Menapaki Klojen, Permulaan Pusat Pemerintahan Kota Malang

Dengan masih menggunakan seragam putih abu-abu, saya menenteng tas sambil membawa disket berisikan file yang akan saya cetak.

Ikon Klojen Culinary Heritage.
Kala itu, langkah saya menuju sebuah rumah tua yang tak terawat. Rumah ini tak jauh dari sekolah saya yang tepat berada di depan Tugu Balaikota. Rumah tua bercat kusam dengan tegel warna oranye yang kas bermotif mozaik saling silang. Pemilik rumah membuka rental yang selalu dibanjiri siswa-siswi dari 3 sekolah yang berada satu kompleks di dekatnya. Rumah ini sendiri hanya dihuni oleh seorang nenek tua beserta anaknya yang membuka jasa rental komputer. Pada medio tahun 2006 itu mencetak dokumen adalah kegiatan yang sering saya lakukan di rumah ini.


Hampir dua belas tahun berlalu, saya kembali menjejaki masa-masa sulit saya ketika sekolah dulu. Mengenang kembali apa yang pernah saya lakukan di tempat yang sebenarnya menyimpan sejarah panjang. Tak hanya bagi Kota Malang, namun juga bagi Republik Indonesia. Sayang, bangunan rumah tua yang dulu menjadi jujugan saya kala ingin menyelesaikan tugas sekolah kini berganti dengan bangunan baru. Sebuah bangunan tingkat dua yang penuh dengan kamar dan telah berubah fungsi menjadi tempat kos. Saya jadi tergelitik untuk terus menjelajahi tempat yang terkenal dengan wisata kulinernya ini.

Klojen, nama daerah yang saya maksud. Mungkin, jika anda mendengarnya hal itu akan terasa asing. Tak banyak daerah atau mungkin tak ada nama daerah di Indonesia yang menggunakan kata ini. Klojen sendiri adalah nama sebuah kelurahan sekaligus kecamatan di Kota Malang. Kelurahan Klojen adalah nama kelurahan tempat berbagai pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan transportasi di Kota Malang. Gedung Balaikota Malang, Gedung DPRD Kota Malang, Stasiun Malang Kota Baru, SMA Kompleks (SMAN 1,3, dan 4), SMP Negeri 3 Malang, Rumah Sakit Saiful Anwar, dan Pasar Klojen ada di sini. Sedangkan, Kecamatan Klojen sendiri adalah nama kecamatan dengan luas terkecil dari 5 kecamatan yang ada di Kota Malang. Letaknya persis di tengah-tengah antara 4 kecamatan lainnya. Jika dianalogikan, Kecamatan Klojen ini mirip dengan Jakarta Pusat bagi DKI Jakarta.

Sekolah tempat saya menuntut ilmu yang berada di Klojen. (IG; Anna Rakhmawati).
Berbeda dengan daerah di Kota Malang lain yang punya sejarah panjang sejak zaman Kerajaan Hindu-Buddha, daerah Klojen ini adalah daerah yang baru ramai ketika masa kolonial Belanda. Pada waktu itu, sekitar tahun 1767, Belanda berhasil menguasai Malang setelah mendapat perlawanan cukup sengit dari sisa-sisa perlawanan laskar Untung Surapati sejak tahun 1706. Setelah berhasil menguasai daerah ini, maka Belanda segera membangun sebuah benteng atau loge yang berada di sekitar RS. Saiful Anwar. Orang Malang menyebutnya dengan loji. Lambat laun, daerah ini dikenal dengan nama ke-loji-an dan akhirnya berubah menjadi Klojen hingga sekarang.

Meski telah dikuasai Belanda, perlawanan secara sporadis masih terjadi hingga penangkapan Untung Surapati tahun 1776. Akibat kekacauan ini, hampir tak ada penghuni yang tinggal di dekat aliran Sungai Brantas tersebut. Bagi Belanda sendiri, pertempuran sengit yang baru saja usai membuat mereka belum merasa aman. Inilah alasan yang menyebabkan mereka tidak berani membangun pemukiman di luar benteng yang bereka bangun. Maka, di sekitar benteng tersebut mereka mendirikan banyak sekali bangunan di wilayah ini.

Bangunan tua di Klojen yang tak terawat.
Butuh waktu hingga 50 tahun bagi Belanda untuk bisa benar-benar yakin membangun rumah tinggal di luar loji, tepatnya mulai tahun 1821 mereka mulai melakukannya. Saat itu, mereka mulai membangun perumahan di sekitar Jalan Celaket, Oro-oro Dowo, dan Rampal. Belanda lalu membangun loji kedua yang disebut Loji Selatan (kini disebut Klojen Kidul atau Kelurahan Kidul Dalem). Dengan pembangunan loji kedua, orang-orang Belanda mulai berani membuat rumah tinggal yang tak jauh dari Loji. Daerah-daerah itu kini menjadi wilayah Kecamatan Klojen seperti Kauman, Kidul Dalem, Kasin, dan Bareng. Pada tahun-tahun selanjutnya, yakni sekitar tahun 1826-1867 ketika Belanda merasa kedudukannya sudah mantap, mulailah diadakan penataan kota sesuai kepentingan mereka. Hingga Kota ini kemudian lahir tahun 1914, Klojen menjadi pusat pemerintahannya dan bukan daerah lain yang sebenarnya lebih dulu ada seperti Dinoyo dan Temenggungan/Jodipan.

Salah satu sekolah katolik di Klojen yang masih mempertahankan bangunan aslinya.
Sebagai pusat keramaian baru, Klojen telah memenuhi unsur-unsur dalam penataan suatu kota, yakni path (jalan/jalur), node (simpul-simpul keramaian), district (kawasan), landmark (tetenger/bangunan penting), dan edge (batas wilayah/tepian). Jalan-jalan di Klojen umumnya adalah jalan yang ramai sehingga terdapat simpul-simpul keramaian seperti Pasar Klojen, Pertigaan Stasiun, dan sebagainya. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, Klojen juga memiliki aneka landmark penting seperti Stasiun Kotabaru dan Tugu Balaikota Malang. Klojen pun membentuk karakter spesifik sebagai kawasan bersejarah yang disebut dengan identitas sense of place. Identitas ini merupakan segala sesuatu yang kasat mata dan memiliki makna yang berhubungan dengan budaya. Identitas yang melekat pada Klojen tersebut menjadikan Kota Malang adalah kota yang ideal dan layak huni. Ikon perpaduan budaya kolonial dan lokal yang tersemat pada Klojen membuat Kota Malang dikenal hingga ke seluruh dunia.

Perempatan Klojen, salah satu node (simpul keramaian) wilayah Klojen.
Kearifan lokal yang berpadu dengan budaya kolonial semacam ini tidak lepas dari campur tangan seorang arsitek tata kota kenamaan Belanda, Herman Thomas Karsten. Sebagai seorang arsitek, Karsten memberi ruang bagi sumber-sumber bentuk bangunan lokal tradisional. Karsten berkontribusi besar terhadap pengayaan pemandangan kota dengan bentuk bangunan melalui adaptasi regional. Ia tak hanya sekedar melakukan transformasi seni bangunan Eropa ke Indonesia namun memberikan kontribusi yang khas terhadap hubungan timbal balik antara pemukiman pribumi dan Eropa. Arsitek itulah yang mendesain pusat wilayah Kota Malang. Ia tak menggunakan Kauman sebagai pusat kota baru ini melainkan memindahkannya ke Klojen. Sebelumnya, pusat pemerintahan Malang berada di daerah Kauman dan Alun-Alun Kota Malang saat masih berupa wilayah Kabupaten.

Dalam landmark daerah Klojen ini, Karsten memberikan ruang bagi kearifan lokal berupa garis imajiner yang terdapat dalam tata kota Jawa. Meskipun ia membangun Kota Malang sebagai kota kolonial baru, filosofi garis imajiner itu tetap ada. Jika kita mengenal filosofi ini pada Kota Yogyakarta berupa rangkaian garis lurus dari Pantai Selatan, Panggung Krapyak, Alun-Alun Kidul, Kraton, Alun-Alun Utara, Jalan Malioboro, Tugu, dan Gunung Merapi dengan poros utara-selatan, maka Malang pun juga memiliki hal serupa. Pantai Selatan, Balaikota Malang, Tugu, Jalan Suropati, dan Gunung Arjuno juga terdapat dalam satu garis imajiner jika ditarik garis lurus.

Tak hanya itu, rancangan Gedung Balaikota Malang yang ada di Klojen ini juga terinspirasi dari bangunan Keraton Yogyakarta. Gedung ini sendiri dirancang oleh arsitek bernama H.F Horn. Apabila Keraton Yogyakarta memiliki Siti Hinggil tempat Sultan Yogya menerima “pisowanan agung”, maka di dalam Gedung Balaikota Malang terdapat ruang majelis-raad. Bagian ini terdapat tepat di tengah-tengah gedung dan menghadap ke utara. Apabila terdapat sidang-sidang majelis kota, Burgemeester (wali kota) akan persis menghadap ke Gunung Arjuna. Posisi ini akan sama dengan Sultan Yogya ketika duduk di Siti Hinggil dan menerima pisowanan agung dari abdi dalem keraton atau para kawulanya yang menghadap ke arah Gunung Merapi.

Gedung Balaikota Malang yang juga menggunakan filosifi seperti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sebab muasal perpindahan pusat pemerintahan dari daerah Kauman ke Klojen juga bisa dianalogikan dengan perpindahan Keraton Mataram dari Kartasura ke Surakarta. Perpindahan Keraton Mataram dilakukan oleh Sunan Pakubuwana II akibat kehancuran total Keraton Kartasura selepas peristiwa Geger Pacinan pada 1745. Perpindahan pusat pemerintahan Mataram ini terjadi lantaran Keraton Kartasura dianggap telah tercemar oleh Pasukan Cina-Jawa pimpinan Sunan Kuning. Sedangkan perpindahan pusat pemerintahan baru Kota Malang dari Kauman dilakukan lantaran alun-alun dan daerah di sekitar situ telah “tercemar” oleh penduduk pribumi. Artinya, rakyat pribumi di daerah Kauman dan sekitar alun-alun bisa bebas melakukan aktivitas yang tanpa bisa dikontrol oleh pihak Belanda. Mereka bebas menyelenggarakan aneka tontonan seperti wayang, berjualan, hingga bersenda gurau di alun-alun. Kondisi semacam ini jelas jauh dari pandangan masyarakat Eropa tentang kawasan terbuka dan pusat pemerintahan. Bagi orang Belanda, kondisi ini sama tercemarnya dengan keadaan Keraton Kartasura yang telah luluh lantak.

Perpindahan pusat pemerintahan dari Kauman ke Klojen diharapkan menghilangkan keramaian kaum pribumi yang dianggap mencemari. Kini, setelah Indonesia merdeka, daerah Klojen justru dihuni oleh kaum pribumi. Tampak jembatan Klojen tempat bagi warga Malang melihat pemandangan kereta api yang akan memasuki Stasiun Malangkotabaru.
Khazanah budaya terakhir dalam perpindahan pusat pemerintahan ini adalah arah pola perkembangan kota menurut sungai di dekatnya. Jika Surakarta menggunakan tepian Sungai Bengawan Solo dengan patokan pusat pemerintahannya serta Yogyakarta menggunakan tepian Kali Code dan Kali Winongo, maka Malang pun melakukan hal serupa. Thomas Karsten yang namanya disejajarkan dengan Tumenggung Honggowongso dalam kisah perpindahan Surakarta juga menggunakan aliran Sungai Brantas sebagai patokan pusat pemerintahan. Ia pun memilih Klojen yang berada di sebelah timur sungai ini untuk mengembangkan pusat pemerintahan baru. Sungai Brantas sebagai edge akan membentuk node, path, district, dan landmark pusat pemerintahan baru berkembang pesat di sekitarnya.

Sungai Brantas menjadi batas alam (edge) bagi pusat pemerintahan baru. Belanda membangun jembatan di atasnya untuk menghubungkan Kauman, pusat lama dengan Klojen, pusat baru.
Kini, ketika wisatawan datang ke Kota Malang dari arah Stasiun Kota Baru Malang, ia akan melihat perpaduan filosofi budaya lokal dengan nuansa kolonial tepat di depan mata mereka. Meskipun perpaduan itu semakin terkikis dengan gencarnya pembangunan yang tanpa ampun membabat habis peninggalan berharga namun kisah-kisah perpindahan pusat pemerintahan Malang ke Klojen ini akan terus tersimpan di hati masyarakat Kota Malang. Bagaimanapun, identitas sebuah kota tak hanya tampak dari struktur fisik dan keunikan sejarahnya. Identitas tersebut akan terpancar pula dari gaya hidup dan orientasi sosial budayanya. Karsten telah meletakkan pondasi filosofi budaya lokal yang berpadu dengan budaya Eropa dalam tata kota baru di daerah Klojen, pusat Kota Malang. Perpaduan itu menyiratkan bahwa masyarakat Malang harus tetap menjaga nilai-nilai budaya luhur meskipun tetap bisa bersaing dengan keterbukaan dan perkembangan zaman.

Pasar Klojen, tempat mencari sesuap nasi bagi sebagian warga Malang. Meski sedang diuji dengan musibah besar, tapi "the show must go on". Kehidupan harus jalan terus.
Selamat Ulang Tahun Kota Malang yang ke-104. Meski sedang dirundung kemalangan akibat korupsi massal, percayalah bahwa “Malangkucecwara” (Tuhan akan menghancurkan kebathilan) itu benar-benar akan terjadi. Maka, sudah tugas kita untuk terus menjalankan kehidupan sebaik-baiknya karena kita adalah “Malang Nominor Sursum Moveor” (Malang Namaku Maju Tujuanku).


Sekian. Salam.


Sumber:

Dalam jaringan:
(1)(2)(3)

Luar jaringan:
Basundawan, Purnawan. 2009. Dua Kota Tiga Zaman : Surabaya dan Malang. Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Handianoto dan Soehargo, Paulus H. 1996. Perkembangan Kota dan Arsiterktur Kolonial di Malang. Surabaya-Yogyakarta : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Univ. Kristen Petra dan Penerbit Andi.
Margana, Sri, dkk. 2010. Kota-kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial. Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Pettricia, H.A., Wardhani, D.A., & Antariksa. 2014. Elemen Pembentuk Citra Kawasan Bersejarah di Pusat Kota Malang. Jurnal Ruas, 12 (1), 3-16.

34 comments:

  1. Waahhh
    Klasik dan agak mistik gitu yo mas wkwkwkwk

    Jadi inget dulu suka banget beli disket terus diisi diary sama gambar-gambar pakai paint wkwkwk

    ReplyDelete
  2. Namanya unik Klojen. Masih di daerah malang. Gedungnya unik dan indah sekali.
    Seharusnya orang bisa lebih makmur. Karena sudah ada sejak lama. Ah korupsi.

    ReplyDelete
  3. baru tahu tentang Klojen ini hahaha makasi sudah berbagi jadi kembali mereview zaman dulu :)

    ReplyDelete
  4. happy birthday kota Malang yang ke 104 ya...
    semoga semakin sukses

    ReplyDelete
  5. Aku suka kalimat terakhir, itu dari hati sendiri apa Dr filosofi lain.

    Malang Nominor Sursum Moveor” (Malang Namaku Maju Tujuanku).

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu semoboyan saat penjajahan Belanda, tulisan ini ada di bawha lambang yang bergambar dua singa mirip lambang negara Singapura
      Baru ketika Indonesia merdeka, lambang diganti Tugu Malang dengan tulisan Malangkucecwara

      Delete
  6. Makasiiih, udah bikin aku tambah kangen sama malang. Hiks Hiks

    ReplyDelete
  7. Loji itu dari bahasa Belanda toh, mas? Tak kira malah asli dari Bahasa Jawa lho.
    Di Solo jug ada masalahnya, beberapa tempat juga disebut dengan Loji. Meskipun sudah direnovasi, tapi memang karakteristik bangunannya masih berbau Belanda banget!


    Tamales Ngalu Nuhat Ngalam
    Bener enggak ini nulisnya? Biar berasa Malang banget gitu, ceritanya
    Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari kata Loge mas, tapi bacanya loji
      banguanan lama Belanda sering disebut loji padahal tidak semuanya adalah loji
      yang benar Tamales Nuhat aja mas sudah cukup hehe

      Delete
  8. Klojen, baru tahu ini. Tapi pas baca kirain yg nulis anak sma, ternyata kisah 12 thn silam 😁

    ReplyDelete
  9. Bangunan-bangunan tua di Klojen menarik dilihat.
    Sayang ya, itu ada 1 rumah kuno ngga terawat... padahal apik.
    Coba dimanfaatkan jadi semacam kafe dengan tema jadul, pasti menarik banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak yang gak terawat mas
      tapi banyak juga yang sudah beralih cafe
      kapan2 saya review

      Delete
  10. Saya yang asli Malang gak tahu sejarahnya, haha. Baru baca ini nih ngeh :D.

    ReplyDelete
  11. wah, itu foto pertama mempresentasikan anak muda banget, mas. keren nih bisa buat background foto2. ha ha ha.

    ReplyDelete
  12. aku suka banget jalan2 sekitaran sini, ijen juga, pkoke daerah tengah2 yang banyak rumah londonya. karepku tak tuku siji, tapi kok kudu nggowo duit 50 kerdus indomie :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. njaluk mas HJ mbak
      engkok dekek kerdus jajan ae cek tambah akeh wkwkwk

      Delete
  13. nyesel baca ini.. bikin kangen lagi sama Malang.. cobalah sekali kali mas nulis ttg Situbondo. ahahaha

    ReplyDelete
  14. Saya selalu suka bangunan-bangunan tua ala zaman penjajahan Belanda. Rumah tua, gedung tua. Entah kenapa. Terasa asik dan unik saja.

    ReplyDelete
  15. Kayknya gak cuman di Malang, di mana pun kota di Indonesia banyak yang kurang merawat bangunan bernilai sejarah. Sayang sebenernya. Padahal bangunan jaman Belanda kebanyakan punya kualitas yang sangat tinggi. Gak kayak rumah jaman sekarang. Ringkih-ringkih, gampang rusak. Ini sebenernya tugas pemerintah buat melestarikan bangunan-bangunan tua.

    ReplyDelete
  16. salah satu wishlist sha nih ke malang... btw, sha liat jembatannya kok kayak yg serem ya :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. tenang mbak, belum ada yg bunub diri kok
      eh...

      Delete
  17. selamat ulang tahun malang, ikrom jaya selalu :P adp

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.