![]() |
| Bunda Jaka Tarub dan Raul Rocha. - Dok.Istimewa |
Gelaran Miss Universe 2025 telah selesai dihelat.
Ajang ini telah memenangkan Fatimah Bosch sebagai pemenang. Gadis asal Meksiko tersebut telah berhasil mengalahkan sekitar 120 peserta lainnya. Wakil Indonesia, Sanly Liu masih belum berhasil masuk babak selanjutnya. Indonesia masih belum bisa lolos untuk keempat kalinya sejak terakhir Ayu Maulida berhasil masuk ke babak first cut pada 2020.
Kemenangan Meksiko ini menggenapi gelar keempat mereka setelah pernah memenangkan kontes ini pada 1991, 2010, dan 2020. Walau sudah menjadi pemenang, tetap saja banyak pihak yang merasa kecewa karena kemenangan ini sudah dirancang sebelumnya. Mengapa mereka bisa berpikir demikian?
Tak lain, sejak awal karantina, sudah banyak sekali drama yang menyertai ajang ini. Salah satunya melibatkan sang pemenang yang sudah pernah saya tulis sebelumnya. Fatima - panggilan akrab Miss Universe 2025, pernah melakukan walk out setelah dimaki dimuka umum oleh Natdir Miss Universe Thailand, Nawat Itsaragrisil. Aksi ini dianggap sebagai settingan belaka karena ternyata Fatima akhirnya yang memenangkan Miss Universe 2025.
Setelah kemenangan ini, ada banyak pihak yang curiga bahwa ada hubungan dekat antara Fatima dengan Raul Rocha, pemilik Miss Universe yang juga dari Meksiko. Ayah Fatima diduga memiliki hubungan bisnis yang sangat kuat dengan Raul. Ada juga yang mengatakan bahwa Fatima pernah bersama dengan Raul dalam sebuah hubungan khusus. Walau isu ini masih belum jelas kebenarannya, tetapi banyak orang yang sudah percaya akan satu hal. Fatima dan Raul punya kedekatan khusus dan kemenangannya sudah dirancang.
Keyakinan ini semakin kuat karena menjelang malam final ada beberapa juri yang mengundurkan diri. Tidak hanya mengundurkan diri, mereka juga melakukan speak up alasan pengunduran dirinya. Salah satunya mengatakan bahwa rumor perancangan siapa saja yang masuk babak Top 30 sudah dilakukan tanpa melibatkan mereka. Walau rumor ini ditepis oleh Raul Rocha, tetap saja mereka mengundurkan diri.
Ketidaktransparanan pihak Miss Universe semakin kuat saat tidak adanya auditor untuk mengaudit dan menghitung ulang skor penilaian. Biasanya, mereka akan hadir untuk melakukan audit dan memastikan bahwa penjurian Miss Universe memang dilakukan secara adil. Tidak adanya pihak auditor ini disayangkan banyak pihak, termasuk beberapa Miss Universe terdahulu yang ikut berkomentar soal hasil yang didapatkan.
Pageant lover di seluruh dunia pun juga menilai bahwa ketiadaan auditor ini membuat urutan juara tidak sebagaimana mestinya. Semisal, Pantai Gading yang memiliki jawaban cemerlang dan penampilan paling menawan malah berada di posisi kelima. Kalau pun bukan Pantai Gading yang tampil sebagai pemenang, masih ada Filipina, Venezuela, dan Thailand yang jauh lebih layak dibandingkan Meksiko.
Bahkan, jika dibandingkan dengan beberapa kontestan yang gagal masuk Top 5, penampilan Meksiko dianggap masih jauh di bawah mereka. Alhasil, drama yang terjadi antara Fatima dan Nawat dianggap sebagai settingan belaka. Drama ini dianggap untuk menarik simpati publik kepada Fatima yang sudah dipersiapkan menjadi pemenang.
Di sisi lain, dua pemilik Miss Universe yakni Anne Jakrajutatip dan Raul Rocha sedang mengalami masalah hukum. Bunda Jakatarub - sapaan Anne diduga melakukan penggelapan terhadap perusahaannya yakni JKN sehingga ia kini dalam buronan. Sementara, Raul diduga berperan dalam kejahatan obat-obatan terlarang, perdagangan senjata dan manusia di perbatasan Meksiko dan Guatemala. Kalau membicarakan perbatasan dua negara ini saya jadi ingat cerita Mbak Trinity Traveler saat melintasi keduanya.
Carut marut yang terjadi di dalam tubuh organisasi Miss Universe saat ini cukup memprihatinkan. Bagaimana bisa salah satu kontes kecantikan tertua dan prestisius bisa jadi seburuk itu. Apalagi, jika pemiliknya punya catatan kelam sehingga ajang ini kini tak ubahnya ajang untuk mengeksploitasi perempuan. Kita rindu saat Miss Universe benar-benar menghasilkan ratu yang benar-benar layak. Kita rindu Miss Universe yang memiliki banyak gelaran amal seperti saat menggandeng platform Smile Train.
