Saling Mengikuti Ritme, Kunci Sukses Bekerja dengan Gen Z


Ilustrasi

Sebagai millennial pertengahan, kadang saya jengah dengan sikap Gen Z di tempat kerja saya.

Yah namanya Gen Z, mereka tidak bisa dipaksa untuk bekerja dengan suasana kaku, dalam tekanan, dan dengan target yang luar biasa. Sementara saya, meski juga tidak terlalu kaku dan cukup fleksibel, tetapi tetap punya target kerja yang harus saya selesaikan tepat waktu.

Alasan saya punya pemikiran semacam itu cukup sederhana. Saya punya prinsip kalau orang Jawa bilang “Ndang mari ndang wis”. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti lebih cepat lebih baik. Saya tidak suka membawa pekerjaan ke rumah, mengerjakannya pada akhir pekan, dan mengganggu waktu istirahat saya.

Lebih baik saya habiskan waktu, tenaga, dan pikiran saya di tempat dan jam kerja meski kadang saya mengalami burn out. Alasan saya simpel. Saya hanya ingin semuanya sesuai porsi dan waktunya. Saatnya bekerja ya saya harus bekerja. Saatnya istirahat ya saya harus istirahat.

Sayangnya, pemikiran semacam ini tidak dimiliki oleh banyak Gen Z, termasuk di lingkungan kerja saya. Mereka sering mengeluh burn out saat jam kerja sehingga produktivitasnya terhambat. Pekerjaan mereka pun akhirnya terganggu dan tidak bisa selesai tepat waktu. 

Alhasil, ketika saya istirahat atau tidak memiliki jadwal shift bekerja, mereka seringkali merecoki saya dengan pertanyaan seputar pekerjaan mereka. Mau tidak dijawab atau dibantu kok ya kepikiran, tapi mau terus dibantu eh lama-lama ngelunjak. Saya jadi tidak bisa memiliki waktu untuk kegiatan lain.

Seiring waktu, saya pun akhirnya membuat kesepakatan dengan mereka.Kesepakatan ini berupa pengaturan ritme kerja bersama. Lantaran waktu kerja yang sebenarnya fleksibel, saya pun meminta mereka untuk mencari jadwal diskusi dengan saya di luar jam kerja. Semisal, saat hari Jumat malam atau Senin pagi. FYI, jadwal kerja saya mengikuti anak sekolah pulang, yakni siang hingga malam.

Dua waktu tersebut sebenarnya bukan waktu saya bekerja. Saat hari jumat, saya mendapatkan shift agak pagi karena harus pulang ke Malang sore harinya. Namun, saya rela mengulur waktu pulang lebih malam agar saat Sabtu dan Minggu, mereka tidak lagi merecoki saya dengan berbagai pertanyaan.

Pun demikian saat Senin pagi yang bukan jadwal saya bekerja. Saya yang masuk siang hari akhirnya harus merelakan beberapa jam di Senin pagi untuk bisa berdiskusi dengan mereka. Pilihan ini saya ambil agar waktu weekend saya benar-benar maksimal. Jadi, kalau saat weekend saya pasang status jalan-jalan atau makan di luar dan mereka kesusahan, saya masa bodoh. Yang penting saat Jumat malam dan Senin pagi saya sudah kosongkan jadwal dengan mereka.

Sebagai konsekuensi, saya juga meminta mereka untuk full all out bekerja saat Senin-Rabu.Tiga hari ini benar-benar krusial. Tidak bisa ditinggalkan untuk keperluan lain. Barulah, jika sudah mulai Kamis-Jumat, saya sedikit melonggarkan mereka fleksibel menyelesaikan pekerjaan mereka. Jika tak selesai dan tidak terlalu penting, saya membebaskan mereka mengerjakan pekerjaan di luar tempat kerja. 

Saya memahami beberapa diantara mereka lebih cepat bekerja di luar kantor, entah di kafe atau di mana pun. Asal beres dan sesuai dengan standar yang diberikan. Namun, untuk hari Senin-Rabu, semua harus tetap di kantor.

Fleksibilitas semacam ini memang menjadi jalan tengah antara saya sebagai pimpinan bergen millenial dengan anak buah saya yang sebagian besar Gen Z. Saya merasa pilihan ini jauh lebih masuk akal dibandingkan tetap memaksakan full 5 hari kerja. Kadang, saya juga mengadakan rapat bersama yang hanya saya saja di kantor. Sementara, tim saya sudah entah di mana. 

Biasanya kegiatan ini dilakukan saat siswa les sedang libur. Mereka enggan untuk datang ke kantor dengan alasan tidak ada siswa. Padahal, saat itu banyak agenda yang harus dibicarakan.  Kalau saya memaksa mereka masuk ke kantor, maka yang terjadi adalah kurangnya efektivitas waktu. Ada saja diantara mereka yang terlambat. Pembahasan masalah rapat pun akan stuck karena mereka merasa dalam keadaan tidak menyenangkan. 

Untuk itulah, mengadakan rapat daring adalah solusi. Saya sering mendapatkan ide cemerlang mereka yang duduk di kafe atau tempat lain. Kadang, saya malah dapat pencerahan dari mereka saat benar-benar buntu. Mereka baru saja mendapatkan ide setelah menyeruput beberapa gelas minuman kekinian. 

Nah, di era pekerjaan yang kini banyak didominasi Gen Z, fleksibilitas ini sangatlah perlu. Namun, aturan mengikat bagi mereka juga tetap harus diterapkan. Standar target kerja juga tetap diberlakukan.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya