Bengong di Dalam Angkutan Umum; Cara Terbaik Menemukan Jati Diri

Ilustrasi

Saya ini tipe orang yang susah untuk berdiam diri statis di suatu tempat.

Walau tempat seindah apapun, seestetik apapun, bagi saya akan terasa membosankan jika saya berdiam diri di sana dalam waktu lama. Entah, rasanya ingin beranjak pergi ke tempat lain dan terus berjalan hingga saya capai. Barangkali, itulah alasan saya menganggap diri saya sebagai seorang flaneur alias orang yang gemar berjalan-jalan tanpa tujuan tertentu. 

Dengan cara begini, saya bisa menemukan jati diri saya. Penemuan ini tidak terjadi seketika, tetapi lahir dari proses yang sangat panjang. Semisal, saat saya naik bus, saya bisa mendapatkan pelajaran berharga dari beberapa orang sekaligus. Saya bisa bertemu beberapa orang yang sifat dan keinginannya ada pada diri saya.

Semisal, saat saya bertemu anak-anak sekolah yang bercerita panjang lebar mengenai mimpi dan keinginan mereka, saya jadi sadar bahwa saya masih punya mimpi dan harapan yang belum tercapai, Saat mereka tertawa terbahak-bahak karena bercerita hal-hal receh, saya piun sadar bahwa saya juga melakukannya, asal ada teman yang bercerita hal yang sama.

Kadang, saya bertemu dengan orang dewasa yang sangat sibuk dengan urusannya masing-masing. Melihat mereka tidak lepas dari gawai yang mereka pegang dengan menghubungi orang, saya sadar juga sedang di posisi yang sama. Saat saya sibuk dan seakan melalaikan dunia di sekitar saya karena tujuan pekerjaan yang harus saya lakukan.

Pun demikian saat saya bertemu lansia yang tertatih-tatih saat naik atau turun dari kendaraan. Saya merasa, tidak lama lagi saya akan mengalami hal yang sama. Saat usia saya tak lagi muda, rambut semakin memutih, dan badan yang makin ringkih. Makanya, saat bertemu mereka saya kerap mendengarkan kisah perjalanan hidup yang mereka lalui, dari anak-anak hingga lansia.

Pertemuan dengan berbagai lintas usia dalam angkutan umum ini menjadi salah satu agenda rutin yang saya lakukan. Walau saya juga melakukannya untuk membuat konten dan bekerja, tetapi saya sering berniat tidak ada tujuan tertentu saat naik angkutan umum. Hanya berputar-putar sambil melihat aneka manusia dengan segala karakternya berkumpul menjadi satu yang sifat-sifatnya ada pada saya.

Kadang, saya baru sadar bahwa perjalanan saya terlalu jauh sehingga saya harus menyediakan banyak waktu untuk kembali ke tempat semula. Kalau sudah begini, biasanya saya menjadikan sopir dan kondektur angkutan umum sebagai rekan perjalanan saya. Mereka juga bercerita banyak soal kehidupan yang mereka lalui sepanjang hari itu. Dengan siapa saja mereka bertemu, bagaimana watak penumpang yang mereka angkut, hingga berbagai kisah lain yang tidak saya dapatkan di tempat lain.

Tempat paling pas untuk bengong

Di sisi lain, dengan bengong di dalam angkutan umum, saya jadi bisa mengurangi keegoisan dan keakuan dalam diri. Kalau biasanya timbul persepsi dalam diri bahwa kepentingan saya harus didahulukan, keinginan saya harus terpenuhi, dan saya harus yang utama, maka saat bengong di dalam angkutan umum, rasa egois itu perlahan memudar. Ada yang lebih harus diutamakan selain saya.

Pernah suatu ketika saya mencoba untuk duduk di kafe atau tempat lain agar bisa merenungi hidup, ternyata rasa bosan yang muncul. Saya malah tidak nyaman dengan kondisi sekitar dan akhirnya malah beranjak pergi berputar-putar kembali.

Kalau sedang tidak ingin naik angkutan umum, saya biasanya motoran juga berkeliling entah ke mana. Yang jelas, saya hanya ingin bertemu orang baru dan makin memaknai apa itu diri saya yang sebenarnya.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya