![]() |
| Ilustrasi - inews.com |
Rangkaian acara sudah dimulai sejak Sabtu, 7 Februari sore yakni kedatangan para peserta dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Timur. Pihak panitia sudah menyediakan berbagai tempat parkir dan transit bagi para hadirin yang datang untuk memeriahkan Harlah NU ini.
Dari rangkaian acara yang dirilis pihak panitia, sebenarnya acara ini cukup baik. Ada tausiah, sholawatan, dan juga khotmil quran. Acara pun juga dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subianto yang sekaligus membuka acara,
Namun, peringatan Harlah NU ke-100 ini ternyata banyak yang dikeluhkan oleh warga Kota Malang. Mereka seakan tidak ikhlas jika Kota Malang menjadi tuan rumah acara Harlah Ormas keagamaan terbesar di Indonesia ini. Apa alasannya?
Pertama, tentu kemacetan
Dipilihnya Stadion Gajayana sebagai venue acara membuat banyak ruas jalan di sekitarnya ditutup untuk umum. Ruas jalan ini kebanyakan adalah ruas jalan di tengah kota yang menjadi penghubung warga beraktivitas dari berbagai arah.
Kemacetan Kota Malang cukup luar biasa, terutama saat akhir pekan. Terlebih, di belakang dari stadion tersebut berdiri pusat perbelanjaan terbesar di Kota Malang, yakni Mall Olympic Garden.
Tidak ada event saja macetnya sudah luar biasa. Apalagi, kini ada event dengan peserta 100 ribuan orang. Apa engga stuck di jalan?
Kedua, Kota Malang sudah sering menggelar acara keagamaan dengan menutup jalan
Banyak orang yang protes soal acara ini dan kemudian disanggah dengan kalimat bahwa acara ini tidak digelar setiap hari. Tentu, mereka yang protes akan kembali membalikkan argumentasi bahwa acara serupa setidaknya sudah dilakukan sebanyak dua kali dalam waktu dekat ini.
Walau dengan penyelenggara berbeda, tetap saja acara haul habib tersebut membuat kemacetan luar biasa. Banyak warga Kota Malang terganggu dengan acara tersebut. Namun, mereka hanya bisa melampiaskannya lewat media sosial. Itu pun juga dengan berbagai bantahan.
Entah apa alasan banyak sekali acara haul yang dilakukan dengan menutup jalan. Saya sampai berpikir apakah sang habib atau kyai memberikan amanat agar menggelar acara seremonial semacam ini dengan meriah?
Ketiga, banyak profesi yang terganggu dengan adanya acara ini
Kemacetan memang akan membuat banyak profesi yang harus tetap bekerja pada hari H Haul/Harlah. Salah satu contohnya adalah para pekerja di MOG. Mereka banyak yang mengeluh harus tetap bekerja karena tuntutan profesi. Mall pun tidak memberikan kebijaksanaan tutup sementara waktu.
Beberapa pekerja mall menumpahkan kesusahannya di media sosial. Mereka bercerita dihimbau agar tidak menggunakan kendaraan pribadi dari rumah ke tempat kerja. Lah, bagaimana bisa. Wong transportasi umum di Kota Malang aja bapuknya luar biasa.
Adanya Harlah ini juga menyebabkan beberapa gereja Protestan dan Katolik yang menata ulang jadwal ibadah mereka. Bahkan, salah satu gereja Katolik di Malang meniadakan jadwal misa pada hari minggu. Asli, saya sampai tidak bisa berkata-kata.
Walau ini (katanya) wujud toleransi, tetapi bagi saya miris ketika umat minoritas harus mengalah. Ibadah misa adalah ibadah yang sakral dan menjadi hak mereka. Namun, mungkin rekan-rekan Katolik memang sudah terbiasa dengan “toleransi” semacam ini.
Keempat, bebagai isu yang tidak sedap dalam Ormas NU
Harus diakui, beberapa tahun terakhir Ormas NU menjadi samsak bagi banyak orang, terutama yang tidak terafiliasi dengan Ormas tersebut.
Isu tambang, korupsi dana haji, kebijakan pro Israel, dan berbagai isu lain membuat banyak orang kontra terhadap apapun yang terkait dengan Ormas tersebut. Belum lagi, isu gus-gusan di Malang beberapa waktu terakhir yang dianggap mencoreng Ormas ini.
Jadi, ada seorang gus sekaligus youtuber yang dianggap melecehkan seorang wanita. Gus tersebut memiliki sebuah pondok dan cukup dekat dengan NU karena pernah menjadi anggota Ansor.
Adanya kasus ini membuat banyak orang makin sinis terhadap NU. Banyak orang beranggapan bahwa Ormas ini hanya dijadikan kedok untuk meraup keuntungan pribadi.
Berbagai kontra terhadap acara Harlah ini setidaknya bisa dijadikan evaluasi bagi NU agar lebih baik. Terutama, jika mereka ingin menggelar acara dalam skala besar. Bukankah ada hadis yang melarang muslim untuk menyusahkan urusan orang lain?
Jika masih ingin menggelar acara semacam ini, mbok ya dipilih area lapang dan jauh dari pusat keramaian. Stadion Kanjuruhan misalnya. Banyak warga Kota Malang yang kontra dengan acara ini memberikan opsi agar acara dilakukan di sana. Siapa tahu juga bisa jadi berkah stadion yang sempat horor akibat Tragedi Kanjuruhan 2022 lalu.
Apapun itu, alangkah lebih baik acara Harlah ini juga dilakukan dengan menapaktilasi tempat-tempat yang bersejarah dan lekat dengan Ormas ini. Salah satunya adalah monumen perjuangan resolusi jihad NU di Surabaya. Menapaktilasi sejarah di sana bagi saya cukup penting untuk memaknai sejarah panjang Ormas ini.
Ya sudahlah memang acara ini harus terselenggara. Kadang kalau protes akan diprotes balik: “Ngajimu kurang jauh”.
Ya, ngaji saya kurang jauh sambil membayangkan beberapa rekan yang kesusahan ke rumah sakit dekat tempat Harlah untuk berobat.


