Pengalaman PKL dan Merantau di Pabrik Gula Kediri

 

Sebagai anak rumahan sejati yang dari lahir hingga kuliah di rumah saja, momen merantau ke luar kota saat PKL adalah momen paling mengesankan dan bikin uwu.

Kalau biasanya saya hanya 4-5 hari pergi keluar kota bersama rombongan sekolah untuk study tour atau ikut olimpiade nasional, masa PKL jauh lebih lama. Ya meski hanya sebulan sih tetapi bagi saya itu amat sangat lama sekali. (Maaf ya uda Ivan Lanin atas kelebay-an saya, hehe).

Sebulan itu lama lho apalagi dengan kondisi lingkungan baru dan tekanan kerja yang hampir sama dengan orang bekerja. Yah meski masih berstatus PKL dan memakai almamater kampus, tetap saja stres membayangkan bagaimana nanti ke depannya sangat membuat hati ini dag dig dug.

Berawal dari drama

Tempat PKL yang menjadi tempat saya belajar adalah sebuah pabrik kolonial yang berada di Kota Kediri. Pabrik ini berada tepat di tepi Sungai Brantas yang sangat besar. Sebenarnya, saya – lebih tepatnya bersama 3 rekan saya lain – tidak berniat ke tempat ini.

Alasannya, dulu kami sempat mengajukan proposal ke sebuah parik lem di Probolinggo Jawa Timur. Kami sudah sempat pede karena kakak tingkat kami yang merekomendasikan tempat PKL-nya. Eh beberapa minggu sebelum PKL berlangsung, proposal kami ditolak.

Alhasil, saya mencari tempat PKL yang bisa menampung para mahasiswa jurusan Kimia seperti kami. Rata-rata teman-teman sudah dapat. Untungnya, rekan ayah saya yang bekerja di pabrik tersebut bisa memberi jalan agar kami bisa PKL di sana.

Tetapi, ternyata kami harus membuat surat ke PTPN X yang berada di Surabaya karena segala administrasi dari pabrik tersebut dikendalikan oleh PTPN X. Dan tak lama, kami pun mendapat balasan bahwa proposal PKL telah disetujui. Kami harus mengambil surat tugas PKL selama satu bulan di Surabaya.

Kos dekat rumah nenek

Selepas surat tugas PKL sudah kami dapatkan, kami pun bersiap untuk mencari tempat kos di Kediri. Untungnya, rekan ayah saya yang “memasukkan” kami memiliki rumah yang amat besar. Bisa dibilang mewah.

Jadi, kami menempati lantai dua rumah beliau. Uniknya, rumah tersebut hanya beberapa meter dari rumah almarhum nenek saya. Nah saya kebetulan adalah cucu kesayangan beliau yang kedatangannya selalu ditunggu.

Maka, sebulan PKL di sana menjadi berkah bagi nenek saya. Beliau sangat excited dan bahkan sudah woro-woro ke satu desa bahwa cucunya dari Malang sedang PKL. Asli, ini pengalaman dan kenangan yang paling uwu.

Kenapa saya tidak tinggal di rumah nenek saya saja?

Alasannya kami tinggal berempat dan tidak ada kamar di sana. Tak hanya itu, rekan saya juga butuh privasi dan juga beberapa fasilitas penunjang lain. Sementara, rumah almarhum nenek saya ya rumah sederhana. Kalau saya sendirian sih tak masalah ya. Tapi karena saya beserta teman saya, maka lebih baik saya mencari tempat lain dan untungnya masih kerabat sendiri.

Makan bersama. Saya masih kurus pakai banget ya..

Lucu juga menjalani hari-hari di perantauan karena kami makan di warung yang juga dikelola saudara saya. Menu sambal pecel dan nasi tumpeng menjadi menu sehari-hari kami. Saking murahnya, teman saya sampai heran karena harga nasi pecel dan tumpeng hanya 4 ribu saja kala itu.

Selama tinggal di kos sebenarnya tak banyak kegiatan yang kami lakukan karena sudah capai seharian bekerja di pabrik. Jadi, paling-paling kami melihat TV. Saya ingat saat itu zamannya Indonesian Idol yang mempertemukan Regina dan Sean. Teman saya suka sekali menunggu acara tersebut. Kalau saya sering memutar lagu K-POP semacam Big Bang dan kawan-kawan.

Oh ya karena dekat dengan nenek maka beliau sering sekali datang ke tempat kos kami. Ada saja makanan yang beliau bawa agar kami tidak kelaparan. Untungnya, ibu kos kami sudah kenal baik dengan nenek dan seringkali malah ikut menunggu bersama nenek sebelum kami pulang sore hari.Jadi, tiap saya pulang, nenek saya selalu membawakan buah-buahan seperti sawo dan mangga, kerupuk pasir, dan kadang nasi untuk memastikan agar saya tidak kelaparan.

Drama dan Keseruan di Pabrik

Yang jadi cerita banyak adalah drama di pabrik. Saya sebenarnya senang PKL di sana karena sebagian besar orangnya baik-baik. Jauh dari persepsi banyak orang dan kakak tingkat yang mengatakan bahwa kehidupan di pabrik amatlah keras. Penuh intrik dan permainan. Ya barangkali ada tapi saya tidak mengalaminya.

Kami setiap hari bekerja dengan seorang laboran bernama Mas Dian. Beliau adalah laboran yang bertugas di bagian QC. Beliau adalah bawahaan dari pembimbing kami bernama Pak Nyani yang merupakan semacam kepala bagian dari QC pabrik gula tersebut.

Kami jarang bertemu dengan Pak Nyani dan lebih sering bersama Mas Dian. Kalau bertemu Pak Nyani hanya presentasi hasil kerja kami selama seminggu dan meminta feedback dari beliau. Kalau dengan Mas Dian malah banyak hal yang kami lakukan.

Mulai menyiapkan sampel, melakukan titrasi asam basa, mengecek pH larutan nira, tetes tebu, dan kawan-kawan, hingga melakukan pengukuran pol dan brix. Semacam kadar gula dalam larutan nira. Semua pengujian tersebut tentu harus dibuat setepat mungkin.

Lagi boring di dalam pabrik

Saya salut lho dengan Mas Dian karena beliau harus melakukan kurang lebih 10 macam analisis tiap hari. Setiap analisis memerlukan sekitar 6 sampel. Jadi kalau dihitung bisa sampai 60 kali pengujian. Untungnya kami berempat ya jadi kami bergantian melakukan beberapa kegiatan. Kalau saya sih suka menguji pengukuran pol dan brix karena tinggal memasukkan larutan ke dalam refraktometer dan tinggal membaca skalanya. Berbeda dengan analisis lain yang kadang menunggu proses pemanasan dan pendinginan.

Tapi, ketika kami berkeliling pabrik, kadang rekan saya yang wanita mendapat perlakuan yang cukup bikin eneg. Semisal disiutin oleh beberapa pekerja dan ada mandor di bagian tertentu yang cukup perez. Meski demikian masih dalam wajar sih karena bisa jadi isi pabrik hampir semuanya laki-laki dan biar suasana tidak tegang. Saya masih ingat seorang pekerja di bagian penggilingan yang malah cerita ngalor ngidul padahal kami hanya bertanya seputar prosedur tebu yang boleh masuk bagian tersebut. Namun, bagi kami masih wajar kok dan rata-rata pekerja di sana ramah-ramah dan sangat membantu tugas kami.

Ada juga cerita dari seorang pejabat pabrik yang kerap disebut sebagai dokter gula. Saat pertama kali datang, beliau yang bertugas mengantarkan kami ke bagian tertentu. Nah, dalam proses tersebut beliau bercerita bahwa tangannya pernah masuk mesin pengepakan sehingga hampir diamputasi. Saat kami PKL, tangan tersebut masih diperban.

Beliau bahkan memberikan video detik-detik ketika baru saja dievakuasi dari mesin tersebut dengan darah yang bercucuran. Asli, saya langsung tidak mau dekat-dekat dengan mesin tersebut dan hanya sehari mengambil informasi. Kata beliau, ketika akan menghilangkan sumbatan mesin tersebut dengan tongkat kecil, tiba-tiba menurut pengakuan beliau ada yang mendorong. Ngeri juga. Cerita selengkapnya pernah termuat pada laman portal nasional lho.

Ceria bersama adik-adik SMK

Yang membuat kegiatan PKL lebih berwarna adalah kehadiran adik-adik SMK yang kebetulan satu leting dengan kami. Hanya saja, karena mereka dari SMK, tentu kegiatan pun juga berbeda. Mereka sudah mendapatkan semacam LKS dari sekolah yang harus mereka isi. Sementara kami harus membuat kegiatan kerja sendiri beserta tugas menghitung neraca massa dan tentunya analisis laboratorium hasil uji yang kami lakukan.

Meski demikian, kadang kami bertemu di bagian yang sama. Yang sering itu adalah bagian penguapan. Di sana ada semacam tempat duduk panjang yang bisa kami gunakan rehat sejenak. Lumayan lho setelah berkeliling pabrik dan capai juga menulis ini itu.

Adik-adik SMK
Adik-adik SMK

Tapi akhirnya kami punya basecamp di dekat musala yang dekat dengan Sungai Brantas. Sungguh, setelah seharian berkeliling dan menunggu waktu pulang rasanya senang sekali. Biasanya kami menyelesaikan laporan bersama di sana karena di dalam pabrik tak ada tempat yang bisa digunakan.

Foto perpisahan
 

 

Foto lagi

Foto terus
 

Adik-adik itu lucu juga ya. Ada saja cerita mengenai pegawai pabrik A, B, dan C yang jadi bahan perbincangan. Kalau tidak ada mereka rasanya kegiatan PKL terasa hampa. Sayangnya, kami harus meninggalkan mereka karena masa PKL kami telah usai.

Itulah sedikit cerita pengalaman merantau pertama saya. Kalau diingat-ingat ya lucu juga dibilang merantau ya merantau tapi ya tempat tinggal saya dekat dari rumah nenek. Meski demikian, ini pertama kali saya benar-benar jauh dari orang tua dan belajar hidup mandiri selama sebulan.

12 comments:

  1. Pengalaman PKL yang berkesan ya di pabrik gula Kediri.
    Jadi teringat aku juga dulu saat kuliah pernah PKL satu team 4 orang. Lokasi PKL di pabrik plastik Pandaan tapi hanya 2 minggu dan kami ngekos juga.
    Masuk ke pabrik melihat cara pembuatan plastik.
    Btw memang cukup sulit sich mendapat perusahaan untuk lokasi tempat PKL kalau nggak ada kenalan.Kebanyakan proposal bisa ditolak. Kebetulan saat itu di pabrik plastik ada saudara yang bekerja di sana dan menduduki posisi cukup tinggi di sana jadi proposal PKL kami jadi lebih mudah disetujui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga sempat mau ke pandaan mbak tapi gajadi hehe
      iya harus ada orang dalam ya buat diterima

      Delete
  2. Wah.. Pkl nya di pabrik gula ya mas. Saya baru tahu kalau di pabrik gula juga ada QC. Kalau saya dulu psg alias pkl nya di bank karena jurusannya emang akuntansi. Tapi saya malah bantuin tellernya manggilin orang-orang yang mau pinjem atau bayar utang😂 meski begitu tetep berkesan juga sih. Tapi saya nggak sampai ngekost, tiap hari bisa pulang naik sepeda motor sama temen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada mbak malah penting QCnya

      hahahahha kok bisa se jadi belajar galak dong wkwk

      Delete
  3. Serunyaaa pengalaman PKL begini yaa ..., aku jadi keingetan PKL alias job trainning di Bali.
    Hampir tiap malam kalau ngga keluyuran yaa .. ajeb-ajeb ke diskotik wwkkk!.

    Aku menebak-nebak nih lihat foto caption di foto perpisahan, foto lagi dan foto terus ..., mas Ikrom yang mana ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha yang mana ya

      asyik mas klo ajeb ajeb terus

      Delete
  4. Unik juga pengalaman PKL nya di pabrik gula ya mas Ikrom, untungnya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan. Soalnya katanya pabrik gula itukan usianya sudah ratusan tahun jadi kadang ada penunggunya.😱

    Selain rombongan mas Ikrom, ada juga siswa SMK yang lagi LKS di pabrik gula itu. Oh ya, ngomong ngomong sebulan PKL disana dikasih duit apa ngga? Kan ikutan kerja juga.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga dapat mas hehehe
      klo penunggu alhamdulillah engga ada aman aman saja

      Delete
  5. deket rumah nenek asik donk, di pabrik gula hati hati ntar diabetes

    ReplyDelete
  6. Mantep pkl di pabrik gula.. dulu waktu kuliah di semarang yah saya hampir dpet pkl di pabrik gula madukismo jogja.. Tapi malah di tarik sama perhutani di pabrik gondorukem dan terpentin. seru beud karena kita main muter2 di hutan pinus.

    ReplyDelete
  7. Aku pertama kali jauh dari rumah...pas KkN..awalnya, homesick
    ..ga bisa tidur, pengennya pulang. Waktu itu satu unit 7 orang...beda fakultas, beda jurusan. Kenal pas KKN itu.. jd kebayang, langsung serumah sama tmn2 yang masih asing.

    Tapi seiring berjalannya waktu...semakin akrab sama penduduk di lokasi KKN, semakin mengenal tmn2...malah jadinya males pulang. Sayang...KKN cuma dua bulan...tapi beneran, moment ga terlupakan

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.