Harmonisasi Pujian dan Caci Maki

Dalam kehidupan, pasti ada orang yang suka dan tidak suka dengan kita.


 
Ada yang senang dan benci dengan kita. Ada pula yang memberi pujian dan kritik bahkan dan caci maki pada kita. Semua berjalan beriringan begitu indah dan nyaman dan membuat sebuah harmonisasi kehidupan. Mengalun dalam sebuah musikalisasi nada kehidupan yang akan berakhir jika nyawa dalam diri kita telah tiada.

Sayang, tak banyak orang yang menyadari pentingnya harmonisasi ini. Mereka menganggap bahwa hanya nada tinggi – alias pujian – yang membuat lagu kehidupan mereka menjadi sempurna. Mereka menganggap jika nada tinggi tersebut akan memberikan kesempurnaan di dalam hidup mereka. Padahal, jika kita renungkan, di dalam sebuah lagu pasti ada nada tinggi dan nada rendah. Terkadang, diantara dua interval nada, ada batas yang tak kasat mata yang membuat sebuah lagu menjadi kian sempurna.

Itulah kehidupan kita. Pujian, yang dipersonifikasikan sebagai nada tinggi sebenarnya bukan hal yang terlalu menyenangkan. Kalau kita lihat para penyanyi yang sedang menembak nada tinggi, mereka akan sekuat tenaga melakukan pernafasan perut dan teknik menyanyi lainnya agar nada itu bisa sampai. Jika mereka tidak melakukan latihan dan persiapan maksimal, maka nada tinggi tersebut tak akan sampai.

Demikian pula dengan pujian. Untuk mendapatkan pujian yang sebanding dengan apa yang kita lakukan, itu tidaklah mudah. Lengah sedikit, bisa-bisa kita seperti bernyanyi dengan suara fales akibat terlalu PD dengan pujian tersebut. Kalau tak terbiasa berlatih, kita bisa terlalu berfokus pada nada tinggi hingga tak menyadari apa yang ada di depan mata. Beberapa saat selepas nada tinggi tersebut terdapat nada rendah yang juga harus kita nyanyikan.

Nada rendah – hinaan, cacian, dan kritik – yang juga perlu teknik untuk melakukannya siap menghadang. Perlu nafas yang diatur sedemikian rupa agar kita tidak terlalu kaku saat menyanyikannya. Kala cacian, hinaan, aau kritik melanda diri kita, bisa jadi kita harus menarik nafas sebentar. Melihat kembali apa yang sudah kita perbuat dan menyiapkan diri kita untuk mengambil nada tinggi kembali. Menyiapkan diri kita untuk lebih baik lagi. Bukan terpaku pada nada rendah – cacian dan kritik – yang membuat lagu semakin sumbang.

Pola nada tinggi dan nada rendah tersebut akan bergantian. Dicaci dan dikritik lalu dipuji begitu seterusnya. Pada akhirnya, kita akan terbiasa untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Mempersiapkan diri untuk menembak nada rendah. Mempersiapkan diri untuk dikritik, dicaci, bahkan dihina.

Pujian juga bisa bermakna lawan yang paling dekat. Ia akan menjadi lawan terkuat jika kita tak mengantisipasi keberadaannya dengan baik. Tidak mawas diri agar serangan halusnya bisa mengenai hai dan otak kita sehingga kita merasa paling benar sendiri dan paling baik diantara yang lainnya. Ketika tanpa sadar ia menggerogoti kemampuan kita untuk belajar dan berusaha lebih baik lagi, maka disitulah ia akan memberikan pukulan telak. Kita akan merasa di depan padahal sebenarnya jauh tertinggal.

Pun demikian dengan cacian dan hinaan yang sering kita jauhi. Mereka seakan hal yang paling menjemukan dalam hidup yang terus kita hindari. Mereka sering kita anggap menjadi batu sandungan yang membuat kita jauh tertinggal di belakang padahal sebenarnya ada potensi yang bisa kita kembangkan yang membuat kita semakin di depan. Kalau kita bisa merangkul cacian, kritik dan hinaan itu dengan melihatnya lebih bijak lagi, maka percayalah, mereka adalah teman terbaik.

Lawan dan teman yang tak kita sadari ini juga harus kita perhatikan. Jangan sampai kita salah merangkul lawan dan mengenyahkan teman. Jangan sampai kita terlena pada pujian dan tidak mendalami dengan bijak hinaan, kritik, dan cacian pada diri kita. Karena semuanya kembali kepada diri kita sebagai manusia yang memiliki kesalahan dan kelebihan. Yang perlu pujian dan cacian dengan wajar.

1 comment:

  1. Sepakattt.. Yg jelas polakan apapun yg kita lakukan untuk kebaikan. Pokoknya berusaha jd lebih baik terus :)

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.