Drama KemenPU dan Kejaksaan, Bukti Emang Negara Lagi Kacau; Edisi Bukan Menambah Kecemasan


Eh, sebelumnya apa kabar 19 juta lapangan pekerjaan? Sudah ada wujudnya belum ya itu angka.

Asli, saya sedih bagi yang baru saja di-PHK. Bulan ini saja, ada 6 teman yang meminta info lowongan pekerjaan karena baru saja di-PHK. Anyway busway, semoga mereka semua dapat pekerjaan baru dan mengambil hikmah dari musibah kali ini.

Berbicara soal musibah, kali ini saya jadi ingat dua musibah besar yang dialami bangsa ini. Bukan musibah dalam arti sesungguhnya, tapi musibah dalam artian khusus. Apalagi kalau bukan dua fenomena KKN yang mengguncangkan tanah air.

Pertama, kasus tersebarnya surat visa yang mengindikasikan beberapa keluarga MenPu ikut haaland-haaland menggunakan fasilitas negara. Kedua, sengkarut-marutnya penegakan hukum kejaksaan, wercok, dan werjo. Saya tidak mau membahas detail masalah ini karena sudah banyak sekali di berita.

Intinya, para penegak hukum saling adu kuat membuktikan mana yang lebih kuat. Mana yang lebih hebat dan punya pengaruh. Padahal, mereka aslinya sama beda skin. Sama-sama bobrok dan membuat negara ini makin kacau.

Eh, jangan pakai diksi kacau. Nanti saya dibilang penghantar kecemasan.

Ups….keceplosan.

Lah emang lagi kacau. Emang lagi sengkarut marut. Apa iya harus berpikir positif terus sampai modyar?

Eh itu bukan saya yang bilang. Ada bapak-bapak di warkop STK yang berbicara seperti itu. Yah namanya bapak-bapak di warkop wajar lah bahas ini itu ngalor ngidul. Saya sih hanya jadi pendengar setia layaknya pendengar radio jadul frekuensi FM.

Kata bapaknya, kita tuh disuruh berpikir positif terus. Disuruh fokus kerja ampe mamp”s. Eh udah fokus kerja yang di atas malah baku hantam. Malah mengancam yang jujur. Gikiran protes malah diserang…

”Hei, antek-antek asing…”

“Jangan menyebarkan kecemasan….bla bla bla….”

Pret lah.

Intinya adalah jangan denial kalau negara ini lagi bobrok-bobroknya. Banyak yang lagi pada survive untuk bertahan hidup - dan gak b*n*h diri. Ya wajar dong kalau mengeluh. Eh giliran mengeluh dinyinyirinnya minta ampun.

Asli, gedeg banget sama orang-orang macam itu. Munafik. Apalagi kalau ia juga kena dampak hidup susah. Sampai kapan sih mau menjilati mereka-mereka yang enggak ada gunanya itu?

Ah sudahlah, biarlah mereka juga terus berusaha survive sambil jilat sana sini. Saya mah ikut golongan nyinyir tralala. Ini negara demokrasi bung. Bebas berpendapat. Masak iya, ada dua kasus besar gitu diem aja. Kok nyimut?

Di pikiran saya sih cuma pengen ganti kewarganegaraan aja. Sementara ini PH tetap jadi opsi. Iya mereka juga kacau tapi mereka punya kebijakan kewarganegaraan ganda. Jadi bisa lah cari kewarganegaraan lain yang lebih baik. Kalau tetap jadi WNI yang menganut kewarganegaraan tunggal, bisa-bisa sampai mamp*s ya gini-gini aja. Mau ikut?

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya