Saat Niat Bukber Seru Berakhir Kacau

Ilustrasi. Gemini AI

Entah saya yang memang tidak suka bukber, tapi tahun ini saya kok sering melihat kekacauan buka bersama di media sosial.

Kekacuan ini sering terjadi dengan narasi yang hampir sama. Ada sekelompok orang yang mengadakan buka bersama di sebuah tempat. Mereka sudah melakukan reservasi tempat dan melakukan pembayaran di muka.

Mereka sudah datang di tempat berbuka puasa bersama. Namun, saat azan magrib tiba, makanan yang dipesan tak kunjung datang. Bahkan, ada diantara mereka yang harus menahan lapar hingga jam 8 malam karena makanan tak juga tersedia. 

Alhasil, mereka pun protes kepada pemilik tempat makan yang digunakan untuk berbuka puasa. Ada yang memaki pelayan restoran. Ada yang sampai menuju ke dapur untuk memastikan bahwa makanan mereka memang bisa dimasak. Ada yang bahkan hingga menemui manajer atau pemilik restoran untuk komplain ketidaknyamanan yang mereka alami. Namun, ada pula yang memllih pergi dari tempat tersebut dan mencari tempat lain dengan tentunya memviralkan kejadian yang mereka alami.

Berbagai kekacauan tersebut tidak hanya terjadi di satu dua tempat. Tidak hanya terjadi di satu kota saja, melainkan hampir merata terjadi seantero Indonesia Raya. Lantas, mengapa hal ini terjadi?

Sebagai orang yang awam di dunia usaha kuliner atau FnB, saya sebenarnya tidak mengetahui apa yang ada di balik dapur mereka. Namun, saya juga pernah mengalami hal serupa dan melihat betapa kacaunya proses melayani pelanggan saat jam berbuka puasa. Pada intinya, ada 3 alasan utama yang membuat chaos saat berbuka di sebuah tempat makan.

Pertama, antrean pelanggan yang tidak melihat kapasitas tempat makan. 

Sebuah restoran pasti punya jumlah tempat makan. Sebesar apapun restoran tersebut, pasti ada kapasitas maksimal. Saat pelanggan melakukan reservasi, sebenarnya mereka bisa menghitung jumlah tempat makan yang tersedia.

Mereka bisa membatasi jumlah reservasi pada hari tersebut. Walau begitu, agar tidak rugi, selain meminta uang pembayaran di muka, mereka bisa memberikan aturan pada pelanggan. Semisal, adanya pelanggan yang hadir pada waktu tertentu. Katakanlah setengah 5 sore. Nah, jika ada tempat yang semestinya dipesan pelanggan, tetapi pelanggan tidak hadir pada jam tersebut, maka tempat tersebut bisa dialihkan ke pelanggan yang baru datang.

Sayangnya, kapasitas tempat makan ini tidak diterapkan dengan baik oleh banyak restoran. Mereka terus menerima pesanan dan reservasi saat tempat sudah penuh. Kadangkala, mereka nekat untuk menambah tempat duduk tambahan padahal tempat makan sudah benar-benar penuh. Alhasil, kemampuan dapur untuk memasak pun dipaksa sedemikian rupa.

Ada salah seorang pemilik rumah makan yang bercerita kepada saya bahwa ia selalu memberikan porsi 70% kepada pelanggan yang sudah reservasi. Sisanya, sebanyak 30% ia berikan kepada pelanggan yang baru datang pada hari-H. Tujuannya baik. Agar pelanggan yang baru datang tidak kecewa dan masih bisa menikmati masakannya. Walau tentu kebijakan ini bisa saja menjadi bumerang karena menolak reservasi dari pelanggan potensial.

Kedua, adanya orderan ojek online yang tidak berhenti.

Selain melayani pelanggan makan di tempat, banyak restoran juga masih melayani orderan ojek online saat menjelang berbuka puasa. Pelanggan online ini juga kadang lebih didahulukan karena adanya jarak tempuh yang harus dipenuhi.

Saat kondisi antrean di dalam restoran membludak, alangkah baiknya pihak restoran mematikan fitur pemesanan online ini. Bukan mematikan rezeki, tetapi pelanggan yang sudah datang sudah seharusnya diprioritaskan. Mereka berhak untuk mendapatkan makanan tepat waktu karena sudah datang jauh. Kepuasan mereka adalah nyawa restoran.

Terkecuali, jika restoran memang sudah mengantisipasi orderan online ini dengan menambah tenaga di dapur. Beberapa restoran juga memisahkan tenaga dapur antara pelanggan makan di tempat dan pelanggan online. Jadi, meski orderan online membludak, dapur tetap bisa berkonsentrasi untuk memasak pelanggan makan di tempat.

Ketiga, miskomunikasi antara dapur dan pelayan. 

Adanya miskomunikasi antara tenaga dapur dengan pelayan juga menjadi salah satu penyebab kekacauan di restoran saat menjelang berbuka puasa. Namanya juga ramai antrean, pasti ada kesalahan. Entah salah memasak menu atau mengantarkan makanan.

Sebenarnya, trik mencetak salinan menu menjadi beberapa buah adalah kunci. Semisal, bagian dapur wajib punya 1 buah, pelayan restoran punya 1 buah yang mereka bawa, kasir 1 buah, dan sisanya untuk ditempel di meja pelanggan.

Saat makanan atau minuman datang, pelayan restoran bisa mencoret menu di meja pelanggan. Jadi, saat ada makanan yang kurang, maka pelayan tinggal mengeceknya kembali ke dapur karena ada bukti di meja pelanggan. Sayang, tidak semua restoran melakukan kegiatan ini.

Alhasil, saat ada menu yang kurang, maka yang terjadi adalah adu argumen antara pelayan, pelanggan, dan tenaga di dapur. Bahkan, kemarin ada restoran yang viral karena seorang pelayan meminta pelanggan untuk menghitung piring sisa makanan yang sudah mereka makan karena adanya ketidakcocokan antara menu yang dipesan dengan menu yang diantarkan. Jujur, ini adalah tindakan ceroboh dari sebuah restoran yang membuat namanya tercoreng.

Ada SOP juga yang dikatakan oleh seorang tenaga dapur bahwa merekalah yang harus memasak makanan kembali jika ada makanan yang dirasa belum diberikan atau salah diberikan pada pelanggan. Nanti, setelah close order, mereka bisa mengatakan kepada manajer untuk dievaluasi. Kalau pun ada pemasakan ganda, nantinya bisa dicari penyebab kesalahannya setelah restoran tutup. Yang terpenting makanan sampai dulu ke pelanggan. 

Bagi saya memang SOP ini benar, tetapi jadi terkesan tenaga dapur yang harus bertanggung jawab. Makanya, memberikan kertas pada meja pelanggan adalah kunci. Masing-masing pihak, baik pelayan dan pelanggan bisa mengecek. Jika memang ada yang kurang, kertas tersebut bisa jadi bukti.

Ada banyak hal lain terkait bukber riweh yang saat ini terjadi. Namun, kunci untuk segera mengatasi krisis yang baik adalah yang utama. Mengetahui kapasitas sebuah restoran juga hal yang tak kalah penting. Jangan sampai pemilik ingin untung banyak tapi menyepelekan pelanggan. Jika rating google dan komentar buruk datang, maka semuanya jadi sia-sia.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya