![]() |
| Ayah dan anak, Alf dan Erling Haaland - Dok. Istimewa |
Haaland, Haaland
He's a blue, just like his dad
Now he's at the Etihad
Ha-Ha-Ha-Haaland, hey!
Saya yakin, lagu ini pernah singgah di lini masa media sosial kalian. Entah IG, FB, dan pastinya Tikrok. Rasanya semua orang sedang membicarakan Erling Haaland, manusia raksasa asal Norwegia yang mampu mengantarkan negaranya masuk perempat final Piala Dunia 2026.
Walau tim negaranya harus kalah dari tim negara tempat kelahirannya, Inggris, tetapi Haaland tetap dicap sebagai pahlawan. Ia telah membawa negaranya kembali masuk ke Piala Dunia sejak terakhir tahun 1998, saat sang ayah, Alf Inge Haaland, juga membela negaranya, Norwegia.
Banyak orang kini mulai ter-Haaland-haaland. Entah menyanyikan lagu yang melodinya sama dengan lagu milik Dschinghis Khan berjudul Moskau tersebut. Entah membuat kartun AI dengan wajah Haaland. Bahkan ada yang sampai rela membeli jersey Norwegia dengan nomor 9 milik Haaland. Ada pula yang sampai berburu ikat rambut milik atlet satu ini.
Padahal, selama ini orang membeli jersey bola dari negara yang sudah langganan juara seperti Prancis, Argentina, Brazil, Spanyol, atau Jerman. Sementara, baru kali ini jersey Norwegia laris manis meski mereka hanya sampai perempat final.
Apa yang membuat orang begitu tergila-gila dengan Haaland?
Tentu, performanya di lapangan hijau adalah yang paling utama. Haaland sudah mencetak 7 gol selama Piala Dunia kali ini. Jumlah yang cukup fantastis untuk ukuran negara yang jarang tampil di Piala Dunia. Gol yang dicetak Haaland pun seringkali tak terduga. Kadang ia hanya berjalan biasa, mendapat bola, eh tiba-tiba mencetak gol.
Walau sudah banyak gol yang dicetak, tetapi Haaland dikenal sebagai pemain yang rendah hati. Tidak pernah meninggi atau berargumen merasa hebat dan meremehkan tim lain. Saat akan melawan Inggris, Haaland bahkan mengatakan timnya sangat tipis untuk menang. Padahal, saat itu Norwegia bisa dikatakan memberikan perlawanan cukup keras.
Ia juga sering memberi semangat dan perhatian pada tim lawan seusai pertandingan. Pada sebuah wawancara saat Norwegia berhasil mengalahkan tim juara 5 kali, Brazil, tiba-tiba ada seorang pemain Brazil menyalaminya dari belakang. Segera saja Haaland menyambut ucapan itu lalu memeluknya. Sebuah attitude yang sangat mengesankan.
Ia juga memberi selamat pada mantan rekan timnya di Borussia Dortmund yang membela Inggris. Walau mereka saling bermusuhan selama 90 menit lebih sepanjang pertandingan, Haaland dan temannya pun saling berpelukan. Haaland tak sungkan memberi selamat karena rekannya tersebut berhasil membuat gol ke gawang timnya dan membuat negaranya kalah.
Saya jarang menemui pemain bola se-respect ini. Tidak larut dalam kegembiraan ketika menang dan terlalu kecewa ketika kalah. Walau tentu, ia sangat kecewa karena tinggal selangkah lagi Norwegia mencetak sejarah masuk semi final.
Tentu, sifat Haaland ini bukan terbentuk begitu saja. Sang ayah, Alf Inge Haaland adalah sosok hebat pula. Ia pasti mau anaknya jauh lebih hebat darinya sebagai pemain sepak bola. Makanya, dukungan penuh ia berikan sejak Haaland kecil. Alf bahkan hampir selalu datang saat Haaland bermain. Ia juga kerap memberikan petuah bagi sang anak sehingga bisa sehebat ini.
Satu pelajaran dari ayah dan anak ini adalah saat sang ayah tidak mau mewariskan dendam dan luka yang sudah ia rasakan sebagai pemain sepak bola. Tentu, momen sang ayah terkena cedera parah akibat pelanggaran keras dari lawannya Roy Keane tidak bisa dilupakan begitu saja.
Bahkan, lagu chant Haaland memuat kata Roy Keane tried to k*ll his dad alias Roy Keane ingin memb*n*h ayahnya. Sebuah sarkas bahwa saat itu, ada dendam masa lalu sang ayah saat bermain sepak bola. Dendam ini teramat dalam sehingga sering menjadi salah satu Derby Manchester yang berlangsung hingga kini.
Alf tidak mau mewariskan dendam itu pada anaknya. Terbukti, Haaland bermain dengan fair. Tidak gampang tersulut lawan dan secara emosional sangat stabil. Alf mungkin tidak mau anaknya mengulangi kesalahannya terlebih dahulu yang mementingkan ego dan amarah saat bermain sepak bola.
Pelajaran ini sangat berkesan dan memberi arti pentingnya sosok ayah yang penuh cinta kasih. Walau sang ayah mungkin ada luka lama, tetapi sebisa mungkin luka itu jangan sampai sang anak - terutama anak laki-lakinya - mewarisi luka lamanya. Inilah pelajaran yang amat sangat berharga dari sosok fenomenal satu ini.
Semoga semakin banyak ayah seperti Alf Inge Haaland ini sehingga bisa menurunkan sosok luar biasa seperti Erling Haaland.
