Menjejaki Rumah Kos Peneleh Surabaya, Tempat Kos Para Tokoh Politik Beda Aliran

rumah peneleh surabaya
Rumah Peneleh Surabaya

Saya masih terengah di tengah panasnya Kota Surabaya.

Lima jam transit di Kota Pahlawan membuat saya bingung harus ke mana. Kalau biasanya saya naik KA Logawa dan baru tiba sekitar pukul 3 sore, hari itu kebetulan saya mendapat tiket KA Sri Tanjung. Sudah jam 1 siang saya tiba di Stasiun Surabaya Gubeng.

Maksud hati sih ingin pergi ke Mall. Namun, apa iya saya harus ke tempat belanja itu untuk kesekian kali. Tiba-tiba saja tercetus ide untuk pergi ke museum. Kala masih terengah dari pintu keluar stasiun menuju sebuah hotel untuk mencari ojek daring, saya masih belum mendapatkan wangsit. Hingga akhirnya saya teringat untuk ke daerah Peneleh yang tak jauh dari stasiun tersebut.

Baca juga: I.R. Rais, Pahlawan Muda yang Bukan Seorang Insinyur

Saya langsung memesan ojek menuju Gang Peneleh. Kawasan yang tak jauh dari Tunjungan. Di sana, ada sebuah tempat bersejarah yang amat penting bagi perjalanan bangsa ini. Tempat tersebut adalah Rumah Peneleh atau disebut juga Museum HOS Tjokroaminoto.

Saya diturunkan oleh driver ojek tepat di gang tersebut. Saya yakin gang tersebut benar karena dari depan gang sudah tampak rumah bercat hijau dengan bendera merah putih di depannya. Saya pun melangkahkan kaki masuk ke gang tersebut.

Akan tetapi, mata saya kemudian beralih kepada sebuah toko buku yang menempati sebuah rumah kuno. Ah, toko ini eksotik sekali. Bercat putih dengan warna jendela kuning coklat, membuat saya teringat pada beberapa penggambaran di novel Student Hijo. Ternyata, toko buku ini juga merupakan bangunan bersejarah.

 

rumah peneleh surabaya
Toko Buku Peneleh Surabaya

Toko buku ini merupakan milik keluarga Abdul Latif Zein yang juga memiliki usaha percetakan. Kompleks rumah mereka pun tak jauh dari toko buku ini dan masih berada di kawasan Peneleh. Saya hanya memotret sekilas toko buku tersebut. Perlu waktu lama untuk bisa menjelajahinya karena saya tipe orang yang bisa berjam-jam di toko buku. Makanya, saya langsung masuk ke museum yang diresmikan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini sekitar tahun 2017 tersebut.

Baca juga: Mengenang Pahlawan Pergerakan Kemerdekaan di Museum Kemerdekaan Jogja

Saya disambut oleh petugas museum, seorang bapak yang duduk di kursi tamu antik di rumah itu. Ia memberi saya sebuah kertas berisi identitas dan kesan pesan saat mengunjungi museum ini. Tak ada tiket masuk yang dibebankan kepada pengunjung. Hanya saja, jika sebagai pengunjung yang baik, alangkah eloknya jika kita menjaga kebersihan dan ketenangan saat berada di sana.

rumah peneleh surabaya
Foto mengenai perjalanan HOS Tjokroaminoto yang dipajang sesuai urutan waktu.

Museum ini sebenarnya adalah rumah dari HOS Tjokroaminoto. Beliau adalah pendiri Sarekat Islam, salah satu organisasi pergerakan kemerdekaan yang banyak diikuti oleh saudagar muslim dan para tokoh muslim lainnya. Rumah ini sendiri terbilang cukup sempit. Hampir sama dengan rumah di perkampungan Kota Surabaya yang begitu minimalis. Walau begitu, entah karena sudah jadi museum, saya suka penataan barang-barang di dalamnya sehingga masih terkesan lega.

rumah peneleh surabaya
Saya suka ruangannya yang ditata cukup lega

Ada banyak foto dan pemaparan mengenai jejak kehidupan tokoh yang dijuluki sang raja tanpa mahkota ini. Julukan bagi beliau karena berhasil mengorganisasi salah satu perkumpulan massa terbesar di Indonesia. Tidak hanya itu, beliau juga menjadi bapak kos sekaligus mentor bagi beberapa tokoh politik Indonesia yang kemudian bersebrangan. Mereka adalah Bung Karno, Musso, Alimin, Semaun, dan SM Ketosuwiryo. 

rumah peneleh surabaya
Kartosuwiryo, Alimin, Muso, dan Semaun yang pernah ngekos di Rumah Peneleh bersama Bung Karno

Bung Karno sendiri dikenal sebagai sosok nasionalis yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Musso, Alimin, dan Semaun dikenal sebagai tokoh yang lekat dengan perkembangan komunisme di Indonesia sehingga lahir Partai Komunis Indonesia (PKI). Nah SM Kertosuwiryo sering dinarasikan sebagai ekstremis islam dan gembong pemberontak DI/TII yang akhirnya ditembak saat era pemerintahan Bung Karno. Sungguh, banyak yang tak menyangka para tokoh politik beda aliran itu ternyata pernah tinggal serumah.

Baca juga: Mengenang Hotel Talagasari, Hotel Inapan Kasus Korupsi

Tak hanya tinggal serumah, mereka juga kerap berdiskusi mengenai perjuangan kemerdekaan, sejarah bangsa, dan lain sebagainya. HOS Tjokroaminoto sering membuka diskusi para pemuda yang tinggal di rumahnya itu. Dan, tentu bisa ditebak, diskusi asyik pun sering terjadi. Berbagai pertanyaan seputar hubungan Belanda dan Indonesia terlontar. Hampir semuanya –terutama Bung Karno – amat kritis dengan apa yang terjadi saat itu.

Lantaran penasaran, saya pun meminta izin untuk melihat dari dekat kamar para tokoh politik tersebut. Petugas museum mempersilakan saya untuk naik ke tangga menuju kamar mereka. Ternyata, kamar ini berada di loteng rumah yang tak terlihat dari luar. Asli, saya kaget dan cuku ciut juga ketika menaiki tangga dengan cukup curam itu.

rumah peneleh surabaya
Tangga menuju kamar kos

Sesampainya di atas, saya semakin takjub. Di kamar itu hanya ada alas tikar pandan dan lampu templek sebagai penerangan. Selain lampu templek, penerangan berasal hanya dari dua lubang udara yang cukup sempit. Ah, betapa ngilunya saya membayangkan kos di sana. Wong saya kos di Jogja tanpa kipas angin saja walau sudah ada kasur dan wifi rasanya sering mengeluh. Benar-benar ya orang zaman dulu begitu tahan dengan kerasnya kehidupan.

rumah peneleh surabaya
Suasana kamar kos Peneleh yang sempit

Saya tak bisa berlama-lama di dalam ruangan itu karena ya takut saja sendirian. Tapi meski demikian, saya sudah bisa merasakan sejenak masa-masa tokoh politik itu saat kos di sana yakni sekitar tahun 1910an. Bagaimana mereka semua berdiskusi di kamar itu atau membaca buku-buku untuk menambah pengetahuan mereka.

Selain mengajak berdiskusi, HOS Tjokroaminoto juga mengajak para anak kosnya untuk menggalakkan literasi. Makanya, ketika saya turun dan menjelajahi sisi lain dari museum ini, ada banyak buku dan tulisan seputar perjuangan kemerdekaaan. Memang, tulisan masih menjadi salah satu alat ampuh bagi perjuangan kemerdekaan. Dan pastinya, tanpa membaca, tidak akan bisa dihasilkan tulisan yang berkualitas. Ini menjadi dasar dari gerakan literasi yang digaungkan oleh HOS Tjokroaminoto kepada anak kosnya.

rumah peneleh
Lorong rumah Peneleh
 

Alhasil, walau mereka bersebarangan secara pandangan politik, tetapi mereka memiliki prinsip yang kuat. Sayang memang melihat mereka yang awalnya satu naungan rumah kos menjadi bersebarangan. Tapi ya apa mau dikata, sejarah telah mencatat demikian.

Ruangan terakhir yang saya jelajahi adalah kamar tidur HOS Tjokroaminoto dan istrinya, Suharsikin. Keduanya memang terkenal menjalankan usaha kos-kosan yang amat terkenal pada masa itu. Tak kurang sekitar 15 hingga 20 anak kos tinggal di sana. Bisa dibayangkan kan betapa sesaknya rumah itu.

rumah peneleh surabaya
Kamar tidur HOS Tjokroaminoto dan istrinya

Usaha kos-kosan ini sempat terhenti sejak meninggalnya Suharsikin pada 1921. Tjokroaminoto kemudian pindah ke Yogyakarta bersama istri barunya. Meski demikian, ternyata di Peneleh juga menjadi tempat kos para tokoh bangsa lain seperti Ruslan Abdul Gani. 

rumah peneleh
Sosok istri dari HOS Tjokroaminoto

Sekitar 30 menitan saya mampir di rumah sederhana itu. Walau singkat, tetapi saya puas dan kunjungan ini amatlah bermakna. Betapa tempat sederhana ternyata bisa menghasilkan tokoh-tokoh yang berkualitas. Saya pamitan kepada penjaga museum yang masih memutar lagu perjuangan bangsa walau museum itu akan segera tutup.

Saya berjalan keluar arah Gang Peneleh dan melintasi sebuah sungai. Meneruskan perjalanan ke Stasiun Wonokromo untuk menunggu kereta Penataran yang membawa saya pulang ke Malang.

 

*) Perjalanan ini saya lakukan sekitar awal 2019.

17 comments:

  1. Wah toko buku penelehe vintage banget, jadi pengen ke situ, kebetulan aku suka nek hawa hawane ada histori jaman2 kemerdekaan

    Daaannn tangga menuju kamar kos politisi beda aliran alas pandan tok, takjub..tangganya juga kecil ya mas pijakane tapi resik hihi

    Btw terakhir aku salfoks ama foto istri hos cokroaminoto

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak vintage banget

      tanggane kecil makane aku takut bangetjatuh apalagi aku kan gemuk hahahah

      istrinya cantik ya mbak

      Delete
  2. kirain barusan ke sana
    ternyata late post ya
    saya aja baru tau ya,
    sudah 4 tahun di surabaya baru tau kalau ada museum di peneleh ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ini tahun 2018

      lah masak mas?
      deket tunjungan lo ini

      Delete
  3. Aku jadi salfok sama toko bukunya. Jadi ingin tahu isinya seperti apa 🤭
    Aku sendiri juga suka suasana dan desain di rumah-rumah kuno seperti ini, rasanya berbeda tentunya.
    Nggak kebayang juga kalau harus ngekos dan tidurnya hanya beralaskan tikar seperti itu dan sirkulasi udara yang minim, apa nggak sesak ya :')
    Tapi dari ruangan sempit inilah para pemikir-pemikir hebat bisa lahir. Kerenn.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak saya juga penasaran
      sayang udah keburu ngejar kereta huhu

      pasti sesak
      saya yang cuma 10 menit coba duduk di situ udah ngap mbal
      bener dari keterbatasan itu lahir pemikir ulung

      Delete
  4. Oh ternyata rumah Peneleh itu dahulu miliknya HOS Cokroaminoto yang dijuluki raja tanpa mahkota karena bisa mengorganisir salah satu perkumpulan besar di Indonesia yaitu Sarekat Islam.

    Ternyata Bung Karno, Musso, Alimin, bahkan Kartosuwiryo dulu pernah ngekos di rumah tersebut ya. Padahal mereka itu tokoh tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana pengaruh HOS Cokroaminoto.

    Tempatnya agak unik ya mas Ikrom, pastinya banyak sekali sejarah di rumah Peneleh itu. Salah satu museum yang harus dijaga agar generasi muda bisa tahu sejarah Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas bener banget
      ini harus dijaga buat para generasi bangsa

      Delete
  5. bisa dibilang HOS cokrominoto itu guru dari para pahlawan pergerakan nasional. Murid-muridnya banyak berkiprah dalam perpolitikan melawan pemerintah kolonial. Yang paling terkenal Bung Karno. Sang proklamator

    Toko Buku ini menjadi saksi bisu lahirnya para pahlawan pergerakan nasional.

    ReplyDelete
  6. Waaaaah 😍😍😍

    Lihat foto di lantai atas (loteng) itu merinding saya. Membayangkan para tokoh nasional pernah ada di sana, belajar, berdiskusi dan memikirkan masa depan bangsa. Terus tidurnya tanpa kasur pula. Perjuangan yang luar biasa ~

    Terus lihat kamar Hos Cokro dengan kelambu putih feels-nya terasa jadoel sekali, mas 😍 suka baca sejarah singkatnya. Hehehe. Sudah lama nggak baca soal sejarah-sejarah kemerdakaan, terakhir baca di blog mas Rudi kalau nggak salah 😆

    Ditunggu cerita perjalanan lainnya, mas Ikrom 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak saya juga bener bener respect
      di tengah kekurangan mereka malah bisa berpikir hebat
      jadi malu klo males malesan huhu

      iya jadul banget mbak
      terimakasih insya allah saya apdet cerita sejarah tiap minggunya :)

      Delete
  7. Ide rumah kost para pejuang dijadikan museum begini bagus banget.
    Sejarah panjang masa lalunya jadi tak lenyap begitu saja.

    Sudah gitu keren ngga ada beaya restribusi tiket masuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini baru diresmikan mas
      dan memang harus seperti ini biar engga tercecer ceritanya

      iya yang saya suka juga engga ada tiket masuk hehe

      Delete
  8. Waah, ini bener-bener jadi 'rumah pergerakan' ya. Ada yang aliran kiri, kanan, tengah. Ada yang komunis, nasionalis, hingga islamis. Pengen ke sana kapan2

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ini rumah pergerakan berbagai aliran
      makanya keren banget mas isinya

      Delete
  9. Waaahh iri diri saya Mas, saya aja belom pernah dong tahu kos peneleh ini, tapi memang di bagian sono itu daerahnya kental banget dengan sejarah ya.

    Saya pernah ikut bus SHT tuh ke daerah-daerah sana, tapi memang nggak semua tempat sejarah di datangin :)

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.