Tetap Waras Kala “Bornout” Menyerang

menghindari burnout

 

Stres karena pekerjaan memang menjadi salah satu masalah kehidupan manusia dewasa.

Tuntutan pekerjaan yang tinggi, rasa lelah yang mulai menda badan, dan kegiatan monoton yang dilakukan menjadikan stres adalah hal yang tidak bisa dihindari saat bekerja. Namun, jika stres tersebut menjadi semakin berat dan berat serta menganggu aktivitas pekerjaan kita, maka bisa jadi kita sedang mengalami bornout.

Kondisi bornout merupakan kondisi stres berat akibat pekerjaan. Jika kita berada pada kondisi ini, maka rasa tidak nyaman pun akan muncul. Kita akan lelah secara lahir batin dengan pekerjaan kita, dan merasa ingin segera terbebas dari pekerjaan yang kita lakukan. Pada beberapa kondisi, bornout bisa menyebabkan gangguan depresi hingga keinginan untuk bunuh diri.

Lalu, selain tekanan kerja yang begitu tinggi, apa saja hal yang menyebabkan seseorang bisa mengalami burnout?

Salah satu penyebab lainnya adalah kurangnya apresiasi.

Ketika bekerja dengan tekanan tinggi, maka kita sebagai manusia juga butuh apresiasi. Apresiasi ini bisa berasal dari atasan, rekan kerja, relasi, hingga keluarga. Adanya apresiasi menyebabkan tekanan kerja yang tinggi seakan hilang lantaran bahagia yang muncul. Tujuan atau goal pekerjaan yang kita lakukan benar-benar mendapatkan apresiasi sehingga ketika ada pekerjaan dan tantangan lain kita akan menjadi lebih semangat.

Berbeda halnya jika tak ada apresiasi terhadap pekerjaan kita. Kita akan merasa apa yang kita lakukan adalah hal yang sia-sia, membosankan, bahkan menyebalkan. Pekerjaan pun akan terasa sebagai hukuman yang mengerikan lantaran meskipun kita sudah mencapai tujuan yang diinginkan, rasanya hal itu masihlah kurang. Kita akan merasa tidak ada titik tertentu kita mencapai kepuasan sehingga akan membebani pekerjaan kita selanjutnya. Terlebih, jika orang sekitar tidak mendukung pekerjaan kita, rasanya bekerja sekeras apapun akan sia-sia saja.

Faktor selanjutnya yang menjadi penyebab burnout adalah job desk atau tugas kerja yang tidak sebagaimana mestinya. 

Dalam dunia kerja, hal ini cukup lumrah untuk ditemui terutama jika kita bekerja untuk orang lain dan masih baru. Mendapatkan beban kerja yang sebenarnya bukan bidang atau tanggung jawab kita menjadikan mental kita lelah. Terlebih, jika kita harus mengorbankan waktu istirahat dan libur kita untuk pekerjaan, rasanya lelah lahir batin benar-benar di ubun-ubun.

 


Pengalaman Mengalami Burnout

Semenjak bekerja, pengalaman merasakan burnout terburuk saya rasakan pada tahun 2017. Mungkin jika pembaca blog ini mengikuti blog saya sejak 2015, pasti paham pada tahun tersebut saya terus menulis keluhan pekerjaan saya di blog ini. Saat itu, saya masih bekerja di sebuah sekolah dasar sebagai guru kelas.

Meski tugas utama saya sesuai SK Kepala Sekolah adalah sebagai guru kelas, nyatanya dalam praktiknya saya mendapatkan beban dan tekanan pekerjaan yang benar-benar luar biasa. Saya harus mengerjakan Laporan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kegiatan Adiwiyata, mengurusi ekskul Band, mengerjakan administrasi milik guru PNS seperti SKP dan PUPNS, hingga masih menangani siswa saya yang akan mengikuti lomba.

Berbagai kegiatan tersebut cukup menguras waktu dan tenaga saya. Bahkan,saya harus merelakan waktu libur di hari Minggu untuk mengerjakan tugas sekolah yang belum juga selesai. Kadang, di rumah pun saya masih melembur untuk mencetak dokumen dan mengerjakan berbagai pekerjaan tersebut. 

Waktu tidur saya juga semakin berkurang. Pola makan saya menjadi tidak teratur hingga beberapa kali saya hampir jatuh pingsan karena pusing yang tak tertahankan. Saat memeriksakan diri ke dokter, ternyata ada masalah pada syaraf bahu dan punggung akibat terlalu lama di depan komputer.

Potret saya kala bornout selama mengerjakan Laporan BOS pada 2017.

Lelah yang saya rasakan tidak hanya secara fisik tetapi juga batin. Berbagai pekerjaan berat tersebut tidak mendapatkan apreasiasi berupa bayaran yang menurut saya sesuai. Saya mengerti bahwa kondisi keuangan sekolah yang hanya bertumpu pada dana BOS tidak memungkinkan untuk membayar saya atau guru lainnya dengan bayaran yang sama dengan pekerja kantoran. 

Akan tetapi, saya berpikir dengan pekerjaan seberat itu dan upah yang tak terlalu tinggi serta tidak adanya jaminan kesehatan jika saya sakit, lama-lama saya juga akan bisa berada pada titik stres yang luar biasa.

Belum lagi dengan kurang mengertinya beberapa rekan – terutama yang PNS – akan beban kerja saya yang amat tinggi. Tidak jarang, pekerjaan mereka berupa administrasi PNS dilimpahkan begitu saja kepada saya. Lama-lama, burnout parah pun mulai menyerang.

Itu saya rasakan sendiri saat saya mudah mengantuk dan performa saya menurun. Ketika menerangkan pelajaran di kelas, saya merasa tidak bisa melakukannya dengan baik. Konsentrasi saya cepat buyar dengan mengulang nomor soal ketika membahas pelajaran. Ketika mengoreksi soal, saya kerap mendapatkan komplain dari wali murid karena salah menghitung atau salah dalam memberikan kunci jawaban.

Puncak dari stres yang saya rasakan adalah melampiaskannya ke dalam bentuk makanan. Saya bisa makan lebih dari 5 kali sehari untuk meredakan stres tersebut.  Akibatnya, bukannya tambah baik melainkan hal ini memperburuk kondisi tubuh saya yang semakin gemuk. Sebelum bekerja di sana, berat badan saya hanya sekitar 62 kg. Saat akan resign, berat badan saya naik hingga 10 kg menjadi 72 kg.

Lalu, bagaimana cara saya mengatasinya?

Cara pertama dan terakhir adalah resign dari pekerjaan. 

Sebenarnya, ini merupakan langkah terakhir yang bisa kita tempuh. Akan tetapi, bisa menjadi cara pertama jika memungkinkan dan kita sudah benar-benar tidak bisa bekerja dengan baik dan terus mengalami burnout. Jika kita tidak bisa lagi menolak pekerjaan yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab kita.

Keputusan untuk resign ini saya ambil setelah mempertimbangkan masak-masak dan mencari pekerjaan lain sebagai pandangan. Saat itu, saya sudah mantap untuk membuka bimbel saja secara mandiri sambil menekuni hobi ngeblog yang sudah saya lakukan. Saat itu, saya juga beberapa kali bertemu rekan ngeblog yang sudah mendapatkan penghasilan Adsense dari hasil ternak dan budidaya ngeblog-nya.

Saya berpikir jika saya mengubah pekerjaan dari guru formal menjadi guru bimbel dan disambi melakukan budidaya ngeblog, stres saya akan menurun. Walau kini tuntutan sebagai guru bimbel juga kadang cukup tinggi, tetapi saya masih bisa beristirahat. Saya masih mendapat apresiasi berupa upah yang layak dari wali murid yang putranya saya ajar. Saya tidak dikejar mengerjakan tugas administrasi yang mengerikan dan tuntutan yang begitu tinggi.


Dalam kegiatan ngeblog pun meski saya menargetkan untuk konsisten dan menghasilkan, tetapi saya juga melakukannya dengan enjoy. Ketika ada lomba, kalau saya bisa dan temanya pas ya saya ikut. Kalau tidak ya saya jadi penonton sambil blogwalking menyemangati teman-teman blogger yang ikut lomba. Saya tidak ngoyo karena semua ada rezekinya masing-masing. Walau demikian, saya masih bersyukur karena pengasilan Adsense saya tiap bulan mengalami kenaikan. Apresiasi ini menjadi hadiah dalam pekerjaan sampingan saya sehingga tak lagi mengalami burnout meski saya sering ingin menulis dengan detail dan tak banyak dipikirkan oleh banyak orang.

Jika tidak ingin resign, maka sharing kepada orang sekitar adalah kunci. 

Dulu saya memiliki beberapa rekan Guru GTT yang memiliki jadwal khusus untuk sharing semisal saat malam minggu. Kadang kami makan bersama dalam kondisi masih berseragam sambil curcol masalah di sekolah. Karena sama-sama GTT dan memiliki masalah sama soal gaji dan beban kerja yang tak sesuai, maka waktu saling curcol pun menjadi ajang menghilangkan burnout. Paling tidak ada rasa senasib dan sepenanggungan lah.

Saya juga menjalin hubungan dengan Guru GTT lain terutama yang sama-sama mengerjakan Laporan BOS. Tidak jarang, saya menemukan mereka yang juga memiliki masalah tak kalah pelik semisal masalah ekonomi karena sudah berkeluarga. Sambil menunggu pengecekan Laporan BOS di Kantor Diknas, biasanya saya mencari kenalan baru untuk bertukar pandangan. Sedikit guyonan juga kami lakukan agar rasa stres semakin berkurang.

Langkah lainnya jika memungkinkan adalah melakukan tes kepribadian. 

Beberapa waktu lalu saya pernah bercerita mendapatkan kesempatan tes kepribadian (TIC). Dari tes ini saya tahu bahwa kelemahan saya adalah akan mengalami stres jika mengerjakan tugas tak sebagaimana mestinya. Bekerja dalam sebuah instansi juga membuat stres saya semakin parah yang telah terukur dengan parameter tertentu. Hasil tes kepribadian ini semakin menguatkan pilihan pekerjaan saya saat ini agar tidak mengalami burnout.

Di samping itu, saya kini menyusun skala prioritas mengenai pekerjaan saya. 

Jika ada pekerjaan yang masih bisa saya lakukan esok hari dan kondisi tubuh saya sudah capai, maka saya akan memilih beristirahat. Saya yakin Tuhan memberikan waktu 24 jam agar kita bisa membaginya dengan seimbang. Hidup bukan hanya masalah pekerjaan saja kan?

Terakhir, saya juga menyeimbangkan diri untuk berolahraga, menekuni hobi, dan beribadah. Dulu, ketika saya mengalami burnout, ketiga kegiatan ini tidak bisa saya lakukan dengan baik. Salat saja saya sering berada di akhir waktu. Apalagi olahraga yang bisa membuat saya bahagia. Makanya, tiga kegiatan ini juga tak kalah penting agar burnout tidak menjangkiti kita.

Nah ini cerita burnout-ku, mana cerita burnout-mu?

14 comments:

  1. baru tau istilah bornout.. sepertinya semua orang pernah mengalaminya ya mas..
    mungkin kalo gak mau resign, butuh refreshing sejenak bareng keluarga biar bournout-nya hilang ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar refreshing dan kompromi sama atasan atau rekan kerja jadi solusi mbak

      Delete
  2. Born out sama jenuh beda nggak? Klo aku..nggak fokusnya semenjak punya anak. Dulu masih kerja/punya ktr maksudnya. Sering pas kerja, mikir yang di rumah...(anak, apalagi klo sakit/panas)..pas di rumah, mikir kerjaan gimana...ada yang handle apa nggak.. ngrepoti temen apa nggak... Akhirnya resign

    Setelah resign..ternyata ga mudah juga jadi ibu2 full di rumah. Tingkat kebosanan tinggi

    Sekarang udah lumayan. Bisa "lari" dengan ngeblog

    ReplyDelete
    Replies
    1. jenuh salah satu ciri burnout mbak
      kalau diteruskan bisa depresi
      ini info yang aku tau
      yang jelas udah engga semangat banget dan pgn engga melakukan aktivitas tsb lagi terutama bekerja

      wah bisa jadi itu mbak soalnya yang merasakan mbak sulis sendiri
      alhamdulillah bisa ngeblog lagi ya
      dan memang melakukan aktivitas yg kita gemari adalah salah satu solusi

      Delete
  3. kayae aku juga sering mengalaminya deh huahahahahhaha...buktine bola bali awakku serasa renteg kabeh huhu

    hmmm tahun tetkelam 2015 2017 pas maaih ngajar di sd dan dipasrahi ngurusi Bos, administrasi Pns dan lainnya..ditambah kurang berasa diapresiasi ya emang lebih baik mundur alon alon..timbang sayah tok...

    alhamdulilah abis itu jalan ninja menjadi guru bimbel malah luih menjanjikan yo mas...insentif seenggaknya sepadan dengan apa yang dah diupayakan as guru bimbel...di samping ternak blog dan adsense juga lumayan banget tuh buat pasif income...lomba blog sampean juga niat kan dan sering juara...moga sukses sekabehane mas..bimbel lancar jaya...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakka namanya lika liku kehidupan ya mbak
      dirimu kayaknya juga menyakiskanku pas taun taun itu hahaha

      iya alhamdulillah lumayan si sama kayak kerja kantoran lah meski ya engga banyak banget
      cukup untuk kebutuhan sehari2

      wkwkwk kalau masalah lomba itu rejeki2an mbak
      sekarang aku malah belum ikut sama sekali karena kerjaan di bimbel banyak heheh
      amin mbak nita lancar juga ya kerjaaannya...

      Delete
  4. Hidup penuh masalah hal wajar. Kerja juga ada masalah. Jadi pengangguran juga jadi masalah. Stres juga hal wajar, asal bisa mengelola dan mengendalikan. Padai intinya sebenarnya hidup ini perlu hiburan.
    Ada kata pepatah, hidup penuh masalah, jika hidup penuh wijin itu namannya onde-onde :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar bang butuh hiburan kan makanya
      kalau kerja terus ya....
      jadi burnout hahhaa

      Delete
  5. saya juga sudah mengalaminya, makanya saya ngeblog lagi. harus pintar-pintar nyari ide untuk kegiatan sendiri. hal yang satu buat mood jatuh sementara yang satu lagi bias menjadi moodbooster.

    ReplyDelete
  6. AKU BANGET INI. *Sepertinya.. hihihi
    Kerjaanku tuh kalau di pabrik numpuk kaya nggak ada abisnya.. yah memang sih nggak bakal ada abisnya. Tapi leader aku kaya yg "nih bay" "nih bay" gtu.. jadi kaya jedanya tuh hampir nggk ada..

    Kadang kerja cepat malah yg ada bikin capek. Smpet mikir buat kerja santai.. tapi udh terbiasa.. hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas ketumpukan kerja terus ya hahahaha

      aku juga engga bisa si klo nyantai makanya mungkin keliatan workholic jadi disuruh2 terus hahahaha

      Delete
  7. Kayaknya judulnya ada salah ketik ya mas.. Itu bornout.. Seharusnya burn out karena born out kan berbeda artinya dengan burn out.

    Yah, kadang karena saking semangatnya kita ga bisa mengontrol ritme kehidupan kita. Jadilah semua energi dicurahkan dan sampai cadangan semangat serta energi terkuras habis. Rasanya kosong dan cuaaapeekk sekali kalau sudah begitu..

    Nggak ada standar pasti cara mengatasinya. Semua orang harus menyesuaikan dengan karakter dan kebiasaan diri. Mas sepertinya sudah mendapatkan solusinya

    Tetap semangat ya mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini istilah psikologi Pak jadinya burnout
      di jurnal ksehatan juga ditulis burnout meski memang awalnya dari kata burn dan out hehe

      iya saking semangatnya ya pak jadinya cuapek dan lelah mental plus raga

      sebenarnya bener si kita sendiri yang tau karena kita yang mengerti batasan tubuh kita seperti apa

      tetap semangat juga ya Pak Anton..

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.