Batu Loncatan Menjadi Karyawan Sejahtera

Dalam sesi wawancara dengan psikolog beberapa tahun yang lalu, saya mendapati kenyataan bahwa saya tidak direkomendasikan untuk menjadi karyawan. 


Analisis sang psikolog ini memang sukar untuk saya pahami. Namun, seiring berjalannya waktu, saya akhirnya paham bahwa saya tidak senang berada dalam suatu peraturan yang mengikat dan memiliki berbagai ide untuk segera dieksekusi sesuai minat saya.

Meski begitu, nyatanya hingga sekarang saya masih bekerja ikut orang lain walau tidak terlalu mengikat juga. Tapi, setahap demi setahap saya memaknai pekerjaan yang saya lakukan sekarang akan berdampak pada pekerjaan dan kehidupan selanjutnya. Biasanya, pekerjaan pertama yang dilakukan akan menjadi batu loncatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Kehidupan lebih baik ini bisa diartikan menuju keadaan sejahtera atau bisa disebut karyawan sejahtera. Karyawan yang dimaksud bukan terbatas melakukan pekerjaan yang terikat instansi namun juga menjadi wirausaha mandiri. Bekerja mandiri atau mengikuti orang maupun instansi sejatinya kita adalah karyawan. Manusia yang berkarya untuk orang lain.

Dalam buku bertajuk Saya Beruntung Menjadi Karyawan karya Hendri Hartopo, setidaknya ada beberapa poin yang seharusnya dimiliki karyawan terutama yang baru pertama kali bekerja. Poin-poin tersebut akhirnya bermuara kepada karakter karyawan sejahtera yang akan sangat berbeda dengan karyawan-karyawan lain yang hidup “biasa-biasa saja” dan melakukan rutinitas kerja yang membosankan. Dalam hal finansial, karyawan sejahtera akan memiliki keadaan keuangan yang jauh lebih mantap dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang melanda.

Lantas, apa saja karakter karyawan sejahtera itu? Berikut beberapa poinnya.

Pertama, karyawan sejahtera akan menabung berapun penghasilan yang ia terima. Sebagai karyawan yang baru pertama bekerja, tentu ada rasa bangga dan keinginan untuk membelanjakan penghasilan yang diterima. Wajar, mengingat uang sudah ada dalam genggaman, apapun akan bisa dibeli dan dilakukan.

Kebiasaan menabung sedari awal bekerja membuat karyawan tersebut akan terlatih pada jenjang pekerjaan selanjutnya. Mereka akan konsisten menyisihkan anggaran untuk tabungan berapapun uang yang mereka terima. Konsistensi ini penting dimulai saat baru pertama bekerja agar budaya konsumtif yang kini hadir dengan aneka cashback tidak membuat karyawan mengalami besar pasak daripada tiang.

Saat magang menjadi wartawan dulu, gaji saya tidaklah seberapa. Pun, saat menjadi guru honorer, gaji saya hanya 600 ribu rupiah. Namun, saya selalu menyisihkan tiap bulan sebesar 50.000 ribu rupiah di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang dikelola guru PNS. Alhamdulillah, tiap akhir tahun pelajaran, terkumpul uang beberapa ratus ribu yang bisa saya gunakan untuk jalan-jalan ataupun keperluan lain.

Kedua, investasi akan menjadi salah satu fokus karyawan sejahtera. Sejatinya, dalam melakukan investasi, seorang karyawan sedang membangun kesejahteraannya sendiri. Sekarang, aneka investasi cukup mudah dilakukan. Walau tidak bisa dipetik secara instan, investasi ini akan membantu karyawan untuk kelangsungan hidupnya saat ia sudah tidak lagi bisa bekerja dengan baik.

Saya sendiri kini sedang melakukan investasi dengan membuka beberapa cabang lembaga bimbingan belajar. Meski investasi yang saya lakukan membuat keuangan pribadi saya cukup terengah-engah lantaran harus menyewa tempat dan sejenisnya, namun saya yakin pada saatnya nanti, hasil investasi ini bisa dipetik. Ketika ada dana lebih yang tak terpakai baik hasil bekerja di lembaga pendidikan maupun dari kegiatan menulis, maka akan langsung saya investasikan untuk kegiatan tersebut.

Ketiga, meski bergaji kecil, bagi saya pekerjaan yang saya lakukan bisa digunakan sebagai ajang belajar. Ajang pembelajaran untuk meningkatkan nilai jual saya kepada orang lain. Maka, saat pertama kali bekerja, saya melakukannya dengan serius dan tidak main-main.

Kala menjadi wartawan, saya banyak belajar mengenai teknik kepenulisan, menggali ide, dan berhubungan dengan narasumber. Kemampuan ini banyak yang bisa saya gunakan ketika ingin menulis narablog. Pun, kala ada tawaran untuk menulis di portal media tertentu, kemampuan saat menjadi wartawan ini sangat berharga untuk bisa memaksimalkan hasil tulisan saya yang bisa jadi memiliki nilai lebih dibandingkan tulisan serupa.

Ketika menjadi guru honorer, saya banyak belajar masalah psikologi pendidikan. Masalah teknik mengajar dan tentunya kehumasan dengan wali murid. Poin terakhir ini penting sekali lantaran banyak guru muda yang tak terbiasa menghadapi wali murid zaman sekarang. Banyak guru senior menyebutnya “gagap”.

Maksudnya, jika kita tidak bisa memahami apa yang mereka inginkan dan mengungkapkan informasi yang mereka butuhkan, yang terjadi adalah miskomunikasi. Kemampuan ini sangat berguna saat mengajar bimbel dan menginformasikan perkembangan belajar dan perilaku siswa-siswi saya kepada orangtuanya.

Kemampuan manajerial yang saya pelajari saat membantu Kepala Sekolah saya dulu sangat berguna saat kini harus mengorganisasi tenaga pendidik di cabang-cabang bimbel yang saya kelola. Terasa berat memang lantaran saya akui diri saya tidak memiliki jiwa leadership yang cukup baik. Namun, dari pengalaman selama mendampingi Kepala Sekolah, ada banyak ilmu yang bisa saya serap tentang bagaimana mengatur para tentor, menghitung gaji mereka, hingga menberikan T&C kepada para tentor baru yang akan bergabung.

Keempat, bekerja pertama kali juga menjadi batu loncatan untuk memiliki tanggung jawab lebih.  Tanggung jawab lebih berarti pula diikuti dengan naiknya penghasilan. Tentu, untuk mencapai hal ini, maka kerja keraslah yang harus dilakukan.

Ketika pertama mengajar dulu, saya belum mendapatkan kelas sendiri dan menjadi pendamping guru senior. Saya hanya mengajar pelajaran IPA dan Matematika. Lambat laun, pada tahun berikutnya, saya dipercaya menjadi Guru Kelas 5. Tahun berikutnya, saya dipercaya mengerjakan Laporan BOS dan sejenisnya serta mendampingi ekskul band. Dengan bertambahnya beban kerja saya, maka pihak sekolah pun menambah gaji saya yang awalnya 600 ribu rupiah menjadi sekitar 1 juta rupiah per bulan.

Kelima, tetap tanamkan mindset untuk selalu bersyukur berapapun penghasilan yang kita terima. Rasa syukur ini harus dipupuk saat awal bekerja agar ketika ada perubahan hidup terutama masalah finansial, kita tetap tahan banting dan tidak melupakan kodrat kita sebagai manusia biasa yang diberi rezeki oleh Yang Maha Kuasa.

Ketika pertama kali bekerja dan gaji saya “hanya” 600 ribu rupiah per bulan, saya sangat bersyukur sekali. Untuk mendapatkan posisi itu tidaklah mudah. Terlebih, saya bukan lulusan PGSD. Nyatanya, dengan gaji sebesar itu bagi saya masih cukup dan bahkan lebih. Tempat kerja saya berjarak kurang dari 1 kilometer dari rumah. Jika selesai mengajar, saya izin pulang dahulu untuk makan siang di rumah dan salat lalu kembali ke sekolah lagi untuk mengerjakan pekerjaan lain hingga pukul 4 sore. Jadi, saya bisa irit banyak.

Lucunya, saya pernah mendapat curhatan seorang teman yang baru bekerja sebagai karyawan bank di ibukota. Ia mengeluh bahwa gajinya sangat kurang untuk tinggal di Jakarta. Sebenarnya, saya sih tidak terlalu ambil pusing lantaran sebenarnya jelas gajinya jauh lebih tinggi dari saya. Apa kabar ya guru honorer di ibu kota, pikir saya waktu itu. Tapi melihat gaya hidupnya yang “wah”, saya jadi semakin paham. Untuk menjadi karyawan sejahtera rasa syukur akan penghasilan haruslah tetap tersemat.

Keenam, karyawan sejahtera harus bisa menangkap peluang yang ada. Karyawan sejahtera akan selalu mengatakan “saya bisa” dan optimis untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Peluang ini sebenarnya banyak sekali tergantung kita mau aktif mengambil peluang tersebut atau hanya duduk manis.

Dulu, saya kerap ditawari untuk mengerjakan administrasi guru PNS, seperti mencetak RPP, silabus, dan sejenisnya, serta mengerjakan administrasi guru yang bersangkutan ketika akan naik pangkat. Saya tidak mematok tarif asal saya mampu, peluang itu saya terima. Bersyukurnya, ketika sang guru tersebut memberi saya imbalan, ternyata nilainya jauh melebihi ekspektasi saya.

Pun demikian kala ada sebuah sekolah lain di kabupaten yang menghubungi saya untuk menjadi mentor olimpiade MIPA bagi siswanya, tawaran itu pun saya terima. Meski, saya harus menempuh perjalanan jauh selepas mengajar. Namun, tawaran ini berakhir manis dengan upah yang juga lebih banyak di atas ekspektasi saya.

Ketujuh, menjadi karyawan harus memiliki misi tertentu yang berkesinambungan. Tentu, misi ini penting agar dalam bekerja, ada pikiran kuat apa sih tujuan kita dalam bekerja. Jangan sampai kita hanya bekerja ya sekadar bekerja tanpa ada misi tertentu. Kalau misi saya sekarang adalah dengan membuka banyak cabang bimbel, saya ingin memberikan layanan bimbingan belajar yang terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Mereka yang tidak mampu menjangkau bimbel pada umumnya namun tetap mendapatkan fasilitas dengan kualitas terbaik.

Terakhir, karyawan sejahtera akan mencari dan mengumpulkan kekayaan dari dua sumber, yakni dirinya dan dari luar. Sumber dari luar berupa gaji atau uang. Sumber dari dalam diri tersebut adalah ilmu pengetahuan, keahlian, dan keunikan.

Sumber dari dalam diri ini bagaikan mata air yang tidak akan pernah habis. Sumber dari dalam diri akan memberikan uang jika sumber dari luar kita hilang. Misalnya, jika (jangan sampai) kita kehilangan uang, maka kita masih menggantinya dengan bekerja lagi dan memperbaiki kualitas kita. Inilah mental yang harus saya jaga, terutama dalam bekerja untuk tidak menyesali keputusan yang sudah saya ambil.

Jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang bekerja dengan gaji tinggi, saya masih belum banyak mendapatkan materi berlimpah. Namun saya tetap percaya, pekerjaan pertama saya sebagai wartawan magang dan guru honorer malah membuat sumber dalam diri saya semakin kaya, tidak hanya dalam hal finansial yang bisa saya petik hasilnya entah beberapa tahun ke dapan.


Yang terpenting sekarang, saya tetap melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya. Karena pada hakikatnya, usaha yang semata mementingkan uang adalah usaha yang miskin. Seperti kata sebuah kalimat bijak:
A business that makes nothing but money is a poor kind of business. (Henry Ford)

3 comments:

  1. Visi misi sering membuat lelah menjadi bahagia. Apa lagi kalau suatu langkah sudah tercapai.

    ReplyDelete
  2. Saya belum bisa nabung, Mas. Habis terus hehe.... Belum sejahtera berarti ya? Dan memang ga cocok juga saya jadi karyawan, bawaannya bete mulu haha.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.