![]() |
| Trans Jatim Malang Raya |
Kemarin, saya mencoba naik bus Trans Jatim K1 Malang Raya yang baru diresmikan.
Namanya pertama kali di Malang, tentu saya sangat senang sekali. Akhirnya Malang punya BRT sama dengan kota besar lain. Malang bisa tertata transportasi umumnya. Masak sih kota sebesar Malang transportasi umumnya masih begitu-begitu aja.
Walau terkesan dengan armada bus bernama Gajayana berwarna biru, tetapi ada beberapa hal yang harus dilakukan pembenahan. Pembenahan ini bisa melihat dari keberhasilan Trans Jateng saat awal launching dulu. Maklum, Trans Jateng hadi lebih dulu, 5 tahun lebih awal dibandingkan Trans Jatim. Meskipun tentunya mereka masih ada kelemahan, tetapi paling tidak mereka bisa lebih rapi dan siap sebelum membuka rute baru.
Pertama, masalah halte
Sebelum launching, Trans Jateng sudah siap dengan halte yang terbangun. Halte tersebut sudah dilengkapi tanda plang bus stop sebagai rambu penunjuk. Di dalam halte juga terdapat berbagai informasi seperti rute, cara pembayaran, aturan di dalam bus, ketentuan barang bawaan, hingga beberapa informasi penting lainnya.
Jika ada beberapa pemberhentian belum terbangun halte, maka pihak Trans Jateng akan memberi semacam banner bahwa tempat tersebut merupakan halte sementara. Jadi, penumpang masih bisa naik dan turun di tempat tersebut. Yang penting penumpang tidak bingung saat akan naik karena sudah ada tanda.
Tak hanya itu, kadang ada beberapa tempat pemberhentian belum bisa digunakan untuk naik dan turun atas berbagai alasan. Pihak Trans Jateng biasanya tetap menuliskan pemberhentian tersebut, tetapi memberi tanda silang sebagai tanda bahwa sementara bus belum bisa berhenti di sana. Nantinya, denga seiring waktu, tempat tersebut akan berfungsi sebagai titik pemberhentian.
![]() |
| Penupang Trans Jatim menungg di sebuah rambu |
Nah, yang saya alami saat naik perdana Trans Jatim kemarin, masih banyak halte belum siap. Sebenarnya, saya masih bisa menoleransi ketiadaan bangunan halte. Cukup rambu bus stop saja sebagai tempat pemberhentian sudahlah cukup. Paling tidak, calon penumpang bisa tahu bahwa di sana tempat mereka menunggu bus.
Apesnya, rambu bus stop juga banyak yang belum terbangun. Jadi, banyak calon penumpang yang bingung di mana mereka harus menunggu bus. Yah seperti tebak-tebak buah manggis. Kalau beruntung, ya bus akan berhenti.
Beberapa calon penumpang mengeluhkan ketiadaan halte ini di media sosial. Banyak yang menjulukinya sebagai halte ghoib yang entah di mana keberadaannya. Beberapa rencana halte juga masih simpang siur jadi apa tidak. Inilah yang harus dievaluasi ke depannya agar memudahkan penumpang untuk naik bus ini. Bagaimanapun, halte adalah sarana penting yang menunjang sebuah BRT.
Kedua, masalah sopir dan kondektur
Saya mencoba naik bus Trans Jatim pada hari kedua pengoperasian. Saya baru tahu bahwa sopir Trans Jatim berasal dari sopir angkot di Malang yang sudah direkrut. Sementara, kondektur bus ternyata berasal dari kondektur bus Trans Jatim rute Porong-Gresik. Mereka belum pernah tahu jalanan di Malang Raya.
Mereka baru dipasangkan pada hari itu untuk melayani penumpang. Alhasil, mereka harus meraba-raba rute dan halte yang dilalui oleh bus. Terlebih, kondektur bus yang bukan orang Malang cukup kesulitan dalam menempatkan posisi halte. Ia terus melihat aplikasi Trans Jatim agar sesuai dengan yang semestinya.
Walau masih awal, setidaknya keduanya sudah paham lebih dulu. Sedikit membandingkan, beberapa hari atau minggu sebelum launching, sopir dan kondektur Trans Jateng sudah melakukan uji coba bus tanpa penumpang. Mereka akan menghafalkan rute dan letak halte sebelum bus benar-benar dilaunching.
Jadi, saat bus sudah launching, mereka sudah siap dengan rute dan halte. Tidak lagi gelagapan saat ditanya penumpang mengenai halte A, B, C, dst. Sebenarnya, ini adalah SOP dasar dalam pengoperasian BRT. Kalau kondektur bingung dengan halte dan rute, bagaimana dengan para penumpangnya? Pasti akan lebih bingung.
Terakhir, masalah jarak antar halte
Saya paham sekali bahwa adanya BRT semacam Trans Jatim dan Trans Jateng ini adalah penolakan dari sopir angkot. Makanya, pihak pemda memang harus bisa menggandeng berbagai pihak, terutama sopir angkot agar bisa menerima dan ikut mendukung moda ini. Walau sulit, tapi perlahan pasti akan bisa terlaksana.
![]() |
| Halte Trans Jateng yang sudah terbangun dengan baik |
Salah satu kendala Trans Jatim Malang Raya adalah jarak antar halte yang cukup jauh, terutama di wilayah Kota Malang. Bayangkan dari arah Sawojajar halte berikutnya hanya ada di Stasiun Malang. Itu jauh lo sekitar 3 km lebih. Memang tujuannya agar tidak beririsan dengan rute angkot yang masih eksis. Namun, kalau terlalu jauh ya rasanya kok kebangetan. Padahal, sebenarnya bisa dibangunsatu halte diantara keduanya semisal di sekitar kawasan rampal.
Ada juga halte yang semula direncanakan dibangun tapi juga ada sedikit masalah sehingga hampir tidak jadi, yakni di kawasan Kampus II Universitas Negeri Malang. Untung saja, setelah ada tekanan halte ini tetap ada. Berbeda dengan Trans Jateng, halte yang tersedia jaraknya cukup dekat. Mereka pun juga memodifikasi halte insidental di sekitar kawasan industri agar bisa mengakomodasi para pekerja dan buruh.
Semoga dengan adanya Trans Jatim Malang Raya ini, meski harus ada pembenahan bisa menjadi solusi transportasi masyarakat Malang Raya. Intinya adalah perbaikan terus agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi.


