| Ilustrasi |
Minggu kemarin, saya kembali berjalan-jalan ke Jogja untuk kesekian kalinya.
Sama seperti jalan-jalan sebelumnya, saya hanya memutari kota dengan Trans Jogja. Penjelajah andalan yang mampu membawa saya berkeliling Jogja Istimewa. Dengan tiket tak sampai 5.000 rupiah, saya bisa pergi ke banyak tempat tanpa repot parkir.
Namun, ada yang menarik dalam perjalanan saya kali ini. Biasanya, bus Trans Jogja yang ramai penumpang wisatawan adalah bus rute 1A. Rute ini menjadi rute favorit wisatawan dari luar kota yang akan menuju Candi Prambanan.
Dengan naik rute 1A tanpa harus oper lagi, wisatawan menuju Prambanan sambil berkeliling dengan Trans Jogja.Sementara, rute lainnya, biasanya tidak banyak penumpang walau sedang musim liburan.
Akan tetapi, pada momen liburan kemarin, saya melihat beberapa rute Trans Jogja lain juga ramai wisatawan. Saya tahu mereka wisatawan dari logat yang mereka bicarakan dan kebingungan saat berada di halte. Sementara, warga Jogja asli yang sering naik trans Jogja akan langsung naik. Kalau bertanya pun mereka sering menggunakan bahasa Jawa.
Beberapa rute favorit selain rute 1A yang diserbu wisatawan adalah rute 3A arah Kotagede, 3B arah Jalan Kaliurang - Congcat, 12 arah Pakem, 5A arah Pakuwon Mall/Ambarukmo Plaza, dan rute 15 arah Bantul/Palbapang. Selain rute tersebut, beberapa rute dari dan menuju Ngabean juga sering penuh.
Rute 3A sering diserbu wisatawan yang mau mengunjungi pusat kerajinan perak Kotagede. Mereka juga sering berkunjung ke Masjid Kotagede yang ikonik. Rute 3B digunakan untuk ke Tempo Gelato yang cukup viral di kalangan wisatawan. Mereka juga menggunakan rute 12 untuk mengunjungi Kopi Klothok - wisata kuliner viral - yang antreannya masya allah. Bahkan, saya pernah pagi hari sudah berada di Terminal Condongcatur dan sudah banyak wisatawan antre akan naik rute 12.
Wisatawan yang ingin nge-mall tentu akan naik rute menuju Ambarukmo Plaza dan Pakuwon Mall. Semisal, rute 1A dan 5A. Beberapa wisatawan juga kepincut berburu kuliner di wilayah Bantul dengan naik rute 15. Artinya, para wisatawan sudah mulai mau naik Trans Jogja tidak hanya rute 1A saja
Ramainya wisatawan yang mau naik Trans Jogja ini memang patut diapresiasi. Setidaknya, mereka sudah mau meluangkan waktu mereka yang tidak banyak untuk menunggu bus di halte dan terkena macet. Apalagi, banyak diantara mereka yang membawa anak kecil dan ingin mengajak serta mengajarkan anaknya naik transportasi umum.
Sayang, tingginya antusiasme wisatawan ini tidak dibarengi dengan pelayanan maksimal. Ada tiga masalah yang membuat minat wisatawan ini tidak bisa tertampung dengan baik.
Pertama, jumlah armada yang terbatas. Harus diakui jumlah armada bus Trans Jogja cukup terbatas. Ada beberapa rute yang bahkan hanya diisi oleh 4 bus saja. Waktu tunggu antar bus bisa mencapai 30 menit bahkan lebih. Tentu, waktu tunggu yang terlalu lama ini membuat wisatawan yang ingin naik Trans Jogja akan berpikir ulang. Masak iya, jauh-jauh ke Jogja hanya untuk menunggu bus?
Pada suatu kesempatan, ada rombongan wisatawan yang akan naik dari sebuah halte. Mereka ternyata sudah menunggu 20 menit lebih. Saat bus datang, ternyata bus sudah penuh. Alhasil mereka pun kecewa dan memutuskan tidak jadi naik Trans Jogja. Sayang sekali kan?
Kedua, waktu operasional yang terbatas. Kebanyakan wisatawan keluar untuk berjalan-jalan selepas maghrib. Mereka mungkin bisa sampai ke tempat tujuan. Namun, saat akan kembali ke penginapan yang kebanyakan di sekitar Malioboro, mereka akan kesulitan.
Operasional bus Trans Jogja hanya sampai jam 20.30. Itu pun penumpang akan diturunkan di halte terdekat saat bus berjalan. Kalau begini, wisatawan akan berpikir ulang juga naik Trans Jogja. Gak lucu kan kalau mereka turun di halte atau tempat yang mereka belum paham?
Ketiga, informasi rute di parkiran bus yang minim. Banyak wisatawan menggunakan Trans Jogja dari parkiran bus wisata, seperti Ngabean dan Eks Menara Kopi Kotabaru. Banyak sekali rute Trans Jogja yang lewat di dua tempat tersebut.
Sayang, kedua tempat tersebut minim sekali informasi mengenai Trans Jogja. Semisal di Ngabean, hampir tidak ditemukan palang atau petunjuk menuju halte bus Trans Jogja. Padahal, wisatawan bisa naik Trans Jogja jauh lebih murah dibandingkan naik angkutan lain.
Kondisi lebih mengenaskan di Eks Menara Kopi. Di sini tidak ada bangunan halte yang layak. Wisatawan yang akan naik bus harus berdiri. Tentu kondisi ini tidak nyaman dan membuat wisatawan akan berpikir ulang.
Sebenarnya, jika pihak Pemprov DIY mau menggunakan Trans Jogja sebagai andalan transportasi wisatawan, prospeknya sangat luar biasa. Keingintahuan wisatawan yang tinggi sudah jadi modal berharga untuk naik Trans Jogja. Pengalaman naik Trans Jogja juga menjadi pengalaman luar biasa yang akan terkenang dibandingkan naik angkutan lain.
Pertanyaannya, apakah ada usaha untuk mengarah ke sana?