![]() |
| Ilustrasi |
Beberapa hari terakhir ini, rasanya dunia maya penuh dengan skandal lomba cerdas cermat yang diselenggarakan oleh MPR RI.
Saya tidak akan menulis panjang lebar kronologinya karena sudah banyak tersebar di dunia maya. Di sini, saya hanya ingin membagikan perspektif saya sebagai siswa yang pernah iktu lomba serupa dan sebagai guru yang pernah mengantarkan lomba.
Dalam lomba dengan penjurian terbuka seperti cerdas cermat, juri adalah kunci. Juri memegang peranan penting dalam menentukan hasil lomba. Juri menjadi hal utama yang akan menentukan apakah peserta berhak mendapatkan hadiah, maju ke babak selanjutnya, atau tidak mendapatkan apa-apa.
Nah, suka atau tidak, juri dianggap sebagai hal yang sangat berkuasa. Bahkan, kalimat keputusan juri dianggap mutlak dan tidak bisa diganggu gugat menjadi salah satu kalimat yang harus ditaati. Namun, pertanyaannya, apakah kalimat dan aturan tersebut benar-benar tidak bisa diberikan catatan khusus?
Lomba cerdas cermat berbeda dengan lomba penjurian tertutup seperti kontes kecantikan. Walau penjurian kontes kecantikan juga bisa dilihat oleh banyak orang, tetapi poin-poin yang didapatkan peserta tidak bisa dilihat oleh semua orang. Artinya, jika ada orang yang tidak terima, maka dampaknya tidak akan sebesar lomba dengan penjurian terbuka.
Pada lomba cerdas cermat, semua orang bisa menghitung skor peserta. Semua peserta bisa menentukan apakah jawaban peserta benar atau salah. Semua peserta pun bisa menjadi juri bayangan yang bisa mengoreksi penilaian jika ada kesalahan.
Masalahnya, bagaimana mekanisme koreksi tersebut bisa berjalan dengan baik? Bagaimana juri bisa tetap memberikan penilaiannya tapi dengan kepuasan banyak pihak dan mendekati kebenaran mutlak?
Itulah pentingnya persiapan matang sebelum lomba berlangsung. Maka, pihak penyelenggara harus benar-benar mempersiapkan segalanya, baik teknis maupun nonteknis. Mereka harus mempersiapkan banyak hal mulai juknis penjurian, mekanisme protes peserta, waktu yang dibutuhkan tiap soal, hingga hal-hal teknis seperti speaker agar tidak ada lagi alasan juri tidak mendengar dengan jelas jawaban peserta.
Satu hal yang saya lihat dari lomba ini adalah mereka tidak mempersiapkan semuanya dengan baik. Lomba ini hanya menjadi ajang tahunan yang asal ada pemenangnya. Entah ada titipan atau tidak, saya tidak menekankan hal itu. Yang terpenting, pihak penyelenggara harus mempersiapkan segalanya termasuk saat ada peserta yang protes atau juri yang tidak mendengar jawaban peserta dengan baik.
Saya pernah dua kali mengikuti lomba cerdas cermat sepanjang saya sekolah. Pertama, saat saya SD dan kedua saat saya SMA. Saat SD, saya pernah mengikuti lomba cerdas cermat Matematika tingkat Kota. Alhamdulillah, saya menjadi juara pertama dan ada satu momen yang saya ingat ketika saya menjawab dengan kunci jawaban berbeda dengan yang dibaca juri.
Perbedaan tersebut sebenarnya tidak mengubah esensi jawaban saya. Walau sedikit ada jeda, alhamdulillah jawaban saya bisa diterima dan saya mendapatkan poin penting karena jarak saya dengan lawan hanya 10 poin. Saya masih ingat beberapa juri berdiskusi cukup lama sebelum memutuskan jawaban saya benar.
Pengalaman kedua saat saya mengikuti lomba cerdas cermat PMR di sebuah universitas swasta. Jujur, saat baru datang, saya agak pesimis karena acara yang agak molor. Saat itu, satu sekolah boleh mengirimkan banyak tim.
Saat lomba berlangsung, ada momen yang membuat teman wanita saya menangis. Kejadiannya mirip dengan apa yang terjadi pada lomba CC MPR kemarin. Saya masih ingat pertanyaannya mengenai SKB menteri soal sebuah keputusan. Rekan saya menjawab dengan SKB terbaru sementara juri berpegang pada SKB yang lama. Tim teman saya pun mendapat pengurangan nilai. Saat tim lawan menjawab dengan jawaban SKB lama, mereka pun dibenarkan.
Suasana panas pun sempat terjadi meski tidak berlangsung lama. Tim teman saya pun gugur termasuk tim saya yang sudah kalah sejak awal. Saya masih ingat bagaimana kecewanya teman saya yang hampir setiap hari menghafal banyak sekali bacaan untuk lomba ini. Untung saja, ada tim lain dari sekolah saya yang berhasil jadi juara 2. Namun, momen tidak mengenakkan ini masih terngiang sampai sekarang dan muncul kembali setelah kejadian serupa.
Mental siswa yang rusak akan senantiasa teringat meski menang kalah adalah hal biasa. Akan tetapi proses untuk menang atau kalah itulah yang penting. Kalau memang kalah dan sesuai dengan mekanismenya tak masalah. Namun, jika kalah karena faktor X, rasa nyeseknya luas biasa.
Di samping itu, kejadian lomba CC MPR kemarin sebenarnya menggambarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Juri adalah gambaran nyata kebanyakan pejabat kita. Pembawa acara adalah buzzer pemerintah. Siswa SMAN 1 Sambas sebagai rakyat yang nggiatheli memanfaatkan kesusahan sesama rakyat demi keuntungan pribadi. Tampak pada video wawancara mereka yang masih sangat bangga dengan hasil aneh yang mereka dapat.
Siswa SMAN 1 Sanggau sebagai WNI yang cari aman. Bodo amat terhadap apa yang terjadi. siswa peserta lomba terutama dari SMAN 1 Pontianak adalah rakyat dengan status WNI yang terdzolimi
Disitu terlihat jelas kalo pejabat kita yang salah namun secara terang-terangan menyalahkan orang lain karena mereka merasa dirinya berkuasa. Mereka semakin besar kepala karena bisa berkelit didukung oleh para buzzer yang mau gimanapun salahnya si pejabat ini mereka tetep dukung karena sudah dibayar sama si pejabat
Rakyat hanya bisa menerima dengan terpaksa karena ketika mereka protes pun malah di gaslighting dan diserang sama buzzer peliharaan pemerintah ini. Sementara sesama rakyat lain pun sebagian ada yg diam takut dijadikan sasaran, tetapi juga ada yang bukannya membantu sesama rakyat malah memanfaatkan momen demi keuntungan pribadi.
Tags
Catatanku
