Mengapa Saya Kurang Tertarik dengan "Male Pageant"?

loty 2020
Para peserta L Men of the Year 2020. - www.dream.co

Pertanyaan ini sering hinggap di pikiran saya dan beberapa teman saya.

Ketika saya semangat mengunggah konten seputar Miss Universe atau Puteri Indonesia, banyak yang menanyakan sekali-kali saya membahas mengenai konten Male Pageant atau kontes kecantikan pria.

Tujuannya mungkin agar seimbang antara kontes kecantikan wanita dan pria. Namun, mohon maaf saya ternyata tidak tertarik untuk membahas kontes kecantikan pria. Bisa jadi, bahasan kali ini merupakan bahasan pertama dan terakhir mengenai male pageant atau kontes kecantikan pria.

Pada kali ini, saya akan membahas mengapa saya kurang bahkan tidak tertarik membahas male pageant. Beberapa alasan ini menjadi alasan mendasar sehingga saya lebih baik mengelaborasi female pageant dengan lebih luas lagi. Lalu, apa saja alasan saya tidak tertarik dengan male pageant?

Faktor seksual

Sebagai pria, saya tidak tertarik melihat pria yang berjalan di atas panggung. Tentu, melihat para wanita dengan kecantikannya jauh lebih menarik. Saya tidak tahu apakah seorang wanita juga akan tertarik melihat male pageant. Uniknya, teman-teman wanita saya juga lebih banyak yang mengikuti female pageant dibandingkan male pageant. Kehebohan yang saya dapatkan ketika melihat male pageant tidak seasyik saat melihat female pageant.

Kostum peserta male pageant yang monoton

Dibandingkan female pageant, saya merasa kostum peserta male pageant amatlah monoton. Menggunakan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu, entah saya merasa tak begitu tertarik melihat berbagai male pageant yang diselenggarakan. Ini berbeda dengan female pageant yang menampilkan berbagai pakaian yang dibuat oleh para desainer ternama. Female pageant lebih berwarna dengan aneka gaun yang menghiasinya. 


Pun demikian dengan kostum nasional yang menjadi daya tarik saya melihat kontes kecantikan. Jika female pageant menampilkan berbagai kostum yang begitu menarik dan segala persiapannya yang wow, tidak demikian dengan male pageant. Mereka biasanya menggunakan kostum nasional yang simpel dan bahkan ada juga male pageant yang tidak menampilkan kostum nasional sama sekali.

Jadwal male pageant yang tidak konsisten

Nah yang membuat saya kurang tertarik dengan male pageant adalah jadwalnya yang tidak konsisten. Ada male pageant yang diadakan 2 tahun sekali, ada yang tiap tahun diadakan eh 3 tahun berikutnya tidak ada. Sementara ini, saya hanya tahu ada 2 ajang male pageant internasional yang diadakan secara konsisten yakni Mister International dan Mister Supranational.

Tidak hanya kontes male pagant internasional, kontes male pageant nasional pun juga tidak dilakukan secara konsisten. Bahkan, banyak yang tidak tahu ternyata ada lho kontes male pageant tersebut. Barangkali, satu-satunya kontes male pageant yang cukup konsisten adalah L men of the year yang sudah ada sejak tahun 2000an. Kontes ini pun juga sempat vakum di tahun 2015-2017.

Kontes kecantikan pria yang diikuti oleh Indonesia. Wikipedia

Sementara itu, pengiriman wakil Indonesia yang akan berlaga ke ajang internasional juga tidak sekonsisten female pageant. Jika pada female pageant, pemenang di ajang tertentu secara konsisten akan berlaga di ajang yang telah terjadwal tiap tahun, maka male pageant tidak melakukannya.

Misalkan, pemenang Puteri Indonesia akan berlaga di Miss Universe, Miss International, dan Miss Supranational. Pemenang Miss Indonesia akan berlaga di Miss World, pemenang Miss Grand Indonesia akan berlaga di Miss Grand International, dan pemenang Miss Earth Indonesia akan berlaga di Miss Earth.

Nah, untuk male pageant sendiri, saya tidak paham jika kontes nasional A akan mengirimkan wakilnya ke mana dan kontes B ke mana. Dari sumber yang saya baca, lisensi tiap kontes internasional sendiri juga tidak konsisten. L-Men of the Year misalnya.

Pemenang kontes ini kadang dikirim ke ajang Mister International. Lalu, kadang pula ke Mister World. Pada tahun ini, pememang kontes tersebut malah dikirim ke Mister Supranational. Makanya, saya tidak begitu tertarik karena tiap pageant international tentu memiliki tujuan berbeda. Pun demikian dengan kontes male pageant nasional lain yang tidak konsisten mengirimkan wakilnya ke ajang mana.

Tidak banyak pemenang male pageant yang saya ketahui

Ini juga menjadi alasan saya tidak begitu tertarik dengan male pageant. Tidak banyak pemenang male pageant yang saya ketahui. Selama ini, hanya ada dua nama yang saya tahu yakni Gandhi Fernando dan YK Hendrawan. Kebetulan, keduanya adalah seorang You Tuber.

YK Hendrawan adalah pemenang L Men of The Year 2014 yang mewakili Indonesia di ajang Mister International 2014. Saat itu, ia berhasil masuk Top 15 dan menyabet runner-up 1 best national costume. Sementara Gandhi Fernando adalah runner-up Mister Indonesia 2018 yang berlaga di ajang Mister Supranational 2018. Sayang, Gandhi tidak mendapatkan posisi alias unplaced. Meski demikian, saya salut lho dengan Gandhi karena ia membuat konten YT yang khusus membahas female pageant sehingga pengetahuan saya mengenai ajang ini menjadi lebih baik lagi.

Miss Supranational 2019 asal Thailand berfoto berdua dengan Mister Supranational 2019 asal AS. Walaupun ajang Miss Supranational tidak setenar Miss Universe, tetapi ajang Mister Supranational untuk saat ini adalah male pageant paling prestisius dan konsisten. - Global Beauties

Tidak banyaknya pemenang male pageant yang saya ketahui bisa jadi disebabkan oleh publikasi media yang tidak sebesar female pageant. Jika selepas acara pemilihan, saat persiapan ke ajang internasional, dan selepas ajang internasional, peserta female pageant yang mendapatkan porsi pemberitaan yang besar, tidak demikian halnya dengan peserta male pageant. Bahkan, selepas mengikuti ajang internasional, tak banyak tahu mereka sedang mengikuti ajang apa. Padahal, persiapan mereka juga tak kalah semangat lho dengan female pageant.

Kurangnya pemberitaan male pageant ini bisa jadi juga disebabkan oleh belum masifnya male pageant sebagai industri. Male pageant pun hadir jauh lebih baru setelah female pageant hadir dan telah mengalami pro kontra. Ibarat kata, female pageant sudah memiliki akar yang kuat dan mulai menjadi industri baru di Indonesia.

Meski beberapa alasan tersebut membuat saya kurang tertarik dengan male pageant, bukan berarti kontes ini tidaklah penting. Kontes ini tetap penting karena ada manfaat yang bisa kita ambil di dalamnya. Ajakan hidup sehat dan berpikir positif tetap menjadi pelajaran yang bisa saya ambil. Saya biasanya melihat peserta male pageant yang tinggi tubuhnya hampir sama dengan saya sekitar 165 cm.

Dari penjelasannya, saya bisa belajar bentuk latihan harian sederhana yang bisa saya lakukan. Pola makan apa saja yang bisa saya gunakan dan kira-kira suplemen apa yang cocok untuk saya. Ada beberapa peserta L men of the year yang tinggi tubuhnya hampir sama dengan saya (tidak terlalu tinggi) sudah saya ikuti kegiatannya. Dan alhamdulillah, apa yang ia paparkan sudah saya coba dan lumayan berhasil. Ketika saya mencoba masa pemulihan dari sakit kemarin, saya pun mencoba mengikuti arahannya. Kini, tubuh saya mulai bugar kembali.

Ini berarti, pesan positif yang diberikan oleh peserta male pageant sebenarnya berguna bagi masyarakat. Hanya saja, pengemasan yang lebih menarik alangkah lebih baik dilakukan. Misalkan, jangan sampai yang melihat mereka tidak merasa insecure tetapi menjadi motivasi. Pesan inilah yang bisa ditonjolkan oleh pelaku male pageant. Lantaran, peserta female pageant sudah banyak yang melakukannya ketika mereka terus mengkamapanyekan self love ketika mereka tampil.

Tidak hanya itu, advokasi male pageant yang belum sebanyak female pageant juga menjadi PR tersendiri. Kini, kontes kecantikan bukan lagi seputar apa yang kita capai melainkan apa yang sudah kita buat terhadap lingkungan sekitar. Ketika banyak female pageant sudah terjun dengan advokasinya di berbagai bidang terutama pendidikan, saya belum melihat male pageant melakukannya. 

Itulah beberapa alasan kenapa saya tidak begitu terarik dengan male pageant. Meskipun demikian, saya berharap male pageant terus berkembang di Indonesia dan memberikan banyak manfaat. Tidak saja bagi pesertanya tetapi bagi orang di sekitarnya. Mohon maaf jika ada kesalahan.

Salam.

10 comments:

  1. Menurutku, acara kontes male pageant belum gencar promosi dan benar kata mas Ikrom, kurang konsisten.

    Juga tak adanya pengenalan penggunaan kostum nasional atau adat budaya negara, atau setidaknya kostum adat modikasi.

    Tapi jujur, aku sama sekali belum pernah sengaja nonton secara full tayangan kompetisinya.
    Cuma sekilasan doang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas belum gencar dan belum konsisten
      dan masalah kostum memang juga belum sewow female pageant
      apa mungkin karena laki laki kostumnya ya memang gitu gitu aja ya
      saya juga engga pernah si mas
      paling liat pas pengumuman aja

      Delete
  2. Saya malah baru nggeh kalau L-men itu masih ada.. wkwkw
    Secara iklan produk susu L-men udh jarang banyak muncul di TV.. ehh iyah nggak sih?? Soalnya udh jarang banget nonton TV.

    Tapi yah sama kurang demen sama Male Pageant juga. Mngkin karena kita lelaki.. hahah Kan kalau Miss Universe ada National Costum gtu.. Cakep-cakep lagi.. heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. baru taun ini diadakan lagi mas
      setelah vakum beberapa tahun
      iya sekarang mereka kayaknya gencar di IG deh
      rata rata kan pakai selebgram ya

      hahahah iya si liat para wanita jauh lebih menarik ya
      apalagi pas pakai national costume yang warna warni itu

      Delete
  3. Saya nggak begitu tau soal pageant, bahkan yang ceweknya pun kayaknya saya hanya ikuti pageant jaman Artika Sari Devi mas, itu tahun kapan ya, hahahahaha 😂 Semenjak itu dan sebelum itu, nggak terlalu tau banyak. Ehhh sempat tau Nadine tapi nggak ikuti malam finalnya. Hanya tau Nadine menang jadi juara 😆

    Saya pribadi, turut mengaminkan doa-doa baik, karena bagaimanapun ajang internasional ini ternyata menyedot banyak perhatian publik, dan jika menang pun bisa membawa nama baik negara. Hehehehehe. Ohya, dulu pernah ada kan yang dilaksanakan di Indonesia, itu ajang miss universe atau miss world, mas? 😁 Seingat saya pernah baca berita, para finalis ke Bali untuk foto-foto kalau nggak salah 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. zaman artika memang booming banget ya mbak
      habis itu agak tenggelam tetapi sekarang udah naik lagi

      iya saya juga berharap demikian
      MIss World mbak yang pernah diadakan di Bali tahun 2013
      yang pernah diprotes juga hehe

      Delete
  4. Terimakasih atas penjelasan yang komprehensif atas pertanyaan saya di postingan sebelumnya mas, selamat tahun baru 2021

    ReplyDelete
  5. Mas, aku yg cewe aja jujurnya ga suka liat male Pageant :D. Gimana yaaaa, LBH tertarik liat cewe kalo utk kontes kecantikan gini... Mungkin sama kayak alasanmu, kalo kontes kecantikan wanita LBH meriah, variasi dan baju2nya menarik. Kalo laki2 kurang. Dan nth kenapa , ini alasan pribadi aja, ngeliat cowo lenggak lenggok di panggung, kok ya aku ilfil hahahahah. Apalagi kalo baju dilepas. Sorry ya, lgs mikirnya cowo kemayu -_- .

    Makanya aku LBH suka liat kontes2 yg wanita drpd laki2.

    ReplyDelete
  6. Sumpah.. saya sama banget sama Mas Ikrom..

    Ngapain juga nonton male pageant. Kalau miss universe, atau miss apalah, saya masih sangat bisa betah.. cuma kalo cowok mah, mending bobok..hahahah

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.