Belajar Kehidupan dari Karakter Siswa Sekolah yang Saya Bimbing

Setiap hari, pekerjaan saya mengharuskan untuk berhubungan dengan anak-anak.

Mau tidak mau, saya pun berkomunikasi dengan mereka dalam intensitas waktu yang cukup lama. Tidak saja berkutat pada pelajaran di sekolah, seringkali saya juga berkomunikasi untuk berbagai kegiatan dan seputar kehidupan mereka. Dari komunikasi yang saya jalin, tidak jarang saya banyak belajar dari karakter dan sifat mereka yang bisa jadi masih bisa saya petik dalam kehidupan dewasa.

Karakter siswa yang saya ajar tentu berbeda-beda. Tiap tingkatan kelas memiliki karakter khusus sesuai dengan usia mereka. Setidaknya, ada 4 jenis karakter khas tingkatan sekolah yang menjadi pembelajaran bagi kehidupan saya.

Belajar Kehidupan dari Karakter Siswa SD Kelas Kecil

Siswa SD kelas kecil adalah siswa yang duduk di bangku kelas 1, 2, dan 3 SD. Saya memiliki beberapa siswa kelas 2 dan 3 SD yang saya bimbing. Meski tidak selalu bertemu mereka karena lebih sering dipandu oleh tutor lain, tetapi saya banyak mendapat pelajaran dari mereka.

Siswa SD kelas kecil memiliki beberapa karakter yang khas. Karakter yang begitu menonjol dari siswa SD kelas kecil adalah gemar membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka gemar sekali bercerita mengenai temannya yang memiliki mainan tertentu, pakaian yang dikenakan, kecepatan mengerjakan tugas, dan lain sebagainya. Intinya, bibit untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain banyak bermula saat berada di bangku SD kelas kecil.

Pernah gini? - Sumber: Generasi 90an

Dari karakter ini, saya banyak belajar mengenai arti bersyukur. Tidak jarang, dengan celoteh yang khas, mereka mengeluh mengapa tidak bisa seperti teman-temannya yang lain. Baik dalam kepemilikan akan sesuatu atau kemampuan yang mereka miliki. Pernah suatu ketika ada seorang siswa saya mengutuki dirinya kenapa ibunya begitu miskin sehingga ketika ia ingin membeli mainan selalu dikatakan tidak punya uang.

Tentu, dengan sedikit bijak saya memberi wejangan bahwa saat itu, mainan yang ia miliki masih baik dan bisa digunakan. Jika ia ingin menggunakan mainan itu, ia bisa meminjam kepada temannya yang lain tentu dengan tanggung jawab. Yang penting ia masih bisa bermain masih memiliki mainan yang lain.

Pengalaman ini juga mengajarkan pada saya bahwa kadang ada juga kegiatan membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain. Kenapa belum punya rumah sendiri, belum punya mobil, dan lain sebagainya, Kalau sudah beigini biasanya saya bercermin pada karakter siswa SD kelas kecil terutama mengenai kepemilikan mainan tadi.

Belajar Kehidupan dari Karakter Siswa SD Kelas Besar

Siswa SD kelas besar adalah siswa yang duduk di bangku kelas 4, 5, dan 6 SD. Berbeda dengan siswa kelas kecil yang masih berada dalam tahap perkembangan anak-anak akhir, siswa kelas besar bisa disebut sebagai masa awal menuju pubertas.

Salah satu karakter yang menonjol dari siswa kelas besar adalah rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitar, terutama teman-teman mereka. Saya memaknainya sebagai permulaan keingintahuan orang dewasa terhadap kehidupan orang lain (kepo). Siswa kelas besar gemar sekali ingin tahu apa yang sedang dilakukan, dimiliki, dan dirasakan oleh temannya.   

Dari rasa ingin tahu tersebut, kadangkala timbul menjadikan nilai – entah nilai pelajaran atau capaian mereka – sebagai titik tolak keberhasilan. Pada kelas besar, anak akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa tampil sebagai bentuk pencapaian kehidupan mereka. Inilah tak jarang pada siswa kelas besar, kegiatan perlombaan, baik olahraga, olimpiade MIPA, seni, dan lain sebagainya diadakan. 

Berbagai kegiatan perlombaan tersebut tidak jarang dijadikan acuan keberhasilan terhadap diri mereka, baik oleh mereka sendiri maupun oleh orang tua mereka. Konsep berhasil dan gagal menjadi dasar dari pencapaian tersebut. Di sinilah, saya banyak belajar mengenai pencapaian hidup yang bermula dari siswa SD kelas besar.

Tidak jarang, ketika mereka berhasil, mereka akan lengah dengan pujian dan segala hal di dalamnya. Sebaliknya, ketika mereka gagal, tak jarang pula mereka tidak bersemangat lagi dalam menghadapi kenyataan. Menjadi wali siswa SD Kelas besar selama 3 tahun saya juga kerap harus membangkitkan semangat dan tetap menjaga sifat rendah hati mereka, baik ketika gagal maupun berhasil. Tetap fokus pada tujuan, baik mendapat apresiasi atau pun tidak. Sebuah pembelajaran berharga yang bisa saya aplikasikan

Belajar Kehidupan dari Karakter Siswa SMP

Siswa SMP, baik kelas 7,8, dan 9 merupakan siswa yang sedang mengalami masa pubertas awal. Selain mulai menyukai lawan jenis dan memperhatikan penampilan, siswa SMP juga memilik beberapa karakter yang khas. Beberapa karakter tersebut antara lain pemujaan terhadap sesuatu, entah artis idola dan lain sebagainya hingga menirukan apa yang mereka lihat dan sukai.

Contohnya, siswa perempuan akan mulai menggemari hal-hal berbau K-POP. Meski ketertarikan ini sebenarnya mulai muncul saat berada di kelas kecil, tetapi pengaruhnya sangat terasa saat mereka memasuki SMP, ketika pergaulan mereka semakin luas dan cara berpikir mereka yang lebih matang. Untuk siswa laki-laki, biasanya mereka akan tertarik kepada You Tuber atau para gamer online yang dianggap berhasil, baik secara finansial atau secara kepopuleran.


Dari karakter ini, saya belajar untuk memilih role model yang bisa saya jadikan contoh dalam kehidupan saya. BIsa saja, role model yang kita jadikan acuan ternyata tidak baik untuk kota contoh. Banyak sekali kasus orang dewasa yang sangat memuja terhadap kehidupan seseorang ternyata berakhir dengan kekecewaan karena mereka berbuat tidak baik. Dari sini saya belajar, bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Memuja atau mengidolakan seseorang secara berlebihan tidaklah baik, begitu kata Patrick Star.

Belajar Kehidupan dari Karakter Siswa SMA

Siswa SMA memiliki kemampuan berpikir yang lebih matang dibandingkan siswa tingkat sebelumnya. Mereka mulai berpikir logis, mulai gemar berdebat, dan mulai memiliki prinsip kehidupan. Mereka juga mulai bisa merancang strategi terhadap kehidupan mereka dalam kaitannya memecahkan masalah di dalam kehidupan. Siswa SMA juga mulai melakukan cover both side atau mengolah informasi dahulu yang mereka dapat dengan seksama sebelum meyakininya.

Inilah alasan mengapa saya memiliki tantangan khusus ketika mengajar SMA karena materi yang saya ajarkan seringkali tidak bisa mereka terima begitu saja jika tidak disertai dasar atau argument yang kuat. Berbeda dengan siswa SD atau SMP yang cenderung menerima saja pelajaran yang mereka terima.

Dari karakter ini, saya belajar untuk memiliki prinsip hidup yang saya anggap benar untuk saya jadikan pedoman. Prinsip ini akan menjadi acuan saya dalam mengarungi kehidupan agar tidak mudah diombang-ambingkan. Saya mendapat banyak pelajaran dari siswa SMA saya yang telah cukup matang. Semisal, mereka yang sudah pandai dalam mengolah keuangan sehingga bisa membeli sendiri barang yang mereka inginkan. Atau, mereka yang memiliki jalinan relasi dengan lawan jenis sebagai usaha untuk menyemangati diri dalam meraih prestasi.

Meski kematangan mereka juga ditentukan pula oleh pola asuh dan kondisi lingkungan, tetapi saat ini saya mendapatkan kenyataan bahwa mereka yang diberi kepercayaan dan kontrol dengan cukup seimbang dari orang tua mereka akan mendapatkan kematangan mengenai prinsip kehidupan ini jauh lebih baik. Dibandingkan mereka yang terlalu diberi kepercayaan atau malah dikekang.

Dari siswa SMA saya juga belajar mengenai planning hidup dan pilihan yang harus diambil. Misalkan mengenai pemilihan jurusan kuliah yang akan diambil. Fenomena salah jurusan yang kini banyak terjadi – termasuk pada diri saya – adalah pembelajaran berharga dari karakter siswa SMA yang saya dapatkan. Karakter untuk bisa mengenali diri sendiri, berani berkonsultasi kepada orang yang lebih kompeten, dan berani mengambil keputusan setelah pertimbangan matang.

Itulah beberapa karakter siswa sekolah yang bisa saya ambil sebagai pelajaran kehidupan. Meski usia mereka jauh lebih muda dibandingkan saya, bukan berarti kita tidak bisa belajar dari mereka. Lalu, bagaimana dengan Anda? Pernahkan belajar kehidupan dari orang uang jauh lebih muda? Cerita yuk!

6 comments:

  1. Memperhatikan karakter dan gerak gerik seseorang kemudian menganalisa itu hobiku juga.
    Dan herannya tebakanku tentang karakter seseorang hampir jarang meleset.

    Kalau mengamati karakter anak sekolah, aku lebih suka nemilih mengamati anak TK karena polah dan ceplas ceplosnya mereka lucu, ngga dibuat2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru ya mas memang memperhatikan karalter orang sekalian juga bisa belajar dari mereka

      iya anak TK emang bikin ngakak terutama polosnya

      Delete
  2. Dulu sebelum aku kuliah, cita2ku itu jadi guru mas, pengen banget, tp karna kuliah ambil jurusan yg bukan di fakultas keguruan atau pendidikan jadilah aku pendam dalam-dalam cita2 masa kecilku hihihi

    Tugas guru pasti berat ya mas, harus paham dan memperhatikan setiap karakter siswa

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau sudah senang engga berat lagi mbak malah seru aja sih hehe

      wah mbak juga pengen jadi guru juga ya
      tapi belajar karakter anak juga bisa kok mbak
      engga kalah seru juga

      Delete
  3. Setuju banget Mas Ikrom..
    Kadang aku melihat anak2 yg cenderung bebas memacu semangatku untuk selalu berpikir out of the box.. mencari cara2 lain dalam menghadapi masalah atau cara2 lain yg pastinya menyenangkan yg bisa kita pakai dalam menjalani kehidupan..

    Anak2 kan gtu ya.. cenderung berpikir bebas dan menganggap bahwa semuanya adalah sebuha keseruan.. pengen bnget punya pola pikir kaya gtu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas anak anak itu unik kok
      tiap individu punya ciri khas masing2

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.