Gempa Malang: Gempa Besar Bukan Lagi Sekadar Ancaman

Rumah kolega di Tirtoyudo Malang yang hancur akibat gempa

Hari Sabtu (10/04/2021) kemarin saya masih tidur siang.

Saya benar-benar mengantuk karena dini hari saya baru datang dari Yogyakarta. Dunia saya hanya berkutat pada PAS/US/PTS murid saya beserta para pengajar yang saya bagi jadwalnya. Rencana saya, tidur tersebut akan berlangsung sampai Asar tiba hingga kemudian saya mau mencari makanan di luar.

Ketika tidur dan entah mimpi apa, tetiba badan terasa seperti ada yang menggoyangkan. Biasanya, ibu saya yang membangunkan saya untuk meminta saya pergi ke pasar atau tempat lain. Akan tetapi, saya kok merasa guncangannya besar sekali. Masih dalam keadaan mengantuk, tiba-tiba saya mendengar teriakan bahwa telah terjadi lindu alias gempa bumi.

Untungnya saya tidur di lantai bawah dan segera keluar tanpa membawa kacamata. Hanya ponsel yang memang tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Saat saya merekam video gempa tersebut, guncangan masih terasa hingga  berakhir kurang lebih sekitar 2 menit dari guncangan awal. Dalam sejarah kehidupan saya, ini adalah gempa terbesar dan terlama yang saya rasakan.

Ketika para tetangga masih heboh dengan gempa, saya memilih membuka situs BMKG. Sungguh, saya kaget ternyata pusat gempa berjarak sekitar 90 km dari rumah saya. Dan yang membuat saya kaget, kekuatan gempa tersebut adalah 6,7 SR (yang kemudian diralat menjadi 6,1 SR). Pantas saja, semua orang merasakannya dengan kuat.

Penyebab gempa masih belum saya dapat saat itu. Hanya video dan foto kepanikan gempa di sekitar wilayah Kota Malang yang saya dapat. Sekitar 10 menit kemudian, foto berupa ambruknya beberapa rumah pun berdatangan. Baik dari Twitter, FB, dan WAG yang saya ikuti.

Saya mulanya bertanya, di manakah rumah-rumah ambruk tersebut. Ternyata, kebanyakan dari rumah tersebut adalah berada di wilayah tenggara Kota Malang. Beberapa wilayah tersebut adalah Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, dan Turen.


 

 

Keempat kecamatan tersebut memang sangat dekat dengan pusat gempa. Meski tidak berpotensi tsunami, ternyata gempa tersebut cukup merusak. Rumah yang hancur sebagian besar rata dengan tanah dengan kerusakan diawali dari miringnya bangunan yang tidak tahan gempa.

Bahkan, di sebuah desa di Ampelgading, beberapa warga tidak sempat menyelamatkan diri sehingga meninggal dunia. Pun demikian dengan dua orang pengendara motor yang meninggal akibat runtuhan batu besar saat melewati jalan penghubung Malang dan Lumajang. Intinya, gempa kemarin cukup mengerikan.

Beberapa saat kemudian, BMKG pun merilis sebab gempa tersebut yang ternyata akibat aktivitas zona subduksi yang terbentuk akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia.

Gempa dengan tipe seperti ini kebanyakan cukup merusak seperti Gempa Chile 1962 dengan kekuatan 9.2 SR. Ciri khas dari gempa dengan aktivitas ini adalah lempengan yang tenggelam cenderung menekuk pada sudut 25 hingga 45 derajat dari permukaan bumi. Akibatnya, jika dirasakan gempa tidak berguncang secara horizontal tetapi lebih vertikal (naik turun). Ketika saya merasakannya,rasanya seperti naik mobil yang sedang naik dan menuruni sebuah bukit. Makanya, aktivitas ini juga disebut sebagai sesar naik.

Esok harinya, saya memutuskan untuk melihat kondisi di sekitar Malang Selatan yang terdampak gempa ini. Saya memulai perjalanan dari Kota Malang pagi buta agar tidak hujan. Sekitar 1 jam, saya tiba di Kecamatan Turen yang merupakan salah satu kecamatan dengan keramaian signifikan di Malang.

Tak tampak banyak kerusakan di Kota Kecamatan. Namun, ketika saya berjalan ke arah selatan, beberapa kerusakan yang cukup parah bisa saya saksikan. Mula-mula, genting rumah warga banyak yang sudah lepas. Lalu, beberapa rumah sudah mulai doyong (miring) akibat gempa tersebut. Kerusakan mulai terjadi di Desa Talok yang merupakan desa perbatasan Turen dengan Dampit.

Gapura kampung yang rusak akibat gempa

Saya memutuskan tidak ke daerah Dampit dan seterusnya karena saat itu ternyata hujan turun deras. Padahal saat di kota cuaca masih cerah. Selain itu, mobil dan truk bantuan dari BPBD, PMI, tentara, polisi, dan jurnalis silih berganti menuju Dampit. Tak hanya itu, antara Turen dan Dampit juga dibatasi oleh gunung dan bukit dengan jalan yang terjal. Makanya, saya berfokus di sekitar wilayah yang saya anggap aman.

Miringnya rumah dan bangunan di Turen membuat saya resah. Alasannya, bangunan tersebut amat riskan untuk roboh jika gempa susulan masih terjadi. Sekadar diketahui, sejak gempa utama, gempa susulan dengan intensitas ringan masih berlangsung. Bahkan, ada yang kekuatannya hampir menyamai gempa utama.


Kerusakan juga terjadi di wilayah Kecamatan Gondanglegi dan Pagelaran. Di dua kecamatan itu, meski tak separah di Turen, beberapa atap rumah warga juga rusak. Ada sebuah plafon rumah yang jatuh dan membuat penghuninya memilih beraktivitas di luar. Gapura kampung juga banyak yang rusak dan hampir roboh yang semakin menandakan bahwa guncangan gempa saat itu memang amat kuat.



Gempa juga membuat jembatan penghubung antara Gondanglegi dan Kepanjen sedikit retak. Saya tidak sempat memotretnya karena saat itu lalu lintas sedang ramai. Meski hanya sedikit, tapi cukup membuat saya was-was karena jembatan tersebut masih dilalui oleh kendaraan berat.

Kerusakan juga terjadi di Kota Kepanjen yang merupakan ibukota dari Kabupaten Malang. Beberapa fasilitas umum dan rumah ibadah juga rusak karena gempa ini. Ada sebuah kompleks militer dan gedung pemerintahan milik Pemkab Malang juga terlihat rusak pada bagian atapnya. Untung saja, gempa tidak membuat aktivitas masyarakat di Kota Kabupaten tersebut terganggu. Masyarakat masih bisa melakukan aktivitas di Minggu pagi dengan normal.

 


Gempa kali ini memang tak terduga. Pasalnya, meski juga sering diguncang gempa, Kota Malang beberapa waktu terakhir tidak pernah mendapatkan guncangan gempa sebesar kemarin. Akan tetapi, jika merujuk pada sejarah, gempa besar dan merusak ternyata pernah mengguncang Malang. Beberapa gempa yang tercatat sejarah antara lain 1896, 1937, 1962, 1963 dan 1972. Gempa 1962 merupakan gempa yang paling merusak di samping gempa pada 2021 ini.

Adanya gempa besar ini juga membuat saya semakin sadar bahwa mitigasi bencana amat penting. Sayangnya, hal ini kerap diabaikan oleh masyarakat. Saat saya melihat video detik-detik di sebuah pusat perbelanjaan di Malang, saya cukup sedih.

Pasalnya, dalam video berdurasi 1 menit tersebut tampak seorang pria mengolok-olok rekannya yang sedang berlindung di bawah meja. Padahal, kegiatan tersebut lebih penting daripada panik berebut berlarian keluar gedung. Tentu, pemahaman ini amat penting karena jika tidak memungkinkan untuk keluar bangunan, maka melindungi bagian tubuh penting seperti kepala adalah kunci.

Semoga saja kejadian ini bisa memberi pelajaran agar kita tetap waspada terhadap bencana dan siap ketika gempa bumi terjadi. Kita memang tidak mengharapkan akan terjadi gempa bumi lagi. Namun, Tuhan memberi kita karunia tinggal di daerah yang rawan bencana gempa bumi sehingga mau tidak mau kita harus berteman dengan mereka dengan bersiap kapan pun mereka datang.

Oke, terima kasih sudah membaca. Maaf, belum bisa blogwalking seperti sedia kala karena kesibukan saya yang masih luar biasa dan membantu kerabat yang sedang ditimpa bencana.

Bye..

20 Comments

  1. Mas Ikrom, semoga keluarga baik2 saja yaaa. Ikut prihatin mas. Aku baru tahu malang kena gempa pas dibilang suami. Lha keinget banyak temen blogger yg di sana. Bahkan katanya getaran sampe Surabaya juga.

    Bbrp kali aku jg rasain gempa di Jakarta, dan ttp aja takut. Trutama Krn kebayang gempa besar kayak di Aceh dulu yg sampe tsunami. Bbrp kali aku ngerasain gempa pas sedang di lantai atas gedung, yg mana goncangan gempa jauuuh lebih berasa saat di atas. Waktu itu aku ngerasain sampe berputar, berdiri aja ga bisa lurus. Apalagi saat gempa di gedung, semua staff hrs turun dr tangga, dan ga boleh lift. Biasanya itu malah membuat makin panik. Kasian pas ada staff yg hamil.

    Semoga kerusakannya cepet teratasi ya mas. Lagi banyak musibah saat ini :(.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillajh baik2 saja mbak
      iya aku juga ngeri kalau di gedung
      untung saja aku pas tidur di lantai bawah
      ga ngebayangin juga kalau di lantai 2 huhu

      Delete
  2. Semoga Mas dan keluarga beserta masyarakat Malang, terutama yang terdampak gempa, segera terkondisikan.

    Saya tahu banget rasanya pasca gempa besar. Tiap kali ada gempa susulan, pasca gempa Jogja dulu, spontan saya dan para tetangga selalu berhamburan keluar rumah. Masih panik.

    Sekali lagi, semoga semua terkondisikan, Mas.

    ReplyDelete
  3. Kak Ikrom, semoga keadaan di sana bisa segera pulih ya :( Aku sendiri juga takut kalau sedang gempa, paling takut kalau atap roboh. Sangat disayangkan di Indonesia itu pengetahuan akan penanganan saat bencana sangat rendah, padahal Indonesia termasuk zona rawan bencana alam :( berlindung di bawah meja itu kan salah satu tindakan utama yang harus dilakukan saat gempa terjadi, tapi malah jadi bahan olok-olokkan :(
    Semoga tingkat kewaspadaan masyarakat bisa semakin meningkat ya. Hati-hati Kak Ikrom. Semoga Kakak dan keluarga selalu dalam perlindunganNya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin iya mbak saya juga takut
      dan bener mesti banyak perbaikan mengenai mitigsi bencana di sini

      Delete
  4. Ya ampun aku kmarin pas ngedenger gempa disana langsung kepikiran teman2 yg tinggal disana..
    Semoga bisa cepat pulih dan kembalu seperti semula. Aminn

    Aku yah paling takut kalau gempa. Di Indonesia ini khususnya pulau jawa rawan banget sama Gempa. Dan benar kata Lia. Masyarakat kita kurang aware sama kewaspadaan bencana seperti gempa ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas amin terima kasih
      dan memang jadi PR kita bersama mengenai mitigasi bencana ini

      Delete
  5. Mas Ikrom semoga baik baik saja disana, keluarga juga semoga selamat semuanya.

    Ngeri juga ya gempa bumi kali ini, waktu dengar gempa ini agak shock juga, karena pasti ada korban jiwa karena gempanya besar. Getarannya katanya sampai Surabaya.

    Betul saja, banyak bangunan yang rusak bahkan rubuh ya mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin terima kasih mas memang ngeri kali ini gempanya

      Delete
  6. Mas Ikrom dan keluarga bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja ya, Mas..

    Gempa ini juga terasa sampai di Kediri lho, Mas. Waktu itu aku mau tidur siang, dan tiba-tiba aku merasa kasurku goyang. Aku lihat segala perabotan di sekitarku juga goyang. Akhirnya aku langsung ajak keluargaku keluar rumah semua.

    Ngomong-ngomong gempa itu adalah gempa yang paling kuat dengan durasi paling lama yang pernah aku rasakan, mas. Bahkan ketika gunung Kelud meletus beberapa tahun silam, gak berasa ada gempa seperti beberapa hari yang lalu. 😣

    Semoga aja masyarakat yang terdampak selalu diberi kesehatan ya, mas. Dan semoga kerusakannya segera bisa dibenahi. 🤲

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah baik mbak
      di kediri kerasa banget ya padahal jauh lo
      bener ini gempa paling besar yang aku rasakan

      Delete
  7. Semoga selalu diberi perlindungan ya Mas. Pengalaman pertama saya merasakan gempa di Palu, jujur aja malah ngefreze saking shocknya. Semoga semuanya diberikan perlindungan, dan keselamatan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah iya mbak itu besar skali dampaknhya dan bikin trauma ya
      amin semoga baik baik saja

      Delete
  8. Ikut prihatin ya mas, semoga keluarga baik2 saja, semoga kerusakan bisa segera teratasi.

    Seomoga kita semua selalu dilindungi dan dijauhkan dari musibah.

    ReplyDelete
  9. Semoga mas dan keluarga selalu dalam lindunganNya dan terhindar dari segala marabahaya. Amin YRA

    ReplyDelete
  10. Mas Sabtu tanggal iki winginane ae aku pas banget lagi ke Bandung nganter Bulekku ngunduh mantu daerah lembang. Rampung acara kok bulek heboh, jare lihat berita ada gempa berkekuatan tinggi di daerah Malang. Langaunglah ku teringat konco blogger Malang termasuke dirimu huhu

    Semoga saja gempanya mereda ya, andaipun masih ada susulan ga separah yang pertama, cz pancen dilihat lihat kerusakan yang ditimbulkan di beberapa lokasi dekat pusat gempa lumayan parah...

    Mudah mudahan selalu dilindungi ya Mas Ikrom sekeluarga, juga diberi kemudahan waktu mbantu saudara yang terdampak juga.

    Memang masalah mitigasi bencana ini penting sih...khususnya jika ada lindu yang biasanya datang sewaktu waktu alias dengan cara dadakan hingga yang ada kita sering panik duluan huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Nita alhamdulillah gempa susulannya tidak besar
      memang kudu jadi pelajarn bersama ya masalah mitigasi ini
      amin YRA...

      Delete
Next Post Previous Post