmati siapa saja.
Dengan lembaga ini, Mangkunegara VII juga mengajak masyarakat luas agar lebih giat dalam berliterasi. Berbagai lomba kepenulisan digiatkan. Mengajak masyarakat agar mau menulis dan menuangkan idenya bagi kemajuan bangsa. Sungguh, jika saya hidup pada masa itu, meski masih dalam masa penjajahan, saya akan ikut berpartisipasi.

Ketertarikan Mangkunegara VII dalam semangat literasi ini bermuara pada kegemarannya pada kegiatan menulis. Ia juga pernah menerbitkan buku mengenai perjalanannya selama kuliah di Leiden Belanda dan diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka. Jadi, jauh sebelum travel blogger menulis catatan perjalanan, Mangkunegara VII telah memulainya.

Satu hal lagi yang menjadi catatan, segala usaha Mangkunegara VII ini dilakukan dengan adanya kompromi dengan penjajah Belanda. Ia sadar akan posisinya yang meski berkuasa namun ada keterbatasan dari pihak penjajah. Akhirnya, segala upaya dikerahkan oleh sang adipati dengan tujuan satu. Agar rakyatnya sejahtera.

****

Sumber untuk tulisan remeh ini

(1) (2) (3)

25 comments:

  1. Berkali kali ke SOlo tapi ga pernah tahu ada Wayang WOng, Mau dong nonton huhuhu

    ReplyDelete
  2. Nambah ilmu ponten itu kamar mandi umum khas Solo. Nice info

    ReplyDelete
  3. Itu ponten berapa meter dari mangkunegaran mas? Aku malah baru tau ini.

    Balekambang udah ada playgroundnya juga? Terakhir kesana pas jaman kuliah belum ada. *sepurane mas, aku raiso dijak meet-up xD wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak ngitung mas deket banget kok sekiloan paling

      wkwkw

      iya banyak permainannya

      iya gpp lain kali ya mass hehe

      Delete
  4. Ini depan rumah budhe gw tempatnya. Ya ampun jadi kangen solo

    ReplyDelete
  5. Tamannya banyak foto instagrammable gitu
    Sebagai anak OOTD aku merasa tertantang mas wkwkwk

    ReplyDelete
  6. Wah tamannya menarik dan asik juga untuk piknik nih. Apalgi tempatnya bersejarah gto

    salam
    kidalnarsis.com

    ReplyDelete
  7. Mantab nih Mas Ikrom.
    Jadi makin paham dgn serba serbi Solo.
    Yang jelas, Solo sekarang makin modern bgt yak
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atensinya mbak nurul
      iya solo sekarang sudah modern ya

      Delete
  8. Ini bukan tulisan remeh. Asli berdaging banget. Banyak yang baru aku tahu dari sejarah yang dituturkan dalam artikel ini

    ReplyDelete
  9. Ulasan yang menarik, blogwalking plus dapat ilmu baru tentang mankunegara di artikel ini

    ReplyDelete
  10. Pontennya keren mas bentuknya, untung masih utuh ya bangunannya

    ReplyDelete
  11. ishhh mosok kayak gini tulisan remeh.. ya nggak lah.. hehe Solo buat saya juga istimewahhh.. kayak Jogja juga. . nilai2 sejarah dan budaya terawat dg baik, bukan hanya fisik..

    ReplyDelete
  12. Klasik namun bisa sebagai area foto kekinian. Semoga yang datang ke sini tidak hanya karena ingin berfoto doang tapi juga yang lain lain.
    Pernah merasa merinding atau gimana gitu gak selama di lokasi lokasi ini?

    ReplyDelete
  13. Suka penasaran dengan wisata2 berbau magis. Aneh tapi nyata. Keunikan di Indonesia

    ReplyDelete
  14. Solo masih kental dengan budaya dan kisahnya yaa..
    Kagum aku.

    Masuk ke lokasi ini tidak dikenakan biaya kah?

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.