Tidak Semua Guru Berani Mendampingi Siswa yang Diimunisasi

imunisasi di SD
Imunisasi di SD

Kegiatan imunisasi di sekolah adalah kegiatan rutin tahunan.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda rutin sekolah yang bekerja sama dengan instansi kesehatan di sekitar lingkungan sekolah. Kalau di sekolah saya dulu, biasanya imunisasi dilakukan oleh Puskesmas yang berada dekat dengan sekolah.

Sebelum kegiatan ini dilakukan, Puskesmas akan memberi informasi jika pada bulan berikutnya akan dilakukan imunisasi. Jika informasi ini sudah diterima sekolah, maka pihak Tata Usaha akan langsung membuat surat edaran kepada wali murid dan persiapan di sekolah pun mulai dilakukan. Semisal, menyiapkan aula atau pun pendukung lainnya.

Imunisasi biasanya paling sering dilakukan pada siswa kelas kecil (1,2,3) tetapi ada juga yang dilakukan pada siswa kelas besar (4,5, dan 6). Siswa kelas kecil biasanya mendapatkan prioritas. 

Imunisasi yang diberikan pada kelas 1 biasanya adalah imunisasi Diphteria Tetanus (DT) sedangkan siswa kelas 2 dan 3 mendapatkan imunisasi Tetanus Diphteria (TD). Imunisasi tersebut biasanya dilakukan secara serentak atau sering disebut sebagai Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Sama halnya dengan kegiatan kemah atau pondok Ramadan yang melibatkan banyak siswa, maka kegiatan ini pun juga biasanya dipersiapkan secara matang. Kepala sekolah akan menujuk beberapa guru yang bertugas mendampingi petugas Puskesmas untuk melakukan imunisasi.

Tentu, guru kelas memiliki tanggung jawab untuk mendampingi mereka di samping guru-guru lainnya semisal guru olahraga. Meski demikian, dari pengalaman saya di sekolah, ternyata tidak semua guru bisa mendampingi siswa yang akan melakukan imunisasi.

Entah sudah menjadi tradisi atau tidak, guru-guru yang senior dan kebanyakan akan memasuki masa purna yang menjadi garda terdepan dalam imunisasi ini. Di sekolah saya dulu, ada seorang guru bernama Bu Tri yang sudah siap mendampingi siswa kelas 1 hingga kelas 3 yang sedang disuntik. 

Pengalaman beliau yang sudah mengajar selama puluhan tahun -- terutama mengajar kelas 1 SD -- menjadikan beliau mahir menangani siswa yang sedang disuntik.

Jika siswa tersebut berani, Bu Tri hanya akan menyemangati dari dekat atau memegang tangan siswa tersebut sebagai bentuk dukungan. Jika siswa tersebut takut dan bahkan menangis meraung-raung kesakitan, Bu Tri tak segan memeluk anak tersebut hingga kegiatan vaksinasi berjalan lancar. 

imunisasi di SD
Siswa yang ketakutan saat imunisasi

Tentu, dengan beberapa "mantra" yang dibisikkan pada anak tersebut. Misalkan sakitnya hanya sebentar dan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.

Meski demikian, saya mendapatkan ilmu berharga bahwa membuat anak nyaman ketika akan disuntik adalah hal yang paling utama. Makanya, guru juga perlu untuk berkomunikasi kepada siswa sebelum kegiatan suntik ini. Guru tidak bisa meninggalkan begitu saja siswa yang akan disuntik terlebih jika ia adalah wali kelasnya.

Mengatur siswa yang akan melakukan imunisasi adalah sebuah tantangan tersendiri

Sebelum kegiatan suntik, siswa akan dibariskan tiap kelas menuju aula. Layaknya akan memasuki medan perang, momen seperti ini bisa digunakan untuk menguatkan mereka. Entah dengan menyanyi, melakukan yel-yel, dan lain sebagainya. Kalau saya sendiri jika sedang tidak ada pekerjaan lain, biasanya akan melakukan gim sederhana di aula sembari menunggu kegiatan suntik.

Nah, selama pengalaman vaksinasi di sekolah, untungnya tak banyak siswa yang memiliki ketakutan berlebihan akan hal ini. Kalau pun ada, itu hanya 1-2 saja. Meski demikian, siswa yang takut disuntik ini juga cukup memberikan reaksi yang menarik perhatian. Semisal menangis sambil menjerit atau bahkan mencoba sekuat tenaga melawan agar tidak disuntik.

Memberikan semangat adalah kunci

Siswa seperti ini biasanya disuntik pada bagian akhir. Selain untuk memudahkan petugas Puskesmas, tindakan ini juga untuk menghindari siswa lain menontonnya yang berpotensi untuk dijadikan bahan olok-olokan. 

Kasihan kan jika anak tersebut menjadi bahan olok-olok temannya yang malah akan membuat dirinya down. Atau bahkan, menjadi sesuatu yang membuat siswa lain juga ikut takut. 

Makanya, kegiatan imunisasi pertama kali menjadi pengalaman pertama bagi sekolah untuk menandai siapa saja yang memiliki kecenderungan untuk memiliki ketakutan yang amat sangat.

Uniknya, tidak semua guru berani mendampingi siswa ketika disuntik. Saya adalah diantaranya. Entah mungkin karena belum berpengalaman atau belum tatag -- kuat hati -- seringkali ada guru lain yang mendampingi siswa saya yang sedang disuntik. 

Untung saja, siswa saya sudah kelas 5 dan sudah mulai paham pentingnya kegiatan imunisasi. Seingat saya hanya ada 1 siswa perempuan yang menahan tangis ketika disuntik dan kembali ceria ketika masuk ke kelas.

Mengingat pentingnya kegiatan imunisasi ini, maka kondisi siswa sebelum dan setelah kegiatan tersebut juga menjadi hal yang penting. Pendataan siswa yang sedang sakit atau memiliki riwayat alergi tertentu harus benar-benar dilakukan dengan tepat. 

Menanti detik-detik eksekusi

Di sekolah saya dulu seingat saya ada semacam buku yang memuat rekam jejak sederhana ketika siswa tersebut memeriksakan diri ke Puskesmas. Entah periksa gigi atau saat sedang sakit panas.

Dari catatan tersebut, biasanya petugas Puskesmas akan mengetahui riwayat beberapa siswa yang memang memiliki kondisi khusus dan terpaksa tidak bisa diimunisasi di sekolah. 

Orang tua siswa tersebut akan diminta untuk pergi ke Puskesmas dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bagaimana kegiatan imunisasi yang akan diberikan pada putranya.

Kegiatan menyenangkan sebenarnya terjadi setelah suntik. Siswa akan diberi obat, makanan ringan, buah, dan minuman. Tentu, pemberian yang tidak dilakukan setiap hari ini juga membuat mereka tak lagi merasakan sakit setelah disuntik. Pembelajaran pun biasanya dilakukan tidak secara penuh setelah disuntik. 

Momen ini juga biasanya digunakan untuk memberikan informasi kembali betapa pentingnya imunisasi. Pemaparan apa yang terjadi jika mereka tidak diimunisasi bisa diberikan.

Maka, kegiatan imunisasi seharusnya menjadi ajang bagi sekolah untuk bisa memberikan pemahaman penuh akan pentingnya pemberian imun pada anak. Ada proses berkelanjutan sehingga anak sadar pentingnya kegiatan ini dan bisa menjadi penguat bagi mereka untuk bisa menghadapi tantangan yang mereka dapat. Salam.

16 comments:

  1. wah banayk yang seperti ini bang yang orang besar aja banyak yang takut

    ReplyDelete
  2. Dulu waktu SD mah tegar disuntik pas di sekolahan, sampe rumah nangis bombai wkwkwkwkkw

    Walaupun kadang tau manfaat disuntik, tapi tetap aja gitu, dicucuk jarum T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang menakutkan ya disutik ya bang apalagi buat anak kecil

      Delete
  3. Jadi ingat saat sekolah SD dulu pernah juga di vaksin.. meski agak deg-degan aku termasuk nggak takut saat disuntik.. temanku banyak yang nangis karena takut. Pernah juga aku disuntik saat sakit tapi saat itu di dokter. Habis itu rasa sakit bekas suntikan jadi bikin aku pusing sekali sampai nggak bisa jalan.. akhirnya aku dipapah sampai pulang.
    Wah mas Ikrom hebat sebagai guru juga bisa mendampingi dang ngasih semangat buat murid-muridnya yang akan divaksinasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah hebat mbak dulu engga takut
      tapi kadang takut juga ya kalau sampe panas atau pusing habis disuntik

      Delete
  4. Jadi guru memang berat, ya. Selain mengajar, dia juga harus menjadi orang tua "cadangan" di sekolah. Padahal saya yakin, nggak semua orangtua juga bisa mendampingi anaknya imunisasi.

    ReplyDelete
  5. Saya waktu SD, diimunisasi malah kabur mas. Hahha
    Saya kabur ke rumah. Untung aja jarak rumah ke sekolah ga jauh. Lari dikit doang udah sampe 😅

    ReplyDelete
  6. Jd inget pengalaman suntik pas kelas 1 SD ada teman, lelaki pula yg nekat lompat dari jendela kelas (sekolah saya adalah gedung zaman Belanda, Jd yg masih bisa dibuka sampai bawah itu)😂 syukurnya anak saya kelas 1 dan barusan suntik, ga ada cerita2 heboh di kelasnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakak sampai lompat jendela segala
      syukur mbak anaknya engga takut ya

      Delete
  7. Seingatku dulu waktu mau disuntik malah mau kabur, cuma ngga boleh ama gurunya.😂

    Untungnya mas Ikrom guru kelas 5 SD ya, jadinya kebanyakan sudah paham pentingnya imunisasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya gurunya bakal siap sedia kalau ada yang kabur hihi

      kelas 5 juga ada yang takut lo mas

      Delete
  8. Saya malah lupa dulu waktu imunisasi saya bagaimana. Tapi kalau sampai tak ingat, artinya tidak ada drama di sekolah. Hehe.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.