Kemarin, saya habis dongkol setelah diajak oleh teman untuk mencoba makanan viral di dekat kos-kosan saya.
Makanan tersebut berupa makanan khas Jepang yang katanya dijual murah dengan rasa yang lumayan enak. Wah, saya langsung kepincut. Siapa sih, di tengah gejolak ekonomi yang tak menentu seperti ini bisa mendapatkan makanan dengan harga murah dan enak.
Setelah saya melihat video food vlogger yang sudah mengulas makanan tersebut, saya makin kepincut. Apalagi, saya melihat aneka sushi dengan berbagai varian isi tersaji dengan indahnya. Saat saya bandingkan harganya dengan menu serupa di gerai masakan Jepang mall terkenal, selisihnya bisa mencapai 30 ribu lebih untuk setiap menu.
Saya pun datang ke sana pada waktu yang telah ditentukan. Alangkah kagetnya, saat sampai di sana ternyata pengunjung yang datang luar biasa banyaknya. Kebanyakan sih anak sekolah dan mahasiswa. Yah namanya makanan murah kekinian, pasti target pasar mereka yang anak-anak sekolah dan kuliah.
Saking ramainya, kami harus masuk antrean waiting list. Waduh, mood saya sudah mulai berkurang. Saya sempat kepincut ayam bakar di sebelah tempat tersebut yang seakan menggoda. Namun, demi menuntaskan hasrat untuk mencicipi makanan viral ini, saya pun rela menahan lapar.
Sekitar 20 menit kemudian, kami mendapatkan tempat duduk. Mood saya kembali turun karena tempat duduk yang tersedia adalah krat minuman bersoda. Aduh, pinggang saya bisa encok ini.
Benar saja, beberapa menit saya duduk di sana, rasanya badan sudah tak nyaman. Mau cabut kok rasanya sayang karena pesanan sudah masuk. Semenit dua menit makanan yang saya pesan belum juga datang. Barulah, apa yang saya tunggu datang 25 menit kemudian. Jadi, saya menghabiskan waktu sekitar 45 menit untuk mendapatkan makanan yang saya inginkan.
Kalau dibilang rasa ya masih kalah dibandingkan masakan Jepang di resto mall. Namun, dengan harga semurah itu ya lumayanlah. Makanya, kedai tersebut ramai didatangi oleh pelajar dan mahasiswa. Belum lagi, ada promo spesial yang kerap diberikan oleh pemilik kedai pada momen tertentu bagi pelajar dan mahasiswa. Termasuk, saat saya datang ke sana kemarin. Walhasil, ramainya kedai tersebut sangat luar biasa.
Nah, berkaca pada kejadian ini, saya akhirnya malas ke tempat kuliner baru terutama yang ramai di Tiktok. Rasanya, semakin tua saya sudah punya preferensi sendiri tempat kuliner yang saya datangi. Saat ini, ada sekitar 20 tempat kuliner yang saya datangi secara bergantian tiap minggunya jika ingin makan enak di luar. Ada yang di Malang, Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto. Ada satu kedai andalan saya di daerah Kebomas, Gresik juga yang menjual ayam kampung dengan cita rasa luar biasa.
Otak saya serasa punya keinginan untuk mendatangi tempat-tempat tersebut. Saya baru mau ke tempat baru jika ada yang mengajak dengan cukup memaksa atau ditraktir. Kalau keinginan pribadi, saya tidak mau. Takut kecewa.
Mungkin apa yang saya alami ini juga terjadi pada banyak orang. Makanya, bapak-bapak, ibu-ibu, mbah-mbah biasanya kalau marung alias kulineran ya ke tempat-tempat itu-itu saja. Mereka lebih mengutamakan rasa dan kenyamanan dibandingkan harga murah atau tempat yang instagramable. Kembali lagi, masalah perut ini juga masalah sensitif. Kalau tidak sesuai espektasi, rasanya enggan untuk kembali.
Makanya, foto kulineran saya dari dulu ya itu-itu saja. Habis mau bagaimana lagi, saya juga food vlogger yang dituntut harus punya referensi kuliner baru.
