Tiga Kue Kering Khas Lebaran yang Mengingatkan Zaman Sekolah

Ilustrasi

Lebaran kurang beberapa hari lagi.

Jika berbicara mengenai lebaran, tentu di pikiran kita terlintas kue lebaran yang beraneka ragam. Ada beberapa kue yang seakan menjadi kue wajib yang harus ada saat lebaran. Sebut saja nih, kastengel, nastar, dan lain sebagainya. Namun, ada juga orang yang lebih suka membeli kue lebaran dari berbagai merk.

Saya sih tidak mempermasalahkan hal tersebut. Yang penting kan ada kue lebaran yang tersedia. Namun, sejak kecil, keluarga saya sudah punya tradisi untuk membuat kue lebaran yang akan dihidangkan di meja tamu. Sejak kecil atau sekolah, saya juga sangat senang jika membantu saudara untuk membuat kue. Walau sedang puasa, rasanya berasa kenyang.

Nah, diantara sekian kue lebaran yang khas, ada tiga buah kue yang selalu menjadi andalan keluarga saya. Dua diantaranya mengingatkan akan almarhum nenek dan bude saya. Kue apa sajakah itu?

Kue semprit dari tepung larut

Nenek saya dari ibu memiliki ritual khusus membuat kue lebaran berupa kue semprit dari tepung larut. Bahan tepung larut sengaja dipilih oleh nenek saya saat itu karen mudah dicerna oleh gigi sehingga bisa cepat larut. Yah namanya saja yang membuat lansia dan akan dimakan oleh lansia, maka beliau selalu membuat kue ini.

Tidak main-main, beliau membuat kue ini sampai 3 kg resep dari tepung larut. Tepung larut sendiri kalau tak salah adalah salah satu jenis dari tepung kanji yang memiliki sifat basa alami. Nama lainnya adalah tepung garut. Mengapa beliau membuat sebanyak itu?

Alasannya ya karena beliau tidak membuat kue lainnya. Beliau hanya membeli beberapa kue toples dan menggoreng kerupuk puli. Jadi, hampir setiap tahun beliau membuat kue ini.

Nah, saya sering diminta untuk membantu beliau. Mulai dari membeli bahan hingga ikut mencetak kue. Asli, saya senang banget jika disuruh mencetak kue semprit ini. Ada yang dicetak lurus dan ada yang dicetak bentuk S. Ada yang versi original, versi ditambah coklat bubuk, dan ada versi mix.

Saking banyaknya kue yang harus dibuat, maka proses pengerjaan kadang sampai memakan waktu tiga hari. Selama tiga hari saya full membantu nenek saking gabutnya karena libur sekolah. Walau saat lebaran saya tidak terlalu suka makan kue semprit ini, tapi entah kenapa saya suka bau khasnya. Apalagi saat dipanggang di oven, rasanya lapar selama puasa hilang seketika. 

Setelah nenek meninggal, praktis tidak ada lagi yang meneruskan pembuatan kue ini. Ibu saya beberapa kali membeli kue semprit kiloan. Saat ada tamu yang datang, mereka sering bernostalgia kue buatan nenek saya.

Kue nastar bentuk apel

Diantara anak-anak dari nenek saya, hanya almarhum bude saya yang sepertinya punya keahlian membuat kue. Beliau ini punya buku resep masakan kue yang sangat banyak. Sering uji coba resep baru dan saya juga sering diminta untuk membantunya.

Salah satu resep kue andalan almarhum bude saya adalah kue nastar bentuk apel. Kue nastar ini resepnya hampir sama dengan kue nastar kebanyakan. Ada selai nanas sebagai isian di dalamnya. 

Satu hal yang membedakan adalah jika bentuk kue nastar kebanyakan adalah persegi, maka bentuk nastar apel ini ya bulat seperti apel. Ada tambahan batang cengkeh sebagai aksesoris tangkai apel. Tentu saja, batang cengkeh ini tidak bisa dimakan.

Namun, saat saya membantu bude saya, rasanya senang sekali menancapkan cengkeh ini ke adonan nastar yang akan dioven. Setelah itu, bude saya akan melumeri adonan dengan putih telur yang sudah diberi pewarna makanan. 

Saat kue sudah matang, aduh cantik sekali. Berasa apel sungguhan. Bau wangi nastar akan berpadu dengan bau khas dari cengkeh. Perpaduan bau yang bagi saya tidak bisa ditemukan pada resep masakan lain. Saya sering membawa kue ini meski beberapa biji untuk buka puasa di tempat ngaji saking senangnya berhasil membuat kue seimut itu.

Kue onde-onde ketawa

Lain cerita dengan apa yang dilakukan oleh ibu saya. Beliau sangat anti membuat kue yang dipanggang. Selain tidak punya oven, beliau berkata bahwa membuat kue panggangan tidak praktis sama sekali. Alhasil, jika beliau membuat kue semuanya adalah kue yang digoreng. Mulai stik bawang, pastel mini, sampai onde-onde ketawa.

Nah, onde-onde ketawa adalah kue andalan buatan ibu saya. Dulu beliau pernah berjualan kue ini di sekolah saat belum jadi PNS. Hasilnya bisa digunakan untuk menyambung hidup saat krisis moneter.

Bagi saya resep onde-onde ketawa sangatlah simpel. Hanya tepung terigu, mentega yang dipanaskan, telur, gula, dan baking powder. Semua bahan dicampur lalu dibentuk bulat. Setelah itu ditambahkan wijen dan dibelah sedikit sebelum digoreng. Sesimpel itu.

Walau simpel, kue ini membuat nagih. Mungkin rasa renyah dan empuk yang membuat siapa saja ingin terus memakannya. Kalau musim lebaran begini, ada saja orang yang minta dibuatkan kue onde-onde mini ini oleh ibu saya. Padahal, beliau sudah sering tidak mau membuat lagi dengan alasan sudah capai.  

Itulah tiga kue lebaran yang selalu terkenang saat masih sekolah dulu. Kalau kalian sendiri, kue apa yang memorable saat lebaran?

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya