Karena Realistis Itu Harus

Hidup ini sebetulnya simpel.

Ilustrasi. - CNN.com
Namun, ekspektasi yang berlebihan dalam dirilah yang membuat kita jadi ribet sendiri. Jadi ribet dengan apa yang sebetulnya bisa kita lakukan tetapi karena keinginan kita berlebihan, maka semua yang kita punya menjadi seakan tak berharga.

Punya mobil bagus siapa sih yang tidak melarang. Punya perhiasan yang mentereng juga sah-sah saja. Liburan keluar negeri juga boleh-boleh saja. Semuanya memang wajar-wajar saja karena kalau memang kita mampu dan hal-hal itu kita butuhkan tentu tak masalah. Namun, adakalanya semuanya itu akan menjadi petaka jika didasari oleh dua hal: keinginan untuk menjadi orang lain dan tidak melihat situasi dalam diri.

Poin kedua ini sangat penting. Ini yang sebenarnya menjadi dasar untuk melakukan kegiatan yang bagi banyak orang sebuah utopia. Atau, keinginan yang bagi mayoritas orang sebagai keinginan semu. Ingin begini ingin begitu layaknya kita memiliki Doraemon.

Akibatnya, kita cenderung memaksakan diri untuk melakukan kegiatan –terutama melakukan pengeluaran – di luar kemampuan kita. Peribahasa besar pasak daripada tiang pun akhirnya berjalan. Jerat hutang dan cicilan aneka warna pun menjadi makanan sehari-hari. Kalau sudah begini, siapa yang repot? Makanya, agar tidak terjebak halusinasi dunia yang memabukkan, adakalanya kita harus memerhatikan beberapa hal berikut.

Pertama, susun rencana jangka pendek, menengah, dan panjang.
Keinginan yang bersifat “wah” boleh saja kita masukkan. Saya juga ingin sekali memiliki rumah berlantai 3 yang bisa saya huni beserta calon istri dan anak saya kelak. Namun, saya juga realistis. Rencana ini menjadi proyek jangka panjaaaaaang yang (semoga) bisa saya capai. Sekarang, saya melakukan investasi emas dan tanah, meski belum besar namun konsisten saya lakukan untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Saya mulai dari investasi emas kecil-kecilan dulu. Alhamdulillah, dari investasi yang saya lakukan, saya hampir bisa membeli kavling tanah di daerah pinggiran Kota Malang. Nantinya, jika jumlahnya sudah mencukupi, barulah saya membeli tanah tersebut. Barulah kemudian saya investasikan kembali untuk membeli bahan bangunan. Yang penting, saya tidak memaksakan diri dan konsisten mewujudkan mimpi tersebut.

Saya juga punya rencana jalan-jalan menjelajahi negara Filipina dari 3 wilayah berbeda yang saya total membutuhkan dana hingga puluhan juta. Mimpi ini tetap saya simpan sambil saya mencari dana dari menulis di beberapa media daring yang hasilnya tidak saya otak-atik. Jadi, agar saya tidak terjebak dalam halusinasi, yang penting usaha itu tetap saya jalankan. Entah bagaimana nanti, yang penting ada usaha dulu. Penting yakin.

Kedua, sebisa mungkin saya tidak meminjam uang, baik online maupun konvensional. Dengan meminjam uang, barang sekalipun, saya berkeyakinan akan menjadi penyakit. Ah, nanti kan bisa dibayar kalau gajian atau bisa dicicil. Pemahaman seperti ini malah membuat halusinasi kita makin besar. Halusinasi bahwa saya memiliki banyak uang meskipun sebenarnya saya tak memiliki uang yang cukup.

Ketiga, saya menjauhi segala hal berbau MLM, investasi “aneh”, dan sejenisnya. Saya realistis saja. Mau dapat uang ya kerja. Ada hasil dari pekerjaan kita. Entah barang atau jasa. Untuk barang, sebuah buku sudah saya jual dan untuk jasa, beberapa tulisan dan tentunya jerih payah saya dari mengajar. Hasil dari usaha-usaha tersebut bagi saya ya realistis untuk saya dapatkan.

Bukan dengan menginvestasikan beberapa ratus ribu atau beberapa juta lantas saya akan mendapatkan banyak cuan. Atau dengan hanya mengikuti seminar atau menarik orang, saya akan mendapat keuntungan berupa mobil atau rumah. Bukan maksud saya untuk mengejek rekan-rekan yang berkecimpung di dunia semacam ini, tetapi otak saya terbiasa untuk realistis. Kalaupun harus melakukan investasi yang “cukup berisiko”, lebih baik saya tunda dulu.

Saya lebih memilih yang masuk akal. Seperti, jualan daging olahan beku yang ditawarkan oleh rekan saya. Nantinya, saya akan mendapatkan beberapa ribu sebagai keuntungan saya. Model seperti ini lebih saya sukai. Lebih jelas dan lebih masuk akal untuk dilakukan.

Keempat, selalu tekankan bahwa hidup kita ada yang mengatur. Sesimpel itu. Saya dulu pernah terlalu berekspektasi terlalu tinggi akan sesuatu. Ketika saya gagal mendapatkannya, maka saya akhirnya kecewa dan patah semangat. Sekarang, say amah nothing to loose saja. Apa yang ada di hadapan saya, ya saya kerjakan. Bahkan, kalau kita konsisten melakukannya, bukan tak mungkin, hasil yang jauh melebihi ekspektasi kita akan didapat. Namanya takdir, siapa yang bisa melawan? Yang penting, doa, ikhtiar, dan tawakkal.

Itu saja sih yang bisa saya bagi pada tulisan kali ini. Mimpi boleh tapi halu ya jangan.

1 comment:

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.