Tiga Hal yang Ingin Saya Bagi di SD Tempat Ibu Mengajar

Sudah hampir delapan tahun saya tidak lagi mengunjungi SD ibu saya dulu. 

Pantai Sipelot, Tirtoyudo, Malang. - Jejakpiknik.com
Sekolah ini berada di sebuah desa terpencil di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Untuk mencapai sekolah tersebut, saya masih ingat harus menempuh perjalanan panjang. Dari Malang, saya harus naik bus jurusan Malang-Lumajang dan turun di kota Kecamatan Tirtoyudo yang banyak orang sering menyebutnya daerah Pal. Perjalanan dari Malang-Pal ini menempuh waktu kurang lebih satu setengah jam.

Dari daerah Pal, saya harus menempuh perjalanan menggunakan ojek motor selama hampir 45 menit. Medan berliku dan terjal menjadi tantangan untuk menuju desa sekolah ibu saya yang bernama Jogomulyan. Kadang, saya berpapasan dengan mobil bak terbuka yang mengangkut sayur dan buah salak serta warga yang akan pergi ke kota kecamatan. Daerah ini memang cukup terisolasi dari luar.

Walau harus melakukan perjalanan jauh, namun saya selalu semangat untuk datang ke sana. Hamparan kebun kopi dan deretan pegunungan yang memagari daerah ini benar-benar cantik. Kalau cuaca sedang bersahabat, saya malah mendapat pemandangan indah berupa Puncak Semeru yang mengepulkan asapnya. Ya, desa ini terletak tak jauh dari Gunung Semeru.



Jalan menuju desa
Kunjungan saya ke desa itu selalu dalam rangka mengiringi paduan suara siswa-siswi kelas 6 yang akan dilepas. Jadi, saya datang ya setahun sekali. Belum pernah sampai menginap lantaran saya kembali ke Malang untuk melakukan pekerjaan lain.

Beberapa hari terakhir, saya melihat ada sebuah vlogger yang melakukan reportase menuju Pantai Sipelot dan melewati desa ini. Saya masih ingat beberapa bangunan yang saya lewati dulu, seperti kantor kepala desa, toko, hingga masjid yang berada di atas bukit. Semuanya masih sama dengan yang saya saksikan saat mengunjungi desa itu.



Suasana Desa Jogomulyan
Namun, yang sedikit berbeda adalah jalan yang dilalui oleh vlogger tersebut tampak lebih mulus. Meskipun pada akhirnya juga rusak saat menuju pantai, namun itu jauh lebih baik. Dulu, kata ibu saya, anak-anak Kelas 4 hingga 6 sering melakukan penjelajahan menuju Pantai Sipelot saat kegiatan Pramuka. Mereka akan berjalan kaki setelah sebelumnya naik truk pasir dari sekolah. Di jalan setapak menuju pantai itu yang tak bisa dilewati kendaraan, barulah mereka berjalan kaki.

Meski ngeri membayangkannya, namun saya senang ketika bersua dengan anak-anak itu. Saat latihan paduan suara, saya sampai terharu karena banyak diantara mereka yang tidak pernah melihat keyboard seperti yang saya punya. Latihan yang kami lakukan pun berjalan cukup menyenangkan. Seorang Guru Agama Kristen yang cukup supel bernama Bu Tina menjadi leader. Beliau adalah rekan ibu saya.

Meskipun beliau Guru Agama Kristen dan ibu saya adalah Guru Agama Islam, namun keduanya cukup kompak dalam melatih anak-anak. Mereka bertekad menampilkan anak-anak kelas 6 sebaik mungkin lantaran ini kesempatan terakhir bisa memberi yang terbaik terutama bagi orang tua. Juga, menjadi semangat sendiri khususnya bagi siswa putri yang banyak berkeinginan tidak melanjutkan sekolah. Sebagai informasi, angka putus sekolah pada tahun tersebut di daerah ini cukup tinggi.

Saat mereka bernyanyi,ternyata suara mereka bagus-bagus dan kompak. Bahkan, kadang terlihat lebih bagus dibandingkan murid-murid saya sendiri yang ada di kota. Sayangnya, lantaran tidak adanya akses yang lebih baik, bakat-bakat terpendam itu sering tenggelam. Saya semakin takjub kala ada seorang siswi yang bisa bermain keyboard dan menyanyikan sebuah lagu perpisahan.

Walau hanya berlatih tiap hari Minggu di gereja, menurut saya itu sudah cukup baik. Lagi-lagi, kurangnya akses terhadap fasilitas membuat bakat bagus ini terpendam. Makanya, jika ada satu kesempatan mengunjugi daerah ini lagi, saya ingin mengajak mereka untuk berlatih musik dan olah vokal. Sekalian, saya juga ingin melakukan trip ke Pantai Sipelot yang terkenal akan keindahan batu karangnya.

Selain ingin berbagi ilmu mengenai musik, saya juga ingin sekali berbagi menganai sains di sini. Ada banyak sumber daya alam yang belum termanfaatkan dengan maksimal. Saya ingin sekali mengajak anak-anak itu membuat semacam KIR sederhana yang memanfaatkan potensi di sekitarnya.

Mulai dari pengolahan sampah, pemanfaatan tenaga sungai, hingga memaksimalkan potensi aneka sayur dan buah yang hanya dijual begitu saja. Saya lihat, anak-anak di sekolah ibu saya sebenarnya cukup cerdas. Beberapa kali, mereka mendominasi 10 besar peringkat NUN di tingkat kecamatan. Sayang, lagi-lagi karena kurangnya fasilitas membuat banyak diantara mereka hanya melanjutkan pendidikan sampai SMP atau SMK saja.


Anak-anak kelas 6 berlatih paduan suara
Jarang sekali yang berniat untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Makanya, dengan berbagi ilmu sains yang bisa mereka terapkan secara sederhana, maka ada hasrat yang tinggi untuk terus belajar hingga ke perguruan tinggi. Ada tekad yang kuat agar mereka bisa lebih baik lagi dan ikut serta membangun desa mereka.

Saya juga ingin berbagi informasi mengenai program bidik misi yang kini banyak tersebar di berbagai kampus, terutama di Malang. Saya ingin mereka memiliki tekad bahwa bolehlah mereka hidup di pedalaman, namun tekad untuk terus menuntut ilmu tinggi tak boleh padam.

Terakhir, berbagai ilmu yang saya bagikan rasanya akan sia-sia jika tidak ditulis. Makanya, saya juga ingin memberi sedikit pelatihan menulis sederhana kepada mereka. Saya ingin mereka mengungkapkan masalah, apa yang telah mereka lakukan, hingga harapan ke depan bagi desa mereka.

Tidak perlu yang rumit, secara sederhana khas anak SD saja namun mengena dan sesuai dengan kaidah yang ada. Jika kegiatan ini berlangsung lancar dan ada keberlanjutan yang baik, bukan tidak mungkin tulisan-tulisan mereka akan bisa terangkum dalam bentuk sebuah buku.

Buku yang akan menjadi catatan manis bagi mereka dan diri saya bahwa untuk memulai langkah besar haruslah dimulai dari yang sederhana. Asal ada kemauan dan usaha maksimal, tidak mustahil terjadi peningkatan taraf hidup masyarakat di desa ini dari peran generasi muda mereka yang cemerlang.

2 comments:

  1. Baguuusss bangett desanya Mas
    Aku jadi inget desa nenekku d Pacitan

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.