Mengawali Bulan Puasa dengan Berita Penemuan Jenazah

Ilustrasi.

Bulan puasa tahun ini rasanya ada yang berbeda dan agak janggal.

Jika sebelumnya saya melaluinya dengan sukacita, tetapi kali ini rasanya saya agak miris mengawalinya, Bukan karena saya tidak suka puasa atau bulan Ramadhan. Namun, saya mengawali bulan puasa kali ini dengan aneka berita penemuan jenazah yang cukup miris.

Dimulai dari penemuan jenazah saat kegiatan live konten kreator tempat terbengkalai. Lalu ada penemuan jenazah di dalam koper di sebuah rumah. Ada juga penemuan jenazah pria di gresik dan Kediri. Barusan saja, saat saya menulis tulisan ini, ada jenazah wanita di Malang yang ditemukan di sebuah sungai. Sungai yang pernah saya lewati beberapa saat lalu.

Saya sampai tidak bisa berkata-kata. Kok ya setiap hari ada saja berita miris ini. Berita yang seakan menjadi pembicaraan wajib setiap hari. Sampai-sampai, saat saya datang ke kedai kopi, ada bapak-bapak berceletuk: “besok akan ditemukan jenazah di mana lagi?”

Kejahatan penghilangan nyawa dan membuang jenazahnya seakan menjadi tren selama menjelang puasa. Para pelaku seakan tidak peduli bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan puasa. Bisa jadi, setan di dalam diri mereka sangat ingin melampiaskan keinginannya sebelum dibelenggu di bulan suci. Makanya, mereka membisiki para pelaku dengan tindak kejahatan yang luar biasa.

Diantara sekian kasus penemuan jenazah, saya paling miris dengan kasus yang menimpa siswa SMP di Bandung. Jenazahnya ditemukan oleh konten kreator yang sedang melakukan siaran langsung di bekas tempat wisata. Andai konten kreator tersebut tidak membuat konten, bisa-bisa jenazah pelajar tersebut akan makin membusuk dan rusak.

Saya sangat miris dengan latar penghilangan nyawa pelajar tersebut yang ditengarai oleh hubungan asmara LGBT. Korban diduga menjauhi pelaku karena ia tahu menyimpang. Padahal korban awalnya tulus berteman dengan pelaku dan mereka kerap main bersama.

Kasus ini menjadi bukti bahwa tindak kekerasan dan penghilangan nyawa juga bisa terjadi kepada anak laki-laki. Seringkali, orang tua merasa bahwa anak laki-laki bisa menjaga diri sehingga diberi kebebasan pergaulan dibandingkan anak perempuan. Padahal, kejahatan bisa mengintai siapa saja. Tidak peduli laki-laki atau perempuan.

Tak hanya itu, kita harus sadar, sesimpel apapun masalah bisa berujung penghilangan nyawa. Kadang soal pertemanan, asmara, dan yang paling sering hutang piutang. Pentingnya komunikasi dengan pihak yang berselisih paham dengan kita adalah kunci. Kalau kita tidak bisa menyelesaikannya, maka meminta bantuan pada orang lain sangat diperlukan.

Kemarin, ada rekan saya yang mengalami masalah hutang piutang dengan seseorang. Ia sudah menagih dengan segala cara tapi tidak berhasil. Hingga pada suatu ketika, ia berniat melaporkan ke kepolisian. Namun, sang penghutang malah mengancam akan menganiayanya dan bisa saja berujung pada penghilangan nyawa. Tak lama, ia pun segera melapor ke kepolisian. Ia juga menyewa jasa keamanan dan datang ke rumah penghutang.

Bisa jadi karena keluarganya takut, maka mereka memberi jaminan motor padanya. Sejak saat itu, sang penghutang pergi entah ke mana. Motor itu pun ia jual dan hutangnya ia anggap selesai walau masih kurang beberapa juta. Ia sudah mengikhlaskan daripada masalah makin panjang.

Dari sini saya sadar untuk tidak gampang percaya kepada orang baru. Saya juga menghindari pergi sendirian saat malam hari. Saya juga menghindari berurusan dengan suku tertentu. Bukan rasis, tapi pengalaman saya berurusan dengan mereka seringkali ruwet. 

Masalah memang ada, tetapi yang terpenting tidak melampiaskan dengan emosi. Memang sulit menebak watak orang saat ini. Kadang, orang terdekat dengan kita malah berniat jahat pada kita. 

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya