Mewujudkan Resolusi ala Lagu JKT48


Member JKT48. - Okezone.com
Ah, saya senang sekali menutup tahun 2019 ini.

Tahun yang membuat hidup saya sedikit berubah lebih baik. Walau tentu, ada pahit di dalamnya, tetapi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, nyatanya saya harus lebih banyak berucap syukur. Pencapaian karir yang melebihi ekspektasi, kesehatan lambung yang mulai membaik, hingga sederet hal lain yang membuat saya bahagia.

Saya pernah menutup pergantian tahun dengan sendu. Selain tak tercapainya beberapa tujuan di awal tahun, ada beberapa hal yang saya alami membuat saya malah terus-menerus terpuruk pada penyesalan sendiri. Menyesali pilihan yang sudah saya ambil dan membandingkannya dengan pengandaian jika saya memilih yang lain.

Namun, seiring perjalanan waktu, dengan sering mendengar lagu-lagu JKT48, saya sadar bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kita rencanakan. Tidak bisa kita resolusikan sebagai acuan. Dan, tentunya tak bisa kita sesali jika apa yang kita inginkan itu tidak tercapai.

Ketika melihat mentari senja pergantian tahun, kadang saya diingatkan untuk melihat kebahagiaan yang saya alami dibandingkan kesedihan yang saya dapat. Mengikhlaskan apa yang hilang karena pada suatu saatnya nanti pasti keinginan kita akan tercapai. Cepat ataupun lambat.

Makna lagu berjudul Apakah Melihat Mentari Senja ini coba saya putar ulang dan saya maknai. Walau susah, segala kesedihan dan kekecewaan yang saya alami coba saya hapuskan. Tentu, di dalam lagu tersebut termaktub untuk tidak memendamnya seorang diri. Bercerita pada teman, keluarga, ataupun orang terdekat sangat dibutuhkan. Artinya, saya melihat kembali seberapa bahagia saya bisa berbagi keluh kesah dan rasa senang dengan orang sekitar. Kebahagiaan yang ingin saya tingkatkan di tahun 2020 ini. Sesimpel itu resolusi pertama saya.






 
Tak hanya itu, dengan pergantian tahun, saya ingin melangkah hanya melihat ke depan. Karena, jika menoleh, hanya kesia-siaan yang saya dapat. Penyesalan dan kekecewaan dan tentunya keragu-raguan untuk melangkah ke depan. Dan juga, jika terus melihat ke cermin ke belakang, akan muncul rasa takut untuk memulai hal baru dan memantapkan pilihan. Makanya, saya selalu membulatkan tekad untuk berani mengambil pilihan yang bisa jadi mengubah hidup saya. Pilihan yang bisa jadi berbeda dengan banyak orang.


Semua impian tak akan bisa dicapai jika ada setitik kejelekan di dalam hati. Makanya, saya selalu ingin menggunakan baju putih untuk melewati tahun 2020. Karena, dalam menjemput impian, kadangkala ada rintangan, kegagalan, rasa sakit dari orang lain, dan lain sebagainya.

Dengan baju putih – hati yang bersih – meski sudah robek di sana-sini, itu tak mengapa. Pergantian tahun layaknya mencuci baju putih yang kotor. Saat mencuci kesedihan, mungkin ada kalanya menangis, ingin berteriak, dan lain sebagainya. Yang penting, baju itu kembali putih lagi untuk digunakan lagi di tahun depan.



Jika semangat sudah mulai tumbuh, maka jangan terburu-buru memulai perjalanan di tahun depan. Petimbangkan kembali dengan sedikit belajar kegagalan di tahun kemarin. Tidak untuk terpaku untuk melihat hidup orang lain dan bangga terhadap hidup yang sedang dijalani. Dengan begitu, kita akan lebih bisa fokus dan semangat untuk menyambut musim yang selanjutnya. Lebih memiliki tenaga untuk berkarya dan berusaha bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Itu semua bermuara pada peran kita yang memegang estafet generasi penerus bangsa. Kalau mudah galau dan tak bisa move on, bagaimana bisa menjawab tantangan di tahun 2020 ini?


Jika tenaga itu mulai terisi, maka tak akan ada lagi ketakutan untuk menerima rasa luka dan sakit. Alasannya, luka dari kepahitan hidup yang bisa jadi akan dialami di tahun depan. Inilah yang bagi saya puncak resolusi dari pergantian tahun. Rasa ketidaktakutan untuk menerima hal-hal perih itu semua. Kalau keberanian itu muncul, maka segala luka itu akan menjadi rasa kedewasaan. Rasa yang seharusnya terus berkembang tiap tahun. Bukankah tiap kita selalu menua? Harus lebih dewasa dan bisa menerima luka yang bisa jadi sulit untuk disembuhkan.





Tak mudah memang membuat resolusi saat pergantian tahun. Meski demikian, bagi saya, yang penting saya bisa memaknai apa yang disiratkan dalam lagu-lagu tersebut. Memiliki resolusi boleh. Ingin lebih baik juga sangat dianjurkan. Namun, jangan lupakan untuk menjalani kehidupan dengan hati yang bersih, menghargai usaha yang telah dilakukan, bercerita pada orang terdekat jika ada hal mengganjal, dan tentunya berani mengambil keputusan dengan tepat.

Bagaimana dengan resolusi Anda? Bagaimana caranya untuk mewujudkannya?

4 comments:

  1. Baca bagian ini:

    Makna lagu berjudul Apakah Melihat Mentari Senja ini coba saya putar ulang dan saya maknai. Walau susah, segala kesedihan dan kekecewaan yang saya alami coba saya hapuskan.

    Rasanya touchy banget, saya kaya ikut ngerasin kesedihan, kecewa..mungkin karena semua orang related sama rasa0rasa itu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya lagu ini touchy banget mbak apalagi yg nyanyi banyak dari Gen 1 golongannya melody nabila haruka

      hehehe

      Delete
  2. kata - katanya dalem banget sih bang hehe, apalgi ini nih "Semua impian tak akan bisa dicapai jika ada setitik kejelekan di dalam hati" kesentil banget di kata - kata ini, terimakasih lho bang Ikrom ;)

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.