Nostalgia Sinetron Zaman Dulu Lewat ABG, Saat Sinetron Indonesia Tak Cacat Logika

Photoshoot pemeran Sinetron ABG

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah sinetron jadul yang episode lengkapnya muncul di beranda You Tube saya.


Sinetron tersebut adalah sinetron ABG yang dimainkan oleh duet fenomel pada zamannya, Hengky Kurniawan dan Masayu Anastasia. Hengky yang kini menjabat sebagai PLT Bupati Bandung Barat terlihat mengelus rambut Masayu yang tampak marah. Waduh, belum apa-apa thumbnail video tersebut sudah menarik untuk dilihat. Apalagi, mimik wajah Bapak Bupati yang masih remaja itu seakan serius.

Saya pun akhirnya memutar sebentar video tersebut dan akhirnya bernostalgia kembali mengenang masa lalu. Memori lama pun muncul ketika bayangan sientron ini sudah saya tonton saat masih SD. Tangan saya pun berlanjut ke Wikipedia untuk merujuk kapankah sinetron ini tayang. Ternyata, dugaan saya tepat. Sinetron ini tayang sekitar tahun 2002.

Saat itu, saya cukup tertarik dengan acting keduanya, terutama Masayu yang wajahnya cukup imut. Belum lagi sederet pemeran lain seperti Ratu Felisha, Dimas Setyo, BCL, Tommy Kurniawan, dan tentunya Jonathan Frizzy. Namun, saya hanya bisa sepotong-sepotong melihatnya karena tayang saat jam belajar. Itu pun bisa saya saksikan hanya seminggu sekali.

Maka, dengan sedikit berat hati, saya pun mencoba melihat sinetron ini mulai episode pertama. Eh ternyata malah keterusan hingga sekarang mencapai episode 20an. Setelah menonton, bayangan sinetron ini yang dulunya dipersepsikan kurang baik ternyata salah. Sinetron ini cukup bagus mengajarkan batasan pergaulan ABG yang harus diketahui para remaja, terutama remaja SMA.

Namun, fokus saya pun lebih kepada para pemain yang ada di sana. Sinetron RCTI yang berkompetisi dengan Cinta SMU di Indosiar ini memiliki segudang pemain yang benar-benar berkualitas. Hengky misalnya yang apik membawakan sosok anak SMA pandai, berkharisma, dan pekerja keras. Demikian pula Masayu dan Ratu Felisha dengan mimik mukanya yang khas bisa membuat saya terhipnotis untuk terus melihat aklting mereka.

Masayu Anastasia dan Ratu Felisha yang apik memerankan siswi centil ala anak SMA


Saya tidak tahu mengapa saya bisa langsung jatuh hati tetapi peran pemain sinetron ini begitu penting. Mereka membuat sinetron ini hidup, tidak monoton, dan banyak hal tak terduga yang bisa mereka suguhkan. Tentu, dengan sangat menyesal aspek-aspek tersebut tidak dimiliki oleh para pemain sinetron saat ini terutama yang muda.

Ketika dialog terjadi, jalinan komunikasi benar-benatr terjalin. Masalah yang mereka hadapi dalam skenario sinetron tersebut seakan benar-benar hidup. Mereka benar-benar berdialog secara langsung dan jarang sekali berbicara dengan diri sendiri seperti yang sering ada dalam sinetron Indonesia saat ini.

Kuatnya dialog juga didukung dengan aktivitas yang mereka lakukan. Makan, mengerjakan tugas, atau kegiatan lain. Mereka tidak hanya berdiri dan mematung serta berkumpul banyak orang seperti yang ditampilkan sinetron Indonesia zaman now. Jadi, saat saya melihat sinetron ABG ini, saya benar-benar melihat fragmen kehidupan manusia yang hidup. Bukan fragmen patung.

Improvisasi yang dilakukan oleh mereka juga cukup apik. Semisal, ketika ada pemain baru yang datang di suatu adegan, salah seorang dari mereka memindahkan barang yang mengganggu. Mereka tidak terpusat pada script dialog yang harus mereka paparkan. Meski sepele, improvisasi ini penting untuk menjaga agar penonton tetap menikmati adegan. Sungguh berbeda dengan sinetron masa sekarang yang abai akan masalah ini.

Saya pernah melihat sebuah sinetron remaja masa kini yang salah seorang pemainnya menindih buku di dekatnya demi dekat dengan lawan mainnya untuk meneruskan dialog. Lah, ini kan tidak masuk logika kecuali kalau memang ingin mengajarkan bahwa buku tidaklah penting. 

Demikian pula mengenai properti yang digunakan. Semisal, Lembar Kerja Siswa (LKS). Pada sinetron ABG ini, kerap muncul adegan para pemain mengerjakan LKS ketika belum sempat mengerjakannya di rumah. Dan mereka benar-benar menulis jawaban di lembar kerja tersebut. Saya pun juga menikmati tulisan mereka meski ada beberapa (terutama yang pria) tidak terlalu bisa dibaca.

Tidak hanya itu, bagaimana pemain menerima, memahami, dan menyelesaikan masalah menjadi slaah satu poin plus sinetron ini dan sinetron dulu. Melalui pemahaman ini, kita bisa belajar ketika ada sebuah masalah, ada berbagai bentuk penerimaan yang akan dilakukan seseorang. Ada yang langsung marah, menangis, diam, dan lain sebagainya. Proses tersebut juga diikuti dengan dukungan dari lingkungan sekitar agar sang tokoh bisa mencerna kembali masalah yang mereka hadapi. Jikalau harus berkelahi dan memaki, rasanya itu terjadi jika sang tokoh benar-benar berada pada titik terendahnya dan tidak ada yang bisa mendukungnya.

Berbagai bentuk penerimaan tersebut akan bisa tergambar jelas dalam setiap tokoh sehingga pemirsa bisa memetakan dalam otak karakter yang sedang mereka tonton. Sungguh berbeda sekali dengan sinetron sekarang yang jika ada masalah pilihan pun jatuh pada berkelahi, main labrak, atau menangis semalam. Makanya, ketika saya melihat thumbnail sinetron sekarang, saya kurang tertarik begitu pun jika melihat satu episode saja.

Saya tidak tahu dan berspkulasi apakah perbedaan yang cukup besar tersebut terjadi karena proses casting yang bisa jadi mengandalkan wajah daripada kualitas. Lantaran, jika boleh jujur wajah pesinetron dulu sepertinya biasa-biasa saja. Wajah orang Indonesia kebanyakan bukan wajah blasteran. Kalau pun ada, mungkin Tamara Blezensky adalah yang paling fenomenal. Meski demikian, mereka benar-benar all out untuk bisa menarik perhatian pemirsa. Peran yang mereka mainkan benar-benar tetap terpatri hingga saat ini seperti duet Hengky dan Masayu tadi.

Namun, dalam sebuah wawancara kepada Rano Karno di sebuah TV, ternyata memang industri sinetron yang harus kejar tayang membuat sinetron sekarang cacat logika. Bagaimana tidak, jika dulu sinetron tayang seminggu sekali kini harus tayang setiap hari. Jika dulu ada proses seleksi ketat di stasiun TV sebelum ditayangkan, maka sekarang pun tidak.

Bang Rano bahkan menyebut saat ini, apabila sebuah sinetron tayang pukul 7 malam, videonya bisa saja pukul 5 sore baru hadir di stasiun TV pada hari yang sama. Dengan waktu jeda 2 jam sebelum penayangan, bagaimana kualitas seleksi dan penyensoran bisa dilakukan dengan baik?

Cacat logika yang menurut saya cukup fatal adalah ketika ada endorsement produk di tengah sintetron. Saat penonton mulai asyik dengan dialog yang terjalin, eh tiba-tiba mereka beriklan suatu produk yang tidak nyambung sama sekali.

Makanya, saya tetap memilih sinetron Filipina yang logikanya masih terpakai dengan baik. Tema cerita yang tak monoton, terutama seputar kontroversi LGBT menjadi daya tarik tersendiri. Sinetron Filipina jarang sekali yang tayang tiap hari. Kalau pun ada, durasi waktunya tak lebih dari 30 menit. Ide cerita yang apik pun tetap terjaga. Beda sekali dengan sinetron Indonesia yang jam tayangnya bisa 3 jam lebih sampai bosan tetapi miskin logika dan ide di dalamnya.

Jujur, generasi terakhir pemain sinetron yang saya lihat adalah yang seumuran saya, seperti Shireen Sungkar, Chelsea Olivia, Glen Alinskie, dan lain sebagainya. Setelah generasi tersebut tak lagi aktif, saya tak kenal satu pun pemain sinetron selain Prilly Latuconsina.

Meski rasa suka saya terhadap sinetron kini sementara beralih ke sinetron Filipina, tapi lama-lama capai juga jika harus menonton setiap episode berulang agar saya paham dialog mereka lantaran tak  ada subtitle bahasa Tagalog di dalamnnya. Jadi, saya sangat berharap ada gebrakan sinetron Indonesia yang hampir semuanya kini cacat logika.

4 comments:

  1. Wah saya jadi tahu bedanya sinetron dulu dan sekarang. Jarang nonton sinetron, nonton Sinetron yang bagus ya Preman Pensiun, ngikuti dari awal hingga Preman Pensiun 3. Belum pernah nonton Sinetron Philipina. Salam sehat dan selamat beraktifitas Pak Ikrom.

    ReplyDelete
    Replies
    1. preman pensiun saya engga begitu mengikuti pak tapi bagus sepertinya
      salam sehat juga ya...

      Delete
  2. Sekarang aku sama sekali nggak ngikutin sinetron.

    Klo awal2 muncul ftv itu aku liat, tapi sekarang males. Sering aneh klo nemu jalan cerita yang nggak logic, jumping...

    Dulu aku penikmat sinetron jamannya Ari Sihasale, Ari Wibowo, Desi Ratnasari.. paling suka klo sinetronnya diangkat dari novel..Mira W paling sering

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener engga masuk logika ya mbak
      saya bella saphira masoh ngikutin juga fav banget itu

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.