Alun-alun Contong dan Kisah Gempuran Mataram ke Surabaya

Surabaya masih tidak hentinya meninggalkan cerita. 


Ada kalanya, saat mengunjungi kota ini, saya kerap bertanya. Mengapa kota ini tak memiliki alun-alun layaknya sebuah kota di Pulau Jawa? Mengapa Pemkot Surabaya justru di tahun 2019 ini baru berencana membangun sebuah alun-alun untuk kota pahlawan ini?

Nyatanya, Surabaya sendiri pernah memiliki sebuah alun-alun yang cukup luas. Alun-alun tersebut adalah Alun-alun Contong. Kini, alun-alun tersebut hanyalah toponimi dari sebuah kelurahan yang ada di Kota Surabaya. Di Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan ini, dulunya diyakini sebagai sebuah kompleks alun-alun yang sangat luas.

Bahkan, tak hanya memiliki sebuah alun-alun, Surabaya juga merupakan sebuah kerajaan yang cukup diperhitungkan. Meski, para ahli sejarah lebih menyebut wilayah yang diyakini memiliki pemerintahan berdaulat ini sebagai Kadipaten Surabaya.

Kadipaten Surabaya dikenal sebagai kerajaan niaga. Alasan ini tak lepas dari kebesaran Surabaya sebagai kerajaan dagang dengan letaknya yang strategis di tepi pantai Selat Madura. Banyak sudagar dari mancanegara yang datang silih berganti untuk mencari keuntungan ekonomi di Surabaya. Tak sekadar menjadi bandar, jajahan Surabaya ternyata cukup besar.

Hampir sebagian besar wilayah yang kini menjadi Provinsi Jawa Timur adalah bawahan Surabaya. Beberapa wilayah di Pulau Kalimantan seperti Sukadana dan Ratu Landak juga menjadi bawahan Surabaya. Tentu, setelah Kerajaan Majapahit mulai runtuh di abad ke-15, Surabaya pun menggantikan peran itu. Hingga abad ke-16 dan 17, Surabaya menjadi salah satu kerajaan penting di Jawa Timur.

Simbol mahkota raja di Jalan Keraton Alun-alun Contong Surabaya.
Uniknya, karena masih setia dengan Kerajaan Majapahit, kerajaan ini masih menggunakan nama kadipaten. Artinya, daerah kekuasaan yang lebih rendah daripada sebuah kerajaan. Jika sebuah kerajaan dipimpin oleh Raja/Sultan, maka sebuah kadipaten dipimpin oleh seorang Adipati.

Meski begitu, Kadipaten Surabaya tidak begitu saja mau ditaklukkan oleh Kerajaan Mataram yang mulai menggantikan eksistensi Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Penerus Kerajaan Demak dan Pajang ini juga tak bisa begitu saja dengan mudah memasuki wilayah Jawa Timur yang masyarakatnya dikenal ngeyel dan pantang menyerah.

Salah satu lorong bangunan tua di Jalan Keraton
Ada adagium yang menyatakan bahwa Wong Suroboyo tak menganggap bahwa Raja Mataram bukan keturunan langsung dari Keturunan Majapahit. Jelas, Wong Mataram tak terima dikatakan seperti itu. Mereka pun bersumpah pada suatu saat nanti, Surabaya dan Jawa Timur harus bisa ditaklukkan. Arek-arek itu harus tunduk dan mengakui Mataram.

Persaingan dua kerajaan itupun akhirnya memuncak pada tahun 1600an. Prajurit Mataram mulai menampakkan diri di tapal batas Mataram-Surabaya. Entah, di mana tapal batas itu yang jelas bukan batas Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah sekarang. Alasannya, ada beberapa bupati dan rakyat di Jawa Timur yang justru membela Mataram setelah orang-orang Mataram mulai menyusup masuk dan memprovokasi rakyat di wilayah itu.

Bangunan lama di Jalan Keraton
Mengetahui ada provokator yang masuk, Adipati Surabaya marah dan mulai menyerang ibukota Mataram. Serangan itu gagal karena kekuatan dan pertahanan Mataram yang sangat kuat. Beberapa tahun kemudian, mereka pun menyerang Mataram kembali dan gagal. Gantian, Mataram kemudian menyerang Surabaya dan juga mengalami kegagalan.

Kegagalan Mataram ini justru dijadikan pelajaran oleh Raja Mataram kala itu, Sultan Agung, untuk menyerang dulu daerah-daerah bawahan Surabaya. Mojokerto dan Pasuruan mendapat giliran pertama. Kedua daerah itu dengan mudah ditaklukkan oleh Mataram. Daerah yang kini menjadi kota penyangga Surabaya itu menyerah sekitar 1617. Tiga tahun kemudian, Tuban, kota pesisir Bang Wetan juga menyerah.

Pada 1622, tanpa diketahui banyak oleh Adipati Surabaya, Kerajaan Mataram menyeberang ke Kalimantan. Mereka menyerang Sukadana dan Ratu Landak. Daerah yang kini dipimpin seorang Bupati cantik bernama Karolin Margaret Natasha. Kedua daerah itu pun menyerah tanpa syarat.

Apakah Sultan Agung akan menyerang Surabaya dan bisa menguasai dengan mudah?

Oh tidak semudah itu Antonio. 

Arek-arek Suroboyo yang dipimpin adipatinya tak akan bisa dengan segera ditaklukkan. Sultan Agung sadar tentara Surabaya sangat tangguh, jago berkelahi, dan militan. Surabaya juga dikelilingi oleh kedung, tambak, dan kali. Di pinggiran daerahnya dibangun tembok-tembok benteng dengan meriam-meriam serta menara pengintai. Walau banyak perbedaan, Surabaya kala itu 11-12 dengan Konstantinopel yang akan dikuasai Mehmed Fatih. Cukup sulit untuk menjebolnya.

Akhirnya, Sultan Agung yang cerdik beralih strategi dengan memboikot perekonomian Surabaya. Mataram memang menang di bidang agraris. Beda dengan Surabaya yang menang di pelayaran dan perdagangan. Coba tanya ke orang asli Surabaya sekarang, apakah mereka bisa bercocok tanam dengan baik? Sejak dulu, pasokan makanan Surabaya bergantung dari stok daerah di sekitarnya.


Orang Surabaya dikenal lebih mahir dalam berdagang. Tampak jejeran toko di sekitar Alun-alun conton.
Maka, ketika Mataram berhasil menguasai daerah agraris di sekitar Surabaya, mereka pun tidak segan untuk memblokade perekonomian Surabaya dengan menjual bahan pangan ke luar wilayah Surabaya. Rakyat Surabaya pun mulai kekurangan bahan pangan. Ditambah, kompeni yang awalnya membuka kantor dagang di Surabaya pun ikut-ikutan meninggalkan Surabaya.

Bak jatuh tertimpa tangga, Madura, yang merupakan sekutu dekat Surabaya secara tak terduga diserang habis-habisan oleh Mataram. Surabaya tak tinggal diam. Bala bantuan pun mereka kerahkan. Bahkan, para istri prajurit Surabaya dan Madura pun ikut berlaga di medan perang sampai titik darah penghabisan. Hingga pada 1624, Madura bisa takluk ke Mataram.

Misi menyerang Surabaya habis-habisan tinggal selangkah lagi. Namun, Sultan Agung tidak begitu saja menyerang kerajaan ini. Ia terlebih dahulu membendung sungai-sungai di sekitar Surabaya. Akibatnya, pasokan air ke Surabaya menjadi berkurang. Dan, sadisnya, Tentara Mataram juga membuang bangkai-bangkai hewan di sungai-sungai itu. Pada titik ini, dengan sangat terpaksa, akhirnya Surabaya takluk ke Kerajaan Mataram.
Sisa bangunan yang diduga Bekas keraton Surabaya di Alun-alun Contong.
Namun, penaklukan ini sejatinya berakhir dengan cara pernikahan. Rupanya, Sultan Agung jatuh hati kepada Pangeran Pekik, sang putra Adipati Surabaya. Sang Raja memintanya untuk menikah dengan adik perempuannya yang bernama Ratu Mas Pandan atau Ratu Wandansari. Perang Mataram-Surabaya pun berakhir tahun 1625 dengan perkawinan politik ini. Sejak saat itu, Surabaya berada di bawah kekuasaan Mataram hingga VOC menguasai kota ini pada 1743. Artinya, ada rentang cukup lama bagi sebuah kerajaan bernama Surabaya untuk eksis.

Sayangnya, dengan pembangunan masif Kota Surabaya, keberadaan jejak keraton Surabaya sudah tak tampak lagi. Hanya toponimi (penggunaan nama) yang masih ada hingga saat ini. Seperti, Jalan Keraton, Jalan Baliwerti, Jalan Carikan, Jalan Kepatihan, dan Jalan Bubutan. Nama-nama jalan tersebut menggambarkan profesi yang ada dalam tata sebuah kerajaan seperti patih, tukang bubut, dan lain sebagainya.

Menurut Direktur Utama Surabaya Heritage Soeciety, Freddy Istatno, dahulu Surabaya juga memiliki Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan layaknya sebuah keraton seperti yang ada di Kesultanan Yogyakarta. Alun-alun Utara berada di daerah Tugu Pahlawan sekarang sedangkan Alun-alun Selatan berada di daerah Baliwerti.


Daerah-daerah tersebut kini telah padat dengan pemukiman dan berbagai usaha. Meski, ada beberapa bangunan lama yang masih tersisa, keberadaannya sungguh membuat ngilu mata. Salah satu jejak yang masih bisa disaksikan adalah sebuah menara pandang yang kini menjadi pintu masuk sebuah gang di Jalan Keraton.

Nah dengan rencana pembangunan Alun-alun Surabaya versi Milenial ini, akankah jejak kejayaan Kadipaten Surabaya yang begitu ganas bisa terulang? Kita tunggu saja bagaimana hasil tangan dingin Bu Risma, “Adipati” Surabaya saat ini di sisa jabatannya.

Sumber: 
(1) (2)   (3)

58 comments:

  1. baru tahu ane gan kalau ada alun alun contong, belum pernah dengar sebelum nya hhhhh

    ReplyDelete
  2. Heroic juga ya sejarah panjang Surabaya...bekas alun-alun Contong jadi saksi

    ReplyDelete
  3. Surabaya Takluk Kepada Matraman, dan akhirnya keduanya dikelola oleh VOC.

    berapa banyak bangkai hewan yang dibuang ke sungai Surabaya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan dihitung dengan persamaan parametrik wkwkw

      Delete
  4. Mencoba untuk menulis komentar, walaupun nggak tau harus komen apa wkwk

    ReplyDelete
  5. Keren banget menulis sejarahnya. Alurnya rapi.
    Aku baru kepikiran juga kalau Surabaya selama ini nggak ada alun-alunnya dan ternyata Surabaya pernah punya alun-alun, yaitu Alun-alun Contong yang menjadi saksk sejarah Surabaya, yaitu Kadipaten Surabaya.

    Aku suka baca sejarah.
    Semoga kakak rajin post tentang sejarah.

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  6. Itu gangnya bersih dan kece nih untuk foto foto hehehe

    Byk hal menarik yg bisa dibagikan dan byk orang yg gk tau juga

    ReplyDelete
  7. sejarah Surabaa begitu banyak jaman dulu dan jaman perebutan kemerdekaan

    ReplyDelete
  8. Gila mas, pintar amat tau sejarah Kota Surabaya sampai detail gitu.

    ReplyDelete
  9. Surabaya emang banyak sejarahnya, ini sejarah baru lagi yang saya denger. Historical place banget... Semoga bisa dipelihara dan dikembangkan dan sejalan agar sejarah tetap terjaga

    ReplyDelete
  10. wah berasa belajar sejarah lagi. aku yang terbiasa wira-wiri di jalanan kota surabya baru tahu arti dibalik nama jalan-jalan tersebut.

    ReplyDelete
  11. kok keren sih, pengalaman jadi tour guide atau keturunan keraton atau guru sejarah mas? lengkap banget cerita penaklukan surabaya

    ReplyDelete
  12. Wah, ini keren.. Sy pernah beberapa kali buat tulisan tentang Mataram...
    Baru kali ini baca info lengkap tentang penaklukan Surabaya oleh Sultan Agung..

    Tapi misal kalau ditelusuri lebih lanjut, pasti ada kisah menarik di setiap ekspansi Mataram sewaktu masa kejayaannya..

    Sayang juga kalau peninggalan sejarah di sana terbengkalai...

    ReplyDelete
  13. Senang bisa membaca sejarah di blog ini. Sayang banget kalau bangunan bersejarah harus tergilas zaman. btw, fotonya bagus apalagi ditambah dengan efek jadul. Semakin memperkuat tulisan.

    ReplyDelete
  14. wah makasih, baru baca tentang sejarah Surabaya

    selama ini sering bingung, kok Surabaya gak punya alun-alun, ternyata ..... :)

    ReplyDelete
  15. Wah, baru tahu kalau di surabaya pernah ada alun-alun. Pengetahuan baru

    ReplyDelete
  16. perjalanan panjang Surabaya. Jadi pengen ke sana lagi.

    ReplyDelete
  17. baru tau nih. ternyata oh ternyata. sejarah itu penting ya

    ReplyDelete
  18. Selama ini yang aku tau di Surabaya terkenal oleh patung buaya dan hiunya ajaa.. hadehh.. harus banyak belajar sejarah lagii.. makasi pengetahuan barunya kaa..

    ReplyDelete
  19. Wah ternyata dulu Surabaya itu punya Alun-alun Contong. Dan memiliki sejarah yang heroik juga

    ReplyDelete
  20. Wah keren cerita sejarahnya. Bisa runtut gini ya mas. Ternyata begitu ya, mudah2an pembangunannya berjalan baik yaa. Paling ya besok jadi spot selfie terbaru 😆😄

    ReplyDelete
  21. Seru banget nih baca sejarah tentang Surabaya. Nambah pengetahuan.

    ReplyDelete
  22. Surabaya terasa dekat tapi jauh hehee Baca kisahnya dulu disini, mana tau kesampaian liat langsung temapat bersejarah tersebut. Makasii udah sharing Pak :)

    ReplyDelete
  23. Ternyata dulu punya alun-alun kayak Jogja ya Mas. Menarik banget sinih sejarahnya. Baru tahu ada alun-alun namanya Contong.

    ReplyDelete
  24. Salfok ke highlight pada nama Karolin Margaret Natasha hahah
    Kadang ketika mendengar toponimi satu jalan atau tempat diri ini langsung bayangin..di sini dulu ada sebuah peradaban yang pernah jaya pada masanya.
    Info yang lengkap sekali ini Mas Ikrom. Sayang sekali jika pernah ada alun-alun luas di Surabaya dulunya yang kini sudah raib keberadaannya. Semoga Adipati Risma bisa membangunnya kembali

    ReplyDelete
    Replies
    1. bupati cantik ya mbakk
      amin semoga saja ya mbak

      Delete
  25. Ya ampun, baru berkunjung ke sini. Ternyata informatif banget artikelnya. Berasa belajar sejarah lagi. Tak sabar menanti Alun-alun milinealnya surabaya kali ini:)

    ReplyDelete
  26. Aku mengenal Surabaya sebagai kota perdagangan. Orang tua dagang, jadi sering ikut. Jejak-jejak kerajaan kurang populer. Tapi membaca cerita mas Ikrom, duh rasanya aku pengen ikut blusukan aja.

    ReplyDelete
  27. Menarik ulasannya.. jadi tahu lebih banyak ttg Surabaya. Juga tentang fakta kalo Surabaya gak punya alun2 sprti kota lainnya. . juga fakta kalo sbnrnya pernah ada tapi udah gak keliatan bentuk aslinya... ikut menunggu nih alun2 yang dibikin tar kayak apa..

    ReplyDelete
  28. seru banget bacanya, aku jadi tau banyak tentang sejarahnya :)

    ReplyDelete
  29. Sangat disayangkan ya jejak jejak ketenaran kerajaan jaman dulu dengan mudahnya hilang. Sedih melihat keadaan seperti itu

    ReplyDelete
  30. jujur lho baru tahu klo pernah ada kerajaan (atau kadipaten) surabaya ini.. tanya ya majapahit aja ahaha.. kurang baca sejarah..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.