Gagal Meraih Gelar, Masihkah Peserta Pemilihan Puteri Indonesia Bisa Kembali Berlaga pada Tahun Berikutnya?

Puteri Indonesia sulawesi selatan
Para peserta Puteri Indonesia Sulawesi Selatan 2021-2022. - Dok Istimewa

Beberapa hari terakhir, Yayasan Puteri Indonesia (YPI) dan dunia perpageant-an sedang mengalami gonjang-ganjing.

Berbagai komentar miring pun ditujukan kepada Kerajaan Konde – sebutan PL bagi YPI. Komentar ini timbul lantaran salah satu calon finalis Puteri Indonesia 2022, Fiza Khan tidak lolos dalam 6 peserta Puteri Indonesia 2022 dari DKI Jakarta.

Fiza juga tak masuk dalam Puteri DKI Jakarta Favorit yang masih berkesempatan maju ke voting bersama calon peserta lain dari provinsi se-Pulau Jawa. Dengan kata lain, Fiza gagal untuk menjadi peserta Puteri Indonesia 2022.

Mega Favorit yang Gagal Maju ke Tingkat Nasional

Padahal, Fiza sudah menjadi giga bahkan tera favorit – bukan lagi giga – para pageant lover. Tak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Beberapa portal pageant besar dari luar negeri juga telah menjadikan Fiza sebagai ancaman dari beberapa negara powerhouse andaikata dia menjadi Puteri Indonesia 2020 dan maju ke Miss Universe 2020.

Setiap hari saat audisi nasional, nama Fiza terus diagungkan. Gadis keturunan imigran asal Pakistan ini memang menjadi magnet perhelatan PI tahun ini. Ia telah bergabung dengan salah satu beauty camp. Ketika wawancara online, berbagai pertanyaan dari penyeleksi ia lahap dengan apik. Kemampuan bahasa Inggris cas-cis-cus, seperti yang diharapkan oleh para PL pun ia miliki. Saat ini, ia juga tengah melakukan advokasi yang mendukung langkahnya lolos menjadi peserta Puteri Indonesia.

Baca juga: Mengapa Saya Kurang Tertarik dengan Male Pageant?

Sayang, paket komplit yang seakan dimiliki Fiza belum mampu membuatnya menjadi peserta PPI 2022. Ia terhempas dan harus puas terhenti di audisi nasional. Atas hasil ini, banyak PL terutama pendukungnya menganggap bahwa YPI sudah melakukan tindakan yang ceroboh. Ada anggapan pula bahwa isu “puteri titipan” masih berlaku. Lantaran, ada salah satu peserta yang lolos mewakili DKI Jakarta merupakan kenalan dari salah satu petinggi YPI.

Fiza Khan Puteri Indonesia
Fiza Khan. - Sumber: IG Fiza Khan
 

Namun, jika berpikir lebih bijak, sebetulnya kita sebagai orang luar tidak tahu secara pasti bagaimana penjurian yang dilakukan YPI. Bisa saja, Fiza masih belum memenuhi kriteria yang dopersyaratkan YPI. Atau, YPI memberi kesempatan pada Fiza untuk ikut lagi tahun berikutnya agar bisa mempersiapkan diri lebih baik. Siapa tahu, tahun depan ketika FIza ikut dan jauh lebih siap, maka ia akan memenangkan gelar Puteri Indonesia.

Pertanyaan pun muncul. Masih bisakah peserta yang gagal dalam Pemilihan Puteri Indonesia ikut lagi pada tahun berikutnya jika gagal?

Beda Aturan Antara Kompetisi Provinsi dan Nasional

Jawabannya adalah tergantung. Tergantung ia gagal pada tahap apa. Jika gagal dalam tahap seleksi untuk mendapatkan sash atau selempang provinsi, maka ia masih diberi kesempatan untuk berlaga kembali pada edisi selanjutnya.

Akan tetapi, jika ia gagal saat berlaga di tingkat nasional, yakni saat malam puncak Puteri Indonesia yang disiarkan langsung di stasiun televisi, maka ia dilarang untuk tampil kembali. Malah, ia akan diberikan kontrak menjabat sebagai Puteri Indonesia Daerah oleh YPI. Selama dua tahun itu, namanya masih terikat dengan YPI. Tak boleh mengikuti kontes kecantikan lain. Jika melanggar, maka YPI akan mencabut gelar Puteri Indonesia Daerah yang telah disematkan kepadanya.

Baca juga: Mengulik Sesi Deep Interview Miss Universe

Pencabutan ini pernah terjadi beberapa kali. Salah satu edisi Puteri Indoneia yang paling banyak terjadi pencabutan gelar Puteri Indonesia Daerah adalah edisi Puteri Indonesia 2017. Saat itu, ada empat Puteri Indoensia Daerah yang gelarnya dicabut, antara lain Banten, DKI Jakarta 1, NTB, dan Kalimantan Utara.

Gelar PI Banten dicabut karena mengikuti ajang Miss Earth Indonesia. Gelar PI NTB dicabut karena mengikuti  Miss Grand Indonesia. Gelar DKI Jakarta 1 dicabut karena mengikuti Miss Tourism Global. Sedangkan, gelar PI Kaltara dicabut karena ia berlaga di ajang Miss Tourism World. Keempat Puteri Indonesia Daerah itu lalu dilarang untuk menggunakan nama Puteri Indonesia lagi.

Jika diamati, gelar Puteri Indonesia terlihat begitu sakral. Makanya, ada adagium yang diagungkan yakni Sekali Puteri Indonesia tetap Puteri Indonesia. Adagium ini memiliki arti bahwa sekali mereka berlaga dan mengenakan sash atau selempang Puteri Indonesia Daerah, maka sekali itu kesempatan seumur hidup mereka dapatkan. Mereka tak bisa lagi mencoba peruntungan pada tahun berikutnya.

Sistem Negara Lain Membolehkan Peserta Tampil Kembali

Sistem ini berbeda dengan beberapa negara lain yang masih memperbolehkan peserta yang sudah maju tingkat nasional tetapi belum memenangkan gelar maju pada tahun berikutnya. Salah satunya adalah Binibining Pilipinas. Pageant ini memperbolehkan mereka ikut kembali jika belum memenangkan gelar internasional. Semisal, mereka masih masuk babak 40 besar, 15 besar, atau runner-up, mereka masih bisa tampil kembali tahun berikutnya.

Beberapa nama pun dikenal sebagai veteran pageant yang ikut mencoba kembali peruntungan pada tahun berikutnya. Salah satunya adalah Miss Universe 2015, Pia Wurtzbach yang sudah tiga kali mencoba peruntungan mengikuti Binibining Pilipinas. Pia pertama kali ikut pada tahun 2013 dan meraih runner-up 1. 

Baca juga: Tradisi dan Obsesi Orang Filipina pada Kontes Kecantikan

Posisinya saat itu nyaris berhasil menggondol salah satu dari 6 mahkota internasional. Pada tahun 2014, ia mencoba lagi peruntungan dan malah hanya masuk babak 15 besar. Akhirnya, pada tahun 2015, ia berhasil menjadi Miss Universe Philippines dan bahkan memenangkan kontes kecantikan terbesar di jagad ini. Rezeki memang tak ke mana.

Pun demikian dengan Samantha Mae Bernardo. Mewakili Filipina dan menjadi kebanggan bagi negaranya adalah impian SamBer – sapaan Samantha . SamBer dua kali gagal maju ke ajang internasional. Pada Binibining Pilipinas 2018 dan 2019, ia selalu mentok menjadi runner-up 2. Jika kita melihat video pemahkotaan Binibining 2018 dan 2019, tampak wajah SamBer yang tersenyum getir menahan kekecewaan. 

Namun, ia kemudian ditunjuk oleh Madame Stella – pemilik Binibining Pilipinas – untuk maju ke ajang Miss Grand International 2020. Ia langsung tancap gas dan meraih runner-up 1. SamBer pun merasa sangat puas meski belum meraih mahkota. Yang terpenting ia sudah mencapai cita-cita untuk mewakili Filipina.



Lalu, desakan pun muncul agar peserta Puteri Indonesia yang sudah tampil di level nasional dan belum meraih mahkota diberi kesempatan kembali. Sayangnya, hingga kini YPI masih menggunakan pakemnya dan tidak mengizinkan peserta PI yang sudah maju ke tingkat nasional kembali berlaga. Sekali Puteri Indonesia tetap Puteri Indonesia. Begitulah bunyinya.

Apa yang disyaratkan YPI memang harus kita hargai. Lantaran, masih banyak wanita Indonesia yang juga ingin menjadi Puteri Indonesia tiap tahunnya. Mereka juga berhak mendapatkan kesempatan yang sama. Untuk itulah, ketika sudah maju ke ajang nasional, peserta Puteri Indonesia harus benar-benar all out menunjukkan kemampuannya.

Kegagalan Para Puteri Indonesia Bisa Jadi Pelajaran

Meski demikian, ada beberapa cerita kegagalan Puteri Indonesia yang belum mampu maju ke tingkat nasional tetapi berhasil saat ikut kedua kalinya. Salah satunya adalah Anindya Kusuma Puteri yang gagal maju ke ajang nasional pada 2012. Ia dikalahkan Maria Selena yang kemudian menjadi Puteri Indonesia. Anin kemudian maju lagi pada 2015 dan akhirnya berhasil maju ke tingkat nasional hingga memenangkan gelar Puteri Indonesia 2015.

Baca juga: Provinsi Mana yang Memenangkan Gelar Puteri Indonesia Terbanyak?

Kisah lain datang dari Ayu Maulida (Ayuma). Puteri Indonesia 2020 yang masih menjabat itu juga pernah gagal saat pemilihan Puteri Indonesia Jawa Timur 2017. Tiga tahun kemudian, ia kembali berlaga dan akhirnya membawa nama Jawa Timur harum menjadi Puteri Indonesia 2020.

Ada juga Jolene Marie dan Jessica Fitriana yang gagal pada pemilihan di tingkat provinsi pada 2018. Keduanya lalu berhasil maju ke tingkat nasional pada 2019 dan bahkan memenangkan mahkota Puteri Indonesia Lingkungan dan Puteri Indonesia Pariwisata. Ada pula Ariska Puteri Pertiwi yang gagal pada pemilihan Puteri Indonesia Sumatra Utara 2014 dan maju kembali pada 2016. Ia berhasil meraih runner-up 3 dan kemudian dikirim ke ajang Miss Grand International 2016. Pada ajang itu, Ariska malah mearih mahkotanya.

Dari berbagai kisah ini memang segala sesuatu ada linimasanya. Bisa saja gagal pada tahun ini tetapi berhasil pada tahun-tahun berikutnya. Bisa juga ia gagal di pemilihan nasional dan tak mengikuti kembali kontes kecantikan tetapi malah berhasil di bidang lain. Raline Shah adalah contoh nyatanya.      

2 comments:

  1. Semoga di balik gagalnya Fiza Khan kali ini ada hikmah terselubung. Mas Ikrom luar bisa. Selamat pagi. Terima kasih telah berbagi. Doa sehat untuk mu sekeluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar bu Nur semoga dia bisa kembali lagi dengan persiapan matang ya

      Delete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.