![]() |
| Ilustrasi wercok dan werjo |
Beberapa minggu terakhir, aksi demo menentang kebijakan pemerintah terkait Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan sederet kebijakan lainnya marak terjadi di berbagai kota.
Demo ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa, tetapi oleh beberapa elemen mahasiswa lain, semisal ojol dan ibu-ibu rumah tangga. Mereka yang sangat terdampak dengan kebijakan seperti kenaikan harga Pertamax pun ikut demo. Meski Pertamax bukan bahan bakar bersubsidi, tetapi efeknya terasa juga.
Antrean Pertalite makin panjang dan sering kosong. Warga pun, terutama ojol yang selalu berada di jalan mau tak mau harus membeli Pertamax yang harganya kini 16.200 per liter. Beberapa kendaraan logistik pun juga terkena imbas, terutama yang sering mengonsumsi Pertamax. Walhasil, terjadi kenaikan barang kebutuhan pokok yang akhirnya menjerat ibu-ibu rumah tangga.
Tentu, sebagai manusia biasa, kita dan mereka berhak untuk mengeluh. Demo pun terjadi. Protes di media sosial pun sangat wajar dilakukan. Namun sayangnya, banyak pihak yang masih saja melakukan nyinyir terhadap tindakan protes ini. Dibilang kurir meresahkan lah, provokator lah, ini lah. Sungguh, saya muak dengan berbagai narasi yang menyudutkan seolah-olah kita rakyat harus nurut, HARUS BERSIKAP OPTIMIS SAMPAI KIAMAT, dan harus menerima apapun yang terjadi, meski sebagian diantara kita sudah menahan untuk tidak b*nuh diri.
Diantara sekian pihak yang menarasikan negatif bentuk protes adalah wercok dan werjo. Mereka adalah tulang punggung pemerintah dalam menyukseskan program pemerintah terutama MBG. Setiap ada kegiatan demo atau protes, mereka tak segan mengolah kata demi kata untuk menyatakan bahwa demo adalah kegiatan yang sia-sia.
Kebetulan, saya mengikuti beberapa akun wercok dan werjo. Saya melihat bagaimana mereka mengolok-olok kita sebagai rakyat. Salah satunya adalah akun wercok yang menyatakan bahwa ia akan membuat anaknya tidak miskin agar tidak menyalahkan pemerintah.
Saya kira, wercok tersebut adalah wercok yang masih bocil dengan pemikiran dangkal. Rupanya, wercok tersebut sudah berumur dan berpangkat tinggi. Sata saya lihat profilnya, sungguh kehidupan hedonnya luar biasa.
Untung saja, postingan di IG tersebut langsung dirujak oleh netizen. Mereka sangat muak dan marah dengan unggahan yang bernada meremehkan tersebut. Padahal, gaji yang didapatkannya juga berasal dari rakyat. Wercok tersebut dianggap tidak peka dan tone deaf terhadap kondisi sekitar. Lah iya dia kaya dari gajinya dan menerimanya tiap bulan. Lah kita?
Tak lama postingan tersebut dihapus dan tidak ada satu pun permintaan maaf darinya. Sementara, di ujung dunia lain wercok ada beberapa wercok bocil yang sampai melakukan klarifikasi permintaan maaf karena telah menghina mahasiswa.
Sikap wercok seperti ini memang bukan tanpa alasan. Tercatat, ada sekitar 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola oleh wercok dalam naungan yayasannya. Padahal, sesuai aturan, satu yayasan hanya boleh mengelola 10 buah SPPG. Lah ini kok boleh?
Sementara, werjo lebih banyak terlibat dalam pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP). Proyek fantastis ini sering diejek oleh banyak orang karena dianggap aneh dan cenderung pemborosan. Bahkan, banyak bangunan KMP dibangun di atas lahan yang tidak masuk akal, seperti di tengah sawah, di pinggir sungai, atau di tengah hutan.
Anehnya lokasi pembangunan KMP tersebut karena banyak kepala desa diminta werjo menyiapkan lahan. Entah karena sudah tak ada lahan lagi, maka pemilihan lokasi lahan dilakukan di tempat yang kurang masuk akal. Ya kali hewan liar yang berbelanja di KMP.
Dua alasan inilah yang menyebabkan mereka sangat tone deaf pada kondisi rakyat yang makin susah. Dengan berbagai narasi yang fafifu wasweswos, mereka seolah sangat mendukung apapun yang dilakukan pemerintah meski salah dan merugikan.
Kalau sudah begini, apa iya KITA HARUS OPTIMIS SAMPAI KIAMAT?
