![]() |
| Ilustrasi. - Dok. istimewa |
Tahun 2002 menjadi tahun yang sangat berkesan untuk saya. Saat itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Saya belum terlalu mengerti soal taktik sepak bola, belum hafal semua nama pemain dunia, dan bahkan kadang masih bingung aturan offside. Tetapi ada satu hal yang saya ingat jelas: untuk pertama kalinya saya benar-benar mengikuti acara Piala Dunia di televisi.
Biasanya pertandingan sepak bola dari luar negeri disiarkan tengah malam. Anak SD seperti saya tentu tidak boleh begadang. Orang tua pasti menyuruh tidur karena besok harus sekolah. Namun berbeda dengan Piala Dunia 2002. Karena turnamen diadakan di Jepang dan Korea Selatan, waktu pertandingan menjadi siang dan sore hari di Indonesia. Inilah yang membuat anak-anak sekolah seperti saya bisa ikut merasakan demam Piala Dunia.
Setiap pulang sekolah, saya langsung mengganti seragam lalu menyalakan televisi. Kadang pertandingan sudah dimulai sebelum saya sampai rumah. Saya masih ingat suara khas komentator yang terdengar sangat semangat. Rasanya suasana rumah berubah menjadi stadion sepak bola.
Saat itu televisi di rumah belum layar datar. Masih televisi tabung besar yang kadang gambarnya sedikit buram. Namun bagi saya, itu sudah sangat luar biasa. Saya duduk dekat televisi sambil membawa teh manis dan makanan ringan. Kadang ibu menegur karena saya terlalu dekat dengan layar TV.
Di sekolah, teman-teman juga ramai membicarakan hasil pertandingan. Anak-anak yang biasanya membahas game atau kartun tiba-tiba berubah menjadi pengamat sepak bola. Ada yang mendukung Brasil karena terkenal kuat. Ada yang suka Italia karena pemainnya keren. Ada juga yang mendukung Inggris hanya karena tahu nama David Beckham.
Saya sendiri waktu itu mendukung Brasil. Alasannya sederhana: pemain-pemainnya terlihat hebat dan gaya bermainnya menyenangkan ditonton. Saya sangat kagum melihat Ronaldo Nazário dengan rambut uniknya di bagian depan kepala. Hampir semua anak SD waktu itu membicarakan model rambut Ronaldo. Ada teman saya yang bahkan ingin mencukur rambut seperti itu, tetapi tidak diizinkan orang tuanya.
Selain Ronaldo, saya juga mulai mengenal nama-nama besar seperti Ronaldinho, Rivaldo, dan Oliver Kahn. Dulu saya belum tahu klub mereka, tetapi wajah dan gaya bermain mereka sangat mudah diingat.
Salah satu momen paling seru adalah ketika Korea Selatan berhasil melaju sangat jauh di turnamen. Banyak orang Asia ikut bangga karena untuk pertama kalinya ada negara Asia yang tampil luar biasa di Piala Dunia. Saya masih ingat bagaimana komentator berbicara penuh semangat saat Korea Selatan menang. Di sekolah, banyak teman yang tiba-tiba ikut mendukung Korea Selatan karena dianggap wakil Asia.
Piala Dunia 2002 juga terasa berbeda karena banyak kejutan. Tim-tim besar yang biasanya kuat ternyata bisa kalah lebih cepat. Orang dewasa di sekitar saya sering berkata bahwa turnamen tahun itu penuh kejutan. Saya sendiri belum terlalu memahami sejarah sepak bola, tetapi saya ikut merasakan bahwa pertandingan terasa sulit ditebak.
Yang paling saya tunggu tentu pertandingan final antara Brasil melawan Jerman. Saat itu suasana rumah sangat ramai. Ayah ikut menonton, bahkan tetangga juga datang. Saya masih ingat rasa tegang ketika pertandingan dimulai. Lalu akhirnya Ronaldo mencetak gol dan Brasil menjadi juara dunia.
Saya sangat senang malam itu. Besoknya di sekolah banyak anak membicarakan kemenangan Brasil. Ada yang senang, ada juga yang kecewa karena tim favoritnya kalah. Tetapi semuanya tetap seru karena kami merasa ikut mengalami pesta sepak bola dunia bersama-sama.
Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, saya sadar bahwa kenangan tentang Piala Dunia 2002 bukan hanya soal pertandingan. Yang paling membekas justru suasananya. Pulang sekolah lalu buru-buru menyalakan televisi. Mendengar teriakan komentator dari ruang tamu. Membahas skor pertandingan bersama teman-teman di kelas. Semua itu menjadi bagian indah masa kecil.
Piala Dunia 2002 adalah turnamen pertama yang benar-benar saya ikuti dari awal sampai akhir. Dari situlah saya mulai menyukai sepak bola dunia. Sampai sekarang, setiap kali mendengar lagu atau melihat cuplikan pertandingan Piala Dunia 2002, saya langsung teringat masa menjadi anak kelas 5 SD yang duduk di depan televisi tabung sepulang sekolah, menikmati sepak bola tanpa memikirkan apa pun selain keseruan pertandingan hari itu.
