![]() |
| Kondisi warung saat mau tutup |
Kemarin, tiba-tiba saya ingin sekali membeli nasi pecel untuk sarapan.
Setelah sekian lama menimbang, saya akhirnya memutuskan membeli nasi pecel di warung langganan saya sejak masih balita. Warung ini milik seorang ibu lansia yang cuma beda RT dari rumah saya.
Mulanya sih saya mau membeli di tempat lain karena di warung tersebut seringkali ramai. Namun, karena saat itu hari libur dan saya tidak terburu, artinya tidak sedang lapar banget, maka saya membeli di sana. Biasanya sih, saat melihat antreannya yang cukup panjang, saya langsung mengurungkan niat saya.
Warung langganan saya ini tidak hanya menjual nasi pecel saja. Pemiliknya juga menyediakan aneka masakan rumahan seperti sayur lodeh, soto, rawon, bali telur dan ayam, kare ayam, sate daging, hingga beberapa menu lain seperti mendol.
Lantaran peminatnya banyak sekali, tak jarang aneka menu tersebut habis dalam sejam saja. Menu favorit pembeli adalah soto dan sate daging atau sering disebut sate komoh. Kalau tidak datang pagi sekali, sekitar jam 6 pagi saat warung tersebut baru buka, maka bisa dipastikan pembeli akan gigit jari. Pulang dengan tangan hampa.
Contohnya, saat saya membeli nasi pecel kemarin, banyak yang pulang karena kuah soto sudah habis. Padahal, saya lihat ibunya memasak satu panci berukuran besar. Bagaimana soto sebanyak itu bisa ludes padahal belum jam 8 pagi?
![]() |
| Sudah banyak yang habis |
Rupanya, tadi ada seorang yang membeli kuah soto seharga 60 ribu rupiah. Lah wong biasanya saya membeli kuah soto 10 ribu sudah bisa untuk makan pagi dan siang bahkan sore. Kalau membeli 60 ribu bisa untuk kapan?
Oh ya, warung ini hanya melayani pembeli take away karena memang hanya sebuah warung sempit berukuran 2x3 meter. Ada sih kadang-kadang bapak-bapak yang makan di tempat. Namun, saya melihatnya jarang sekali. Makanya pembeli yang datang langsung pulang saat makanan selesai dibungkus.
Untungnya, stok nasi pecel hampir tidak pernah habis. Sampai warung tutup sekitar setengah 9 pagi, nasi pecel masih tersedia. Kalau ada yang habis, biasanya ibunya langsung meminta anaknya untuk merebus bahan seperti sayur atau kecambah. Kalau tidak, ia mengambil nasi dulu di rumahnya yang bersebelahan dengan warungnya.
![]() |
| Ibu penjual warung sedang meracik nasi pecel |
Warung ibu ini memang legend. Sudah ada sejak saya balita. Dulu, saat usaha ayah saya masih jaya-jayanya sebelum krisis moneter 1998, hampir setiap hari ibu saya membeli pecel di sini untuk sarapan karyawan ayah saya. Jumlahnya kalau tak salah sampai 25 orang. Bayangkan saya setiap hari ikut membeli nasi pecel dari masih balita sampai sekarang. Apa enggak hafal banget ibunya dengan saya.
Bahkan, saat saya baru datang, ibunya sudah paham saya pasti membeli pecel. Barulah kalau saya ingin membeli menu lain, maka saya akan bilang kepada ibunya. Sudah langganan sejak balita.
Satu hal yang membuat saya tergelitik adalah mengapa ibunya tidak melebarkan usahanya dengan membuka warung lebih besar dan bisa makan di tempat. Asli, pembelinya akan sangat membludak. Bisa mengalahkan pecel-pecel legendaris lainnya di Malang yang bagi saya rasanya masih kalah dari pecel ibu ini.
Pada suatu kesempatan, saya pernah mendengar ibunya bercerita bahwa ia mulai keteteran untuk memasak. Saat ada pembeli bertanya mengapa tidak menambah jumlah masakan yang sering habis, ibunya berkata bahwa stok sejumlah itu sudah cukup. Baginya bisa berjualan setiap hari dan menunya habis sudah patut disyukuri.
Pemikiran seperti ini sering saya temukan pada banyak warung kecil yang ramenya luar biasa. Kadang saya juga heran lho mereka bisa menjual makanan sampai habis kenapa kok tidak meningkatkan omsetnya. Selain merasa cukup, pemilik warung seperti ini tidak mau rasa masakannya berubah dan membuat pembeli kecewa sehingga tidak mau membeli lagi.
Iya sih, saya paham maksudnya. Beda tangan beda rasa. Sudah saya temui di banyak warung yang mencoba mengembangkan diri dan akhirnya banyak yang tak mau balik lagi. Walau tidak besar, tetapi pembeli akan balik lagi. Sama seperti warung langganan saya ini. Rasa bumbu pecelnya konsisten sejak saya masih balita.
Pengembanan usaha kuliner memang tidak bisa sembarangan. Makanya, banyak usaha kuliner tutup saat diteruskan oleh anaknya. Semoga saja usaha warung pecel ini nanti ada yang meneruskan.


