Hidup Minimalis Bukanlah Aib

Sejak kecil, saya selalu diajarkan oleh ibu saya untuk hidup apa adanya.

Penampakan kamar saya.
Enggak harus terlihat “wah” dan terlihat superior dibandingkan orang lain. Malah kalau bisa, hidup apa adanya yang penting bermanfaat. Berkat didikan ini, saya kerap “ngeman” menggunakan uang hasil jerih payah saya untuk membeli barang yang tidak perlu.

Baju dan aksesoris yang saya kenakan saya beli di Pasar Besar Malang atau Pasar Denggung Sleman. Itupun kalau memang ada satu baju yang sudah koyak atau tidak cukup. Saya baru beli yang baru dan biasanya saya sekalian membeli yang tahan lama agar bisa digunakan bertahun-tahun. Kalau Anda melihat foto saya Instagram atau medsos lain, mungkin Anda akan menemukan baju saya ya itu-itu saja. Ya karena memang itu baju yang saya punya.

Saya juga tidak membeli barang banyak yang tidak perlu. Hanya kipas angin dan beberapa perlengkapan penting seperti buku bacaan yang ada di kamar – baik kamar pribadi maupun kamar kos. Untuk membeli buku, saya sekarang lebih selektif. Hanya buku yang benar-benar saya bacalah yang akan saya beli. Saya akan membeli buku lagi jika buku yang sudah saya beli sebelumnya sudah saya baca. Jika tidak, lebih baik saya menahan diri untuk membelinya.

Percaya atau tidak, saya tidak memiliki kendaraan pribadi. Motor pribadi sudah saya jual ketika saya pindah dari Malang ke Sleman. Saya lebih memilih menggunakan Trans Jogja dan bus angdes jika bepergian. Jika hanya ke beberapa tempat di sekitar Sleman saja, saya kerap menggukan sepeda milik sepupu saya. Kalau pulang ke Malang, saya tinggal meminjam motor milik ayah atau adik saya. Hidup dibuat sesimpel itu untuk masalah transportasi.

Menu makan yang saya santap pun juga tak jauh dari beberapa menu berikut: sayur sop, sayur bayam, dan tempe. Mengingat saya menderita GERD, saya tidak diperkenankan untuk mengonsumsi berbagai olahan dari santan dan sambal.

Nah, Mas Ikrom kan kerap mengunggah makanan di restoran cepat saji?
Ya itu lantaran ada promo besar-besaran dari dompet digital yang sayang sekali untuk dilewatkan. Naluri manusia untuk tetap hedon tetaplah ada tapi saya juga harus pintar-pintar mengakalinya. Seperti bulan Agustus kemarin, ada promo separuh harga dan promi makan gratis yang pasti saya ambil. Kalau tidak ada promo, ya males.



Menu makan saya sehari-hari.
Nah, yang unik dari gaya minimalis adalah gaya liburan yang saya jalani. Saya tidak –lebih tepatnya menghindari – pamer liburan mewah di media sosial saya. Mulai dari pamer penginapan bintang lima, makan di resort, berjalan di wahana sensasional, dan lain sebagainya.

Saya malah pamer penginapan seharga 30 ribu hingga 50 ribu rupiah yang kerap diolok-oleh rekan saya lantaran saya memaksakan diri berjalan-jalan dengan bujet yang sangat terbatas. Meski begitu, saya hepi-hepi aja. Wong penginapan cuma untuk numpang tidur dan BAB/BAK. Atau bila tidak, saya pamer jalan-jalan ke candi dengan tiket 2.000 rupiah bahkan hanya perlu mengisi buku tamu.


Penginapan yang saya sewa saat liburan. Murah, minimalis yang penting bisa tidur nyaman.
Saya malah tidak punya barang koleksi apapun selain buku. Jam tanganpun baru saya dapat kemarin dari hasil lomba blog. Saya juga hanya memiliki 2 buah, satu dari wali murid dan satu juga dari lomba blog. Jadi kalau ditanya lagi, bagaimana menyingkirkan barang-barang yang tidak penting lha saya enggak punya barangnya juga. Ponsel saya yang sudah rusak, sekitar 3 buah sejak kuliah sudah saya jual semua ke tukang loak. Sama seperti jam dinding dan beberapa peralatan memasak seperti heater dan rice cooker. Rusak ya jual saja.

Uang saya memang lebih banyak tersita untuk transportasi bolak-balik Malang-Sleman. Jadi, selain untuk pengeluaran tersebut, saya tidak pernah ingin membeli ini atau itu. Saya juga bersyukur diberi penyakit GERD parah oleh Allah SWT. Berkat penyakit ini, saya malah jarang – atau hampir tidak pernah – nongkrong di kafe. Kalaupun nongkrong, saya hanya pesan air mineral atau makanan yang tidak memicu perut saya berontak. Makanya, tidak ada pengeluaran pun tiap bulan untuk membei kopi, mocca, dan sejenisnya.

Saya juga memakai skincare murah seharga 50.000 rupiah yang saya beli di Wonokromo saat transit kereta. Itupun saya untung banyak karena jika habis, dua botol skincare kosong bisa ditukar dengan satu botol baru. Hemat, cermat, dan bersahaja.

Itu saja sih yang bisa saya bagi mengenai hidup minimalis. Bagi saya, hidup minimalis ya kita hidup apa adanya sesuai kemampuan kita, tidak perlu iri hati, ingin begini dan begitu sehingga membuat kita merasa kurang dan membeli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita beli. Saya tidak peduli sih omongan orang atau penilaian orang. Daripada memaksakan diri yang ada tagihan pinjaman online saya membengkak. Bisa bahaya dong.

Bagi saya, hidup minimalis bukanlah aib tapi hidup dikejar-kejar rentenir adalah aib yang sesungguhnya.

6 comments:

  1. wahhh luar biasa, mas bisa menerapkan hidup minimalis ya, kalau saya sendiri masih belum bisa. rasanya semua saya butuh haha

    ReplyDelete
  2. Masalah baju atau perlengkapan fashion lainnya, nurut suami saya lelaki emang lebih setia ya....
    Ga akan ganti kalau blm benar2 ga bs dipakai.

    ReplyDelete
  3. Salut mas, selama kita bahagia, nyaman, dan mampu berkontribusi dengan apa yang kita punya, merasa puas, apa lagi yang lebih penting dari itu. 😊

    ReplyDelete
  4. sebetulnya gak apa, asal kita merasa nyaman dan happy

    ReplyDelete
  5. luarbiasa.. sangat menginspirasi. kebetulan saya juga menderita gerd udah hampir 2tahun ini. Semoga bisa ngikutin jejaknya mas ikrom bisa selalu bersyukur. saya mah kebanyakan ngeluh 😞

    ReplyDelete
  6. Jujur sih, saya baru belajar untuk hidup minimalis. Untuk membeli sesuai kebutuhan dan kalo ada yang masuk (barang baru) ada yang harus dijual atau dihibahkan. Salut buat Masnya.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.