![]() |
| Ilustrasi MOS |
Kemarin, saya menemukan sebuah video TikTok yang menunjukkan siswa-siswi baru yang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Masa orientasi yang dulu dikenal dengan MOS tersebut berlangsung selama beberapa hari hingga seminggu. Bukan masalah seragam atau pernak-pernik yang dipakai oleh siswa baru tersebut, tetapi saya tertarik dengan beberapa kakak kelas yang menyambut mereka.
Kayak kelas tersebut membawa spanduk bertuliskan semangat. Mereka juga meneriaki siswa baru, adik kelas mereka dengan semangat, yel-yel, dan dukungan lainnya. Mereka seakan menyambut adik kelasnya untuk bisa bergabung dengan mereka dalam suasana gembira.
Apa yang saya saksikan saat ini jauh dari apa yang saya alami dulu, terutama saat masuk SMA. saat itu, MPLS yang masih bernama MOS adalah masa yang suram. Menegangkan, mencemaskan, membuat banyak pengeluaran, dan sederet hal negatif lainnya.
Sebelum MOS, seingat saya dulu siswa dikumpulkan untuk tes psikologi. Tes ini digunakan untuk referensi peminatan penjurusan dan sebagai dasar jika ada siswa yang ingin mengikuti kelas akselerasi. Saat itu, saya masih belum terbayang jika MOS akan horor. Masih normal-normal saja. Siswa baru dipandu oleh kakak kelas yang kebanyakan dari OSIS.
Nah, petaka terjadi saat sore hari setelah tes psikologi yang melelahkan. Tiba-tiba, ada beberapa kakak kelas masuk dengan badge bertuliskan TATIB. Tubuh mereka tinggi-tinggi, terutama yang laki-laki. Wajah mereka seram dan tidak tersenyum sama sekali.
Ternyata, mereka adalah tim TATIB yang akan mengawasi semua siswa baru saat MOS. Mereka akan mengecek perlengkapan siswa dan tetek bengeknya. Tidak ada yang boleh tertinggal barang sedikit pun. Semuanya harus rapi, mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Saya yang hari sebelumnya sudah potong rambut harus mengulang lagi karena aturannya ternyata model 3-2-1, khas potongan rambut tentara.
Maka, tiga hari selanjutnya adalah hari yang melelahkan sekaligus menakutkan. Bayangkan, saya sampai begadang mencari ini-itu. Yang paling saya ingat adalah susahnya mencari aqua rasa warna kuning yang sudah mulai tidak diproduksi. Saya sampai mencari ke pasar-pasar dan toko hingga jam 11 malam. Demi apa coba? Padahal kalau dipikir bisa saja diakali dengan mengecat tutup botolnya dengan warna kuning.
Subuhnya, saya harus sudah siap di daerah spleendit, selatan Balaikota Malang karena di sana sudah ada tim TATIB yang stand by. Jadi, siswa baru wajib berjalan kaki ke sekolah dari tempat tersebut. Bukan berjalan sih, karena baru berjalan sudah diteriaki oleh mereka:
“Lari….dek! Lari!”
Makanya, saya sungguh takjub dengan pola MPLS saat ini. Kok bisa ya berbalik 180 derajat dengan masa saya sekolah dulu. Benar-benar siswa baru dibuat nyaman, aman, tentram, dan bahagia. Sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945.
Bisa jadi, saat ini MPLS memang semuanya bertema ramah pada anak. Tidak ada perpeloncoan, bullying, dan hal-hal mengerikan lainnya. MPLS dirancang semenarik mungkin sehingga siswa baru benar-benar mengenal lingkungan sekolah mereka, menanamkan karakter moral yang bisa menghargai orang lain, dan tentunya bekal keterampilan.
Alhasil, saat melihat video MPLS yang diunggah saat ini, banyak sekali kegiatan positif yang dilakukan siswa baru. Semisal, penyuluhan berbagai hal, menanam pohon, outbond, pembuatan proyek-proyek yang positif, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada lagi kegiatan yang tak masuk akal, seperti meminta tanda tangan kakak kelas.
Walau demikian, masih ada saja celah yang kurang sesuai dengan penanaman karakter siswa. Salah satunya adalah kewajiban mengunggah foto atau video di media sosial dengan twibon tertentu. Kewajiban ini sering dianggap melanggar privasi siswa dan dapat menyebabkan perundungan online. Seringkali terjadi siswa mendapat komentar negatif dari warganet jika foto atau videonya dianggap aneh. Bahkan, jika siswa terlihat tampan atau cantik, mereka juga tak terhindarkan dari komentar yang menjurus ke arah kekerasan seksual. Serba salah kan?
Makanya, banyak orang yang menyuarakan kepada sekolah agar tidak mewajibkan siswa baru mengunggah foto di media sosial. Jika harus mengunggah foto atau video, paling tidak dilakukan secara internal, semisal grup WA dan lain sebagainya.
Lantas, mana yang lebih baik; MOS zaman dulu atau MPLS zaman sekarang?
Kalau melihat situasi dan kondisi, tentu MPLS yang saat ini paling relevan. Sudah enggak zaman perpeloncoan dan bullying terhadap siswa baru. Zaman sekarang kok masih bermental seperti itu. Kalau ingin melatih disiplin dan mental siswa, sekolah bisa meminta TNI untuk melatih baris-berbaris. Saya rasa itu masih efektif dilakukan karena saya sendiri merasakan efeknya. Bapak-bapak TNI memang disiplin dan membuat segan, tapi mereka tahu porsinya. Mereka juga kerap bercanda di waktu istirahat dan mengobrol bersama siswa.
Kalau kalian, kenangan apa saat MOS alias MPLS yang terkenang hingga sekarang?
