![]() |
| Ilustrasi |
Hingga tulisan ini ditulis, gelaran Piala Dunia 2026 telah memasuki babak penyisihan grup akhir.
Sebagian grup sudah menuntaskan laganya dan sebagian lagi masih menggelar laga terakhir. Sebagian tim sudah dipastikan lolos ke babak 32 besar sementara beberapa tim lainnya masih menunggu untuk butuh keajaiban. Beberapa tim yang sudah dipastikan lolos adalah juara bertahan Argentina, runner-up bertahan Prancis, Jerman, Brazil, dan beberapa tim unggulan lain.
Nah, meski sudah hampir setengah jalan, ternyata gelaran Piala Dunia 2026 ini rasanya kurang semeriah gelaran sebelumnya. Entah jarang sekali ada acara nobar, kurangnya pernak-pernik seputar Piala Dunia, hingga kurangnya obrolan seputar Piala Dunia di sekitar saya.
Dulu, kalau ada gelaran Piala Dunia, rasanya tiap hari obrolan pertandingan demi pertandingan saya dengarkan. Terlebih, jika pertandingan mempertemukan beberapa tim unggulan macam Brazil, Jerman, atau Prancis. Kini, rasanya jarang sekali saya mendengar obrolan tersebut, bahkan di warung kopi sekalipun.
Kurang meriahnya gelaran Piala Dunia ini juga terlihat dari pernak-pernik khas yang mengiringinya. Mulai dari ikon atau logo, jersey bola, bendera negara peserta, hingga lagu tema. Dulu, kalau Piala Dunia berlangsung, aneka ikon dan jersey rasanya sudah ramai terpajang dan dipakai banyak orang. Euforia ini terakhir saya lihat saat Piala Dunia 2018 di Rusia.
Saat itu, banyak orang yang membeli jaket dengan tema putih bertuliskan Piala Dunia 2018. Selepas itu, praktis saya tak mendapatkan banyak orang tertarik untuk membeli baju dan pernak-pernik Piala Dunia. Jangankan membeli, memakai baju negara peserta Piala Dunia pun rasanya kini makin jarang ditemukan.
Lantas, kira-kira apa penyebabnya?
Masifnya penggunaan media sosial
Harus diakui, televisi memberi pengaruh besar pada gelaran Piala Dunia. Dulu, orang akan menonton TV untuk mengakses informasi Piala Dunia. Mereka akan melihat pertandingan di TV dan bergadang sampai pagi.
Kini, mereka tidak perlu melakukannya. Dengan cuplikan-cuplikan dari media sosial, pecinta bola sudah bisa melihat hasil pertandingan dan cuplikan gol. Mereka hanya perlu terjaga sebentar mengecek media sosial saat malam hari, memastikan apakah tim kebanggaannya menang atau kalah. Setelah itu, mereka tidur lagi dan mengecek atau melihat tayangan ulang secara penuh saat pagi, siang, atau sore hari saat ada waktu luang.
Berbeda dengan dulu, jika kita menunggu tayangan ulang, maka kita harus menunggu tayangan TV menayangkannya. Kini sudah tidak perlu. Inilah yang menyebabkan rasanya nibar piala dunia tak semeriah dulu.
Media Partner TV milik pemerintah
TVRI menjadi media partner resmi Piala Dunia 2026. Pada gelaran Piala Dunia sebelumnya, TV swasta yang memiliki kesempatan tersebut. Saya tidak mengatakan TVRI buruk atau tidak menarik. Justru, saya melihat apa yang dilakukan TVRI pada Piala Dunia kali ini sudah bagus. Mereka sering menayangkan highlight dengan apik dan up to date. Ulasan para komentatornya juga menurut saya bagus.
Bisa jadi, orang-orang yang selama ini memang malas melihat TVRI karena sudah dianggap jadul. Teman saya ada yang malah melihat dari siaran TV luar padahal saya bilang lho di TVRI lho ada. Enggak perlu translate juga.
Kondisi ekonomi yang sulit
Suka atau tidak, kondisi ekonomi yang sulit membuat banyak orang tidak terlalu memperhatikan Piala Dunia. Kondisi ini berbeda dengan saat tahun 1998, yakni saat Piala Dunia digelar di Prancis bersamaan dengan momen kerusuhan.
Saat itu, Piala Dunia malah digunakan banyak orang untuk mengalihkan sejenak dari himpitan hidup yang mengerikan. Kini, rasanya Piala Dunia tidak mampu dijadikan pengalihan sejenak dari nilai tukar rupiah yang makin merosot dan harga kebutuhan yang makin naik.
Akses informasi media sosial bisa jadi yang membuatnya berbeda. Dulu, dengan menonton Piala Dunia di TV, orang akan lupa kalau kondisi negara sedang kacau. Kini, sambil melihat Piala Dunia, rasanya berita kekacauan pun ikut terselip di media sosial.
Naiknya olahraga lari
Alasan terakhir ini bisa jadi salah. Pecinta olahraga dulu seakan terkumpul dalam sepak bola. Artinya, mereka akan membeli dan menghabiskan uangnya untuk sepak bola, termasuk membeli jersey.
Kini, olahraga lagi sedang naik daun. Pecinta olahraga pun akan lebih menghabiskan uangnya untuk kebutuhan lomba lari dan berbagai pernak-pernik yang mengiringinya. Makanya, penjualan jersey sepak bola tidak sebanyak dulu. Kalau dulu rasanya tiap orang berlomba-lomba membeli jersey negara kebanggannya.
Itulah beberapa alasan Piala Dunia tak semeriah dulu selain ada faktor 3 negara sebagai tuan rumah yang membuat konsentrasi banyak orang terpecah. Kalau menurut anda bagaimana?
