I.R. Rais yang Bukan Seorang Insinyur

Sembilan dari sepuluh orang yang menuliskan alamat rumah saya di Malang kerap salah mengucapkan nama jalan yang dimaksud.


Kebetulan, rumah saya berada di Jalan I.R. Rais Kota Malang atau lebih dikenal dengan istilah Tanjung/Mergan. Aneka ekspedisi selalu menanyakan nama jalan tempat rumah saya berdiri dengan ucapan Jalan “Insinyur Rais” – sama halnya dengan gelar Insinyur – pada Soekarno ataupun Haji Juanda.

Padahal, sesungguhnya I.R. Rais bukanlah seorang Insinyur dan tidak akan menjadi Insinyur. Lalu, siapakah ia dan mengapa bisa menjadi seorang pahlawan?

Akronim I.R. pada nama I.R. Rais sesungguhnya adalah Ikhwan Ridwan. Ikhwan – panggilan untuk I.R. Rais – adalah salah satu pahlawan muda yang gugur saat Peristiwa Ampera 1966. Peristiwa yang juga dikenal sebagai peralihan masa Orde Lama dan Orde Baru. Ia adalah salah satu pelajar yang terkena peluru nyasar di depan Hotel Indonesia (HI) Jakarta.

Bersama beberapa pelajar lain, seperti Arief Rahman Hakim, Yulius Usman, Arif Margono, dan tentunya Ade Irma Suryani, I.R. Rais pun ditetapkan menjadi pahlawan nasional belia. Walau penetapan ini mengandung sedikit kontroversi lantaran dilakukan oleh pemerintah orde baru, nyatanya sosok I.R. Rais dan para pelajar lainnya menjadi saksi bisu peristiwa transisi tersebut.

Di beberapa kota, nama-nama pahlawan itu biasanya digunakan sebagai nama jalan dengan jarak yang cukup berdekatan. Di Malang sendiri, Jalan I.R. Rais beririsan dengan Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Ade Irma Suryani. Di dekatnya, ada Jalan A.R. Hakim, Arief Margono, dan Yulius Usman.

I.R. Rais lahir di Teluk Betung Lampung pada 5 Agustus 1951. Ia merupakan anak tunggal dari pasangan Ridwan Rais dan Agung. Ikhwan merupakan anak yang cerdas. Tidak diketahui banyak riwayat pendidikan Ikhwan. Beberapa saksi sejarah menyebutkan ia adalah siswa SMA Negeri 4 Jakarta dan tergabung dengan Pelajar Islam Indonesia (PII).

Masa 1965-1966 merupakan masa kritis dalam upaya pembersihan sisa Gerakan 30 Sepetember. Berbagai demonstrasi yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa kerap mewarnai ibu kota. Tuntutan yang dikenal dengan Tritura terus dikumandangkan. Salah satunya adalah pembubaran PKI dan pembersihan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur PKI.

Sebagai pelajar yang tergabung dalam PII, Ikhwan juga turut dalam bagian ini. Setelah bergabung bersama PII, Ikhwan pun bergabung bersama Kesatuan Aksi Pelajar dan Pemuda Indonesia (KAPPI). Organisasi ini berdiri karena pemerintah Orde Lama telah membubarkan KAMI.

Kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh Ikhwan sebenarnya telah dilarang oleh ibunya. Sang ibunda, Nyonya Agung terus melarang Ikhwan untuk berdemo. Namun, keinginan sang anak untuk menyuarakan aspirasi masyarakat tak surut. Ia pun pergi ke sekitar HI dan akhirnya tertembak beserta beberapa pelajar lain. Ia meninggal dalam usia yang masih muda yakni 14 tahun. Kejadian ini sendiri terjadi pada 30 Maret 1966.

Jasadnya kemudian dibawa ke RSCM. Ikhwan pun dikuburkan di TPU Tanah Kusir. Dan, peristiwa kelam tersebut dikenal sebagai Peristiwa Wisma Marta menarik perhatian masyarakat. Tuntutan untuk membersihkan PKI semakin menguat. Korban-korban yang masih belia itu kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Ampera sesuai TAP MPRS No. XXIX/MPRS/1966. Di Jakarta sendiri, nama I.R. Rais digunakan sebagai nama jalan antara Jalan Merdeka Timur dan Menteng.

Dari pemaparan ini, sudah jelas bahwa I.R. Rais bukanlah seorang insinyur. Pelurusan akan nama ini cukup penting agar masyarakat tahu kisah di balik nama sang pahlawan. Walau diselimuti kontroversi, Ikhwan tetaplah sosok yang patut diteladani.

Bagaimana ia yang masih muda meninggalkan dunia remajanya yang penuh kesenangan untuk menyuarakan aspirasi. Ia juga berani dan tak takut dalam menyuarakan aspirasi tersebut. Ikhwan juga bisa dijadikan contoh bagi para pemuda untuk mengikuti perkumpulan atau organisasi. Yang terpenting, perkumpulan itu memberikan dampak positif. Ikhwan pun menjadi ikon pahlawan pelajar yang gugur di usia muda.


Semoga bisa dijadikan pelajaran.

Sumber :
(1) (2)

3 comments:

  1. Masyarakat sering salah kaprah ya....
    Btw, aku pun baru tahu kok meski sempet bertanya-tanya.
    Kalai insinyur kan Ir. tapi ini I.R penulisannya beda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang benar I.R. Rais mbak
      makanya saya bilang 90% pasti mengira insinyur
      kalau Ir. bisa digunakan untuk Ir. Soekarno atau Ir. H. Juanda karena memang seorang insinyur

      Delete
  2. Kalau insyinyur kan Ir, bukan IR, jadi sebelum saya kelar membaca saya sudah mengerti, pasti kepanjangan dari namanya.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.