![]() |
| Ilustrasi. - Dok. Istimewa |
Beberapa waktu terakhir, lini masa media sosial dihebohkan dengan ulah seorang wanita penerima LPDP yang tinggal di Inggris.
Dia mengunggah betapa bahagianya mengubah status kewarganegaraan anak keduanya dari WNI menjadi warga negara Inggris. Walau unggahan ini disebabkan alasan bahwa ia sudah tidak tahan dengan kondisi bangsa dan negara Indonesia, tetap saja unggahan tersebut berdampak pada cacian luas pada dirinya.
Tak lain, ia adalah penerima beasiswa LPDP. Sebuah keuntungan luar biasa yang didapatkan dari pajang rakyat Indonesia. Artinya, pendidikan dan kehidupannya di luar negeri ditanggung oleh rakyat Indonesia. Pun demikian dengan berbagai fasilitas yang ia terima. Maka, cacian dan hujatan pun terus mengalir pada diri dan suaminya yang juga penerima beasiswa LPDP.
Terlebih, netizen yang Maha Agung telah menemukan fakta bahwa sang suami adalah anak dari seorang pejabat negara yang pernah diperiksa KPK. Fakta ini semakin membuat amarah netizen yang sangat tidak suka dengan segala hal berbau kebusukan. Fakta ini juga membuat banyak orang bertanya, seberapa transparan pemberian beasiswa LPDP? Mengapa mereka yang mendapatkan beasiswa ini kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas dan dekat atau berkorelasi dengan pejabat?
Diantara sekian banyak fakta yang terbuka, entah dari dulu saya kurang begitu antusias dan respect terhadap penerima beasiswa LPDP. Alasan utamanya ya karena sumber pendanaan beasiswa tersebut dari pajak. Tiap tahun, ada ribuan kuota penerima beasiswa LPDP. tahun 2026 ini saja, ada sekitar 5.750 orang penerima beasiswa yang masih diperebutkan. Jumlah sangat besar.
Terlebih, jumlah nominal yang diberikan pada tiap penerima LPDP juga cukup besar. Mulai jutaan rupiah hingga milyaran rupiah. Bayangkan uang sebanyak itu apa tidak sia-sia jika akhirnya banyak yang memilih untuk bekerja di luar negeri. Walau ada penalti dan beberapa hukuman bagi mereka yang tidak menjalankan kontrak untuk bekerja dan berkontribusi di dalam negeri, tetap saja mudah bagi para penerima untuk mengakali kontrak tersebut. Mudah untuk mendapatkan uang di luar negeri demi membayar penalti.
Tal hanya itu, entah bagi saya para penerima LPDP ini kurang begitu berdampak terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Saya kurang mendengar dampak nyata dari mereka yang sudah merasakan beasiswa LPDP. Kalau pun ada, ya sebatas pembuatan konten di media sosial mengenai apa yang mereka lakukan. Selain itu, saya belum mendapatkan dampak nyata bagi mereka.
Sederhana saja, mereka yang mendapat beasiswa LPDP di bidang pelayanan kesehatan masyarakat. Adakah terobosan dalam mengurai antrean panjang di Puskesmas atau Rumah Sakit milik Pemerintah? Walau tidak menyelesaikan masalah secara keseluruhan, adakah dampak atau terobosan baru dari mereka? Tidak ada kan.
Di bidang pendidikan, saya belum menemukan penerima LPDP yang bisa ikut andil serius dalam pembuatan kurikulum. Saya yakin jumlah mereka juga banyak. Kalau mereka benar-benar serius, paling tidak mereka bisa berdampak pada kekacauan kurikulum saat ini. Atau mungkin berkontribusi pada sistem MBG yang ruwetnya naudzubillah.
Saya melihat, setelah mereka lulus, mereka seakan dilepas begitu saja. Tidak ditampung dalam suatu tim sesuai bidang keahlian masing-masing. Mereka mencari bidang yang mereka tekuni sendiri. Kalau masa pengabdian dianggap selesai, ya sudah begitu saja. Tidak ada kelanjutan harus apa yang penting menggugurkan kewajiban. Sayang kan uang rakyat dihamburkan begitu saja?
Padahal, pemerintah bisa lho membentuk badan khusus yang menampung alumni LPDP ini. Mereka diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Hal yang sama ketika Jepang mengirim banyak anak muda belajar di luar negeri setelah kalah perang. Mereka diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas di dalam negeri. Kalau dilepas ya sama saja bohong.
Tak hanya itu, saya melihat banyak penerima LPDP seperti Mbak Seset yang viral ini tidak napak alias sombongnya naudzubillah. Merasa paling unggul dan bisa berbuat apa saja. Mereka tidak sadar, satu saja blunder di media sosial, hidup mereka akan hancur seketika. Saya juga kenal beberapa rekan penerima LPDP yang ya tuhan seperti Tuhan Yang Maha Esa dengan segala keangkuhannya. Makanya, saat mereka show off kehebatan mereka, saya hanya bisa bilang, “oh”.
Saya lebih senang jika uang pajak rakyat digunakan untuk memperbanyak jenis beasiswa lain seperti bidik misi. Saya melihat banyak anak-anak SMA dan SMK yang sangat berkekurangan tidak bisa mendapatkan beasiswa ini. Mereka akhirnya mengubur mimpi untuk berkuliah padahal kemampuan mereka sebenarnya bisa. Ada juga seorang mbak-mbak TKW yang saya pernah saya lihat videonya bercerita bahwa ia pernah lolos SNMPTN. Lantaran kurang biaya dan ada hal lain, ia akhirnya memilih jadi TKW.
Saya yakin jika mereka diberi kesempatan, maka mereka bisa mendayagunakan akal dan tenaganya untuk bangsa. Tidak seperti Mbak Saset yang sudah memakan uang rakyat eh belagu pula.
