Pengalaman Menghadiri Prosesi Pemakaman Saudara yang Terinfeksi Covid-19


Proses Pemakaman Jenazah dengan Protap Covid-19
Proses Pemakaman Jenazah dengan Protap Covid-19
 

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan menghadiri pemakamana Saudara jauh saya yang meninggal akibat infeksi covid-19.

Saudara saya ini merupakan keponakan dari kakek saya. Usia beliau sudah cukup lanjut dan memiliki riwayat penyakit radang paru-paru cukup lama bahkan sebelum wabah covid-19 merebak. Sekitar sebulan lalu, beliau tertular virus covid-19 beserta anggota keluarganya. Beliau sempat dirawat selama 2 minggu di rumah sakit tetapi takdir berkata lain. Beliau menghembuskan napas terakhir di awal Maret 2021 ini.

Mulanya, saya tidak berniat melayat. Namun, kata ibu saya, lebih baik saya datang ke pemakaman umum untuk ikut menyolati beliau karena warga kampung tidak banyak yang melayat. Sebagai informasi, sudah ada beberapa tetangga dekat saya yang meninggal akibat covid-19. Saudara saya yang meninggal ini juga masih satu RT dengan rumah saya.

Saya pun datang ke salah satu tempat pemakaman umum di Kota Malang selepas Asar. Di sana, beberapa warga membantu menggali lubang pemakaman. Jika ada warga yang meninggal akibat covid-19, maka warga hanya diminta untuk mempersiapkan lubang kubur. Nanti, untuk urusan selanjutnya, proses diserahkan kepada petugas Dinas Pertamanan Bidang Pemakaman Kota.

Proses Pemakaman Jenazah dengan Protap Covid-19
Warga yang membantu menggali lubang kubur

Saya menunggu hampir 30 menit di TPU tersebut. Di sana, beberapa aparat keamanan dari unsur TNI dan Polri sudah siap sedia. Kalau saya lihat, lebih banyak Bapak Polisi yang berjaga di sana. Sebagian sudah berjaga beberapa jam sebelum kedatangan jenazah saudara saya.

Proses Pemakaman Jenazah dengan Protap Covid-19
Petugas pemakaman dari Dinas Pertamanan datang dengan APD lengkap

Namun, ada satu hal yang menurut saya harus menjadi catatan bagi para petugas yang sedang berjaga  untuk pemakaman pasien covid-19. Catatan itu adalah masih bebasnya warga berlalu-lalang di sekitar area pemakaman. Meski tentu jalan tersebut jalan umum, tetapi alangkah lebih baik lebih diperketat lagi, semisal harus memakai masker. Nah, saat pemakaman saudara saya tersebut, banyak warga tak bermasker berseliweran. Banyak pula anak-anak yang bermain di sekitar pemakaman tanpa mengenakan masker.

Proses Pemakaman Jenazah dengan Protap Covid-19
Seorang anggota kepolisian mengatur jalan bagi petugas pemakaman yang baru saja datang.

Meski ada satu petugas TNI yang dengan tegas memperingatkan anak-anak tersebut menjauh, tetap saja mereka membandel. Berkeliaran di sekitar pemakaman dan cukup mengganggu petugas dan kerabat yang datang. Kalau boleh usul, selama prosesi pemakaman sebaiknya kondisi di area pemakaman disterilkan dahulu. Toh hanya beberapa menit. Mereka yang boleh datang pun terbatas kerabat dekat dan harus menggunakan masker.

Anak-anak tak mengenakan masker berkerumun di sekitar kompleks pemakaman

Setelah mobil ambulans yang membawa jenazah saudara saya tiba, hadirin yang datang sudah bersiap untuk menyolati beliau. Sempat ada kepikiran untuk menyolati di depan masjid yang berada dekat dengan pemakaman tersebut. Akan tetapi, karena tidak memungkinkan, maka proses salat jenazah dilakukan di depan jalan masuk pemakaman.

Proses Pemakaman Jenazah dengan Protap Covid-19
Para pelayat dengan terbatas menyolati jenazah di depan kompleks pemakaman

Sebelum prosesi salat jenazah, petugas pemakaman menyemprotkan cairan disinfektan beberapa kali. Saya pun turut menyolati beliau sebagai penghormatan terakhir. Semoga salat jenazah yang saya lakukan di depan makam ini menjadi yang terakhir. Lantaran, saya berharap orang dekat saya tidak ada lagi yang terjangkit covid-19.

Selepas salat dan berdoa, maka jenazah pun dibawa ke area pemakaman. Barulah di sini tak boleh ada satu pun orang yang masuk selain petugas pemakaman. Seorang polisi berjaga tepat di depan jalan masuk makam. Kami hanya bisa melihat dari kejauhan proses pemakaman tersebut. 

Proses Pemakaman Jenazah dengan Protap Covid-19
Petugas keamanan menjaga ketat pintu masuk makam agar tidak ada satu orang yang masuk selain petugas pemakaman.

Sekitar 15 petugas dengan APD lengkap pun langsung dengan cekatan memasukkan peti jenazah ke dalam liang lahat. Sebagai informasi, saat kasus kematian covid-19 benar-benar mencapai puncaknya, mereka bisa memakamkan lebih dari 10 orang dalam satu hari. Kasus kematian covid-19 di Malang pun juga cukup tinggi dan lebih tinggi dari persentase prata-rata kematian secara nasional. Sayangnya, kerja keras mereka yang banyak diantaranya adalah relawan kerap kurang dihargai oleh keluarga jenazah.

Beberapa waktu lalu, sempat ada berita bahwa terjadi pemukulan seorang petugas pemakaman covid-19 di Kota Malang akibat salah paham. Kasus ini cukup meresahkan lantaran membuat keyakinan warga terhadap proses di-covid-kan semakin besar. Banyak anggapan saat ini, siapa pun yang meninggal di rumah sakit, apa pun penyakitnya maka akan dianggap positif covid-19. Anggapan seperti inilah yang membuat seringkali terjadi kesalahpahaman antara keluarga jenazah dengan petugas pemakaman.

Kembali ke prosesi pemakaman, setelah peti jenazah sudah dimasukkan dan tinggal ditutup dengan tanah, maka salah seorang kerabat dipersilakan untuk mendekati makam tersebut untuk melakukan azan dan iqamah. Prosesi ini merupakan prosesi pada umat islam untuk pemakaman. Dengan mata kepala sendiri, akhirnya saya melihat bahwa prosesi pemakaman jenazah secara islami masih bisa dilakukan. Ini juga menjawab kegelisahan banyak orang saat awal covid-19 dulu merebak bahwa prosesi pemakaman akan sangat terbatas dan tidak bisa dilakukan seperti pemakaman islami lainnya.

Setelah peti jenazah tertutup oleh tanah secara sempurna, maka petugas pemakaman kembali menyemprotkan cairan disinfektan berkali-kali. Mereka juga menyemprotkan cairan di beberapa makam di sekitarnya. Saya hitung ada lebih dari 4 petugas yang secara khusus menyemprotkan cairan disinfektan ini. Dan akhirnya, setelah dianggap cukup, maka prosesi pemakaman pasien covid-19 pun selesai.


Kami sebenarnya bisa untuk mendekati makam tersebut tetapi saya memilih pulang karena hari beranjak petang. Hanya keluarga dekat saja yang berinisiatif mendekat.

Prosesi pemakaman jenazah covid-19 yang saya saksikan ini memberi saya pelajaran bahwa saat ini sebenarnya kematian amatlah dekat. Bisa saja esok hari, saya atau pun yang membaca tulisan ini bisa mengalami kematian. Entah karena covid atau hal lain. Bukannya mendoakan, tetapi namanya kematian bisa datang kapan saja.

Embusan angin sore itu menambah haru suasana. Saya pun meninggalkan area pemakaman dengan pemahaman, sehebat apa pun kita di dunia, sebanyak apa pun teman di dunia, dan semewah apa pun harta kita, maka ketika meninggal dunia, kita akan tinggal sendiri tanpa satu pun barang yang kita bawa atau satu pun teman yang bersama.

Nalikane mripat iki wis ketutup,
Nana sing bisa nulungi,
Kajaba laku kang luhur,
Kang ditampi marang Gusti,
Aja ngibadah kang awon.

18 comments:

  1. terima kasih banyak informasinya bang.. sudut pandang baru untuk saya yang belum pernah melihat prosesi pemakaman jenazah covid. kalau di Pekanbaru, setau saya di makamkan ditempat khusus gitu bang, tempat yang agak tinggi agar galian kuburnya jauh kedalam..

    banyak teman dan saudara yang kena covid, alhamdulillah semuanya sembuh bang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kembali sudah berkunjung mas
      kalau di sini dicampur dengan kuburan lain karena memang tak ada lahan lagi

      Delete
  2. Haloo mas. Setuju sekali dengan pernyatan njenengan. Bahwa hari ini banyak sekali opini liar di masyarakat, terutama bapac bapac dan emak emak yg percaya banyak RS meng-covid-kan pasiennnya. Padahal tidak jg seperti itu yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sayang sekali ya mas opini liar itu banyak berkembang di masyarakat

      Delete
  3. haduuh , aku wktu om ku meninggal gak bisa nengok dan ngelayat langsung di kubur protokol covid

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah turut berduka cita mas atas meninggalnya omnya

      Delete
  4. Masih mending kalo bisa DTG mendekat mas. Pas mama mertuaku meninggal, 1 pun dari kami ga ada yg bisa DTG, mulai dr RS sampe dimakamkan.. apalagi dikubur di TPU khusu covid. Jd pas pemakaman juga ga bisa DTG. Aku ttp di rumah. Yg kesana dan liat dr jauuuuuh, itu hanya suami dan Abang ipar. Cm mereka berdua. Ga boleh mendekat samasekali.

    Sampe skr aku blm DTG ke kuburan mama. Cm bisa doain aja di setiap solat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. turut beduka cita mbak
      memang beda ya tiap daerah tapi kalau di JKT saya lihat cukup strict peraturannya
      Ini yg datang juga keluarga jauh sebagai perwakilan saja kalau keluarga dekat malah tidak datang karena harus isolasi mandiri

      Delete
  5. Turut berduka atas kepulangan dari keponakan kakeknya ya Mas..
    Sepertinya memang ga semua pemakaman pasien covid dg protokol ketat yaa. Apalagi ini warga masih lalu lalang ya.. Kayakny tergtng tempat ya, karna di bbrapa tempat bahkan keluarga sekali pun ga bs liat sama sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Tessa
      iya tergantung daerahnya juga ya dan memang harusnya lebih diperketat lagi

      Delete
  6. Kasian ya, Mas Ikrom. Pemukulan terhadap petugas mepakaman. Padahal dia bekerja dengan ikhlas. Bukannya dihargai. Selamat malam, Mas Ikrom terima kasih telah bernagi kisah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kasihan sekali Bu Nur padahal mereka sudah bekerja dengan susah payah ya...

      Delete
  7. Turut bela sungkawa mas Ikrom, dan harus di tegaskan juga untuk protokol pemakaman jenazah covid, seperti larangan arus lintas setempat, atau kasih sepanduk serta penjagaan yang lebih ketat di antara pemakaman agar suasana lebih tenang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Andy iya harus tega smemang agar bisa lancar dan mencegah penularan

      Delete
  8. Innalilahi wa inna ilaihi ro'jiun turut berduka kang, btw ngeri yah sampe sehari makamin 10 orang krn kasus ini semoga segera pulih duniaku :(( dan aku juga kepikiran kalau pake peti ga diazanin ternyata masih diazanin juga ya kang nuhun sharingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya makasih Teh

      makanya teh miris banget ya liat covid ini
      bener masih bisa diazanin kok tapi cuma satu orang saja yang bisa dekat ke kuburnya

      Delete
  9. Turut berdukacita juga mas Ikrom atas meninggalnya keponakan dari kakeknya mas Ikrom.

    Memang sekarang banyak opini liar di masyarakat kalo apapun penyakitnya jika dibawa ke rumah sakit maka akan dianggap covid 19. Di daerah sini soalnya juga begitu.

    Berarti keluarga dekat setelah proses pemakaman selesai bisa ke makamnya untuk berdoa ya mas, makasih infonya.

    ReplyDelete
  10. Aku turut berduka juga, Mas Ikrom. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah dan semoga beliau diberikan tempat terindah di sisi-Nya. Aamiin 🤲

    Beberapa bulan yang lalu, saudara jauhku juga meninggal karena covid-19, Mas. Beliau dimakamkan dengan protokol kesehatan, dan sayangnya kami para keluarganya dihimbau tidak melayat. Yang boleh melihat pemakaman hanya keluarga inti saja. 😭

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.