Belajar Kegagalan Meraih Mahkota dari Dua Miss Universe Asal Filipina

Kesuksesan seorang pemenang kontes kecantikan biasanya hanya terlihat saat ia meraih  mahkota.

Dengan senyum dan tangis haru yang mengembang, gaun yang indah, karangan bunga yang besar, hingga sorakan penonton yang meriah. Semua mata tertuju padanya, seolah ia mendapatkan segalanya tanpa ada sesuatu besar yang harus dilewatinya terlebih dahulu.

Padahal, ada banyak kisah para pemenang kontes kecantikan yang dulunya merupakan peserta yang gagal. Tak lolos audisi di tingkat kecamatan atau pun hanya tampil sebentar pada babak penyisihan. Mereka juga pernah merasakan getirnya kegagalan dan kekalahan dari kontes kecantikan yang mereka ikuti. Tentu, mereka pun juga pernah merasakan hanya menjadi penonton keberhasilan peserta lain yang meraih mahkota.

Kita masih ingat dari peristiwa crowning moment Miss Universe 2015. Saat itu, terjadi insiden salah sebut dari presenter Steve Harvey. Sang presenter menyebutkan bahwa wakil Kolombia, Ariadna Guiterrez memenangkan kontes tersebut. Ariadna tampak bahagia saat meraih mahkota dari Palulina Vega, Miss Universe 2014 yang juga dari Kolombia. Sayang, hanya kurang dari 5 menit, pengumuman itu diralat.

Juara Miss Universe 2015 sesungguhnya adalah Pia Alonso Wurtzbach asal Filipina. Pia yang sudah berdiri di belakang menyaksikan pemberian mahkota harus kembali ke depan panggung untuk meraih mahkota DIC. Kejadian ini menjadi sejarah tak terlupakan bagi perhelatan Miss Universe maupun kontes kecantikan.

Tiga Kali Ikut Binibining Pilipinas Menempa Pia

Walau insiden tersebut menjadi salah satu insiden yang menarik perhatian banyak kalangan, tetapi cerita akan perjuangan seorang Pia Wurtzbach adalah cerita yang patut diikuti. Betapa tidak, ia sudah tiga kali gagal mewakili Filipina ke ajang Miss Universe. Berkali-kali ia gagal menjadi yang terdepan saat mengikut kontes Binibiing Pilipinas. Saat mengikuti ajang Miss Universe pun, ia juga hampir gagal dan meraih runner-up. Namun, takdir juara ternyata berpihak padanya.

Baca juga: Tradisi dan Obsesi Orang Filipina pada Kontes Kecantikan

Pia memulai karir di bidang kontes kecantikan dengan mengikuti Binibining Pilipinas 2013. Saat itu, memang meraih mahkota tetapi hanya sebagai runner-up. Perlu diketahui, saat itu Binibining Pilipinas memiliki 6 lisensi, yakni Miss Universe, Miss International, Miss Suprnational, Miss Grand International, Miss Intercontinental, dan Miss Globe. Peserta yang sudah meraih mahkota lokal untuk 6 ajang tersebut tidak diperbolehkan untuk ikut tahun depan.

Semisal, ada peserta yang sudah memenangkan Miss International, maka ia dilarang untuk ikut kembali. Peraturan ini berbeda dengan Pemilihan Puteri Indonesia yang melarang peserta, baik yang sudah menang atau belum untuk tampil tahun depan. Mereka juga dikontrak 2 tahun oleh Yayasan Puteri Indonesia sehingga tidak boleh mengikuti kontes kecantikan dari yayasan lain.

Baca juga: Kontes Kecantikan Mana yang Paling Prestisius?

Makanya, Pia kembali maju dalam kontes Binibining Pilipinas 2014. Saat itu, Pia sudah percaya diri dengan modal menjadi runner-up pada tahun sebelumnya. Sayang, langkahnya malah terhenti di babak 15 besar. Kegagalan Pia ini banyak disebabkan karena Pia menjawab pertanyaan dewan juri dalam babak 15 besar menggunakan bahasa Tagalog.

Berbeda dengan Pemilihan Puteri Indonesia, jika ada peserta yang tidak menggunakan bahasa Inggris saat menjawab, maka akan terjadi pengurangan nilai. Kemampuan menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris menjadi salah satu standar utama  dalam kontes kecantikan di Filipina. Tak lancar berbahasa Inggris maka tamatlah sudah.

Pia yang Belajar Dari Kesalahan

Belajar dari kesalahan tersebut, akhirnya Pia meningkatkan kualitas public speaking-nya. Dengan lancar, saat babak 15 besar, ia menjawab mengenai sensor di internet dalam bahasa Inggris. Pia mengatakan sebenarnya sensor terbaik adalah dari diri kita sendiri. Sebelum kita mengunggah di media sosial, kita sensor dulu apa yang kita tulis dan apa yang kita potret. Pia pun dimahkotai oleh M.J. Lastimosa, rekan seperjuangannya dulu menjadi Miss Universe Philippines 2015.



Tampil pada gelaran Miss Universe 2015, Pia cukup diperhitungkan, Tampil mulus ke babak 15 besar, 10 besar, dan 5 besar, nama Pia pun masuk ke babak 3 besar. Saat itu, peserta yang masuk babak 3 besar bisa dikatakan sama kuatnya. Selain Pia dan Ariadna, ada juga wakil Amerika Serikat Olivia Jordan yang berambisi meneruskan dominasi negeri Paman Sam di ajang tersebut.

Baca juga: Dominasi Negara Latin pada Kontes Kecantikan

Pia pun lancar menjawab mengenai pertanyaan mengapa dirinya pantas menjadi Miss Universe. Dengan mantap Pia menjawab bahwa menjadi Miss Universe adalah suatu kehormatan dan tanggung jawab. Jika ia menjadi Miss Universe, ia akan menggunakan suaranya untuk mempengaruhi kaum muda, dan akan meningkatkan kesadaran untuk penyebab tertentu seperti kesadaran HIV yang tepat waktu dan relevan dengan negaranya yaitu Filipina. Ia ingin menunjukkan kepada dunia, alam semesta, bahwa saya percaya diri cantik dengan hati. Jawaban luar biasa ini akhirnya membuahkan mahkota walau berkali-kali gagal.

Miss Wolrd Bukan Rezeki Bagi Catriona

Selepas Pia, ada sosok Catriona Gray yang juga sempat gagal menjadi Miss World pada tahun 2016. Catriona saat itu hanya mampu menembus babak 5 besar. Saat menjawab pertanyaan, ia tampak sedikit gugup dan tidak lepas. Akhirnya, langkahnya terhenti di babak 5 besar. Posisi Catriona berada di bawah wakil Indonesia saat itu, Natasha Manuela yang berhasil masuk 3 besar.

Kegagalan Catriona sempat membuat publik Filipina terhenyak. Ia memang digadang-gadang menjadi Miss World kedua dari Filipina setelah kemenangan Megan Young pada 2016. Apa lacur, Catriona masih belum matang menurut penilaian pageant analysis. Makanya, ia kembali bangkit dan tidak muncul ke permukaan selama dua tahun.

Barulah, pada tahun 2018 akhirnya Catriona memantapkan diri mengikuti Binibining Pilipinas 2018 untuk menargetkan maju ke ajang Miss Universe. Latihan keras dari kegagalan yang ia raih sebelumnya membuat Catriona saat itu tampil lebih percaya diri.


 

Dengan mudah, ia melaju ke babak 15 besar dan akhirnya menjadi wanita Filipina pertama yang mengikuti dua kontes kecantikan besar, Miss World dan Miss Universe. Catriona pun berangkat ke Thailand tempat berlangsungnya kontes tersebut berlangsung.

Tahun 2018 juga tahun ganas. Banyak peserta yang tampil menawan tak terkecuali saingan Catriona di babak 3 besar. Mereka adalah Tamaryn Green dari Afrika Selatan dan Stefany Guiterrez dari Venezuela. Dua negara besar yang juga masih mendominasi kontes kecantikan Miss Universe.

Dukungan dan harapan tinggi pun tersemat pada Catriona. Saat itu, banyak sekali orang Filipina yang hadi ke Bangkok. Di Filipina sendiri, hari saat malam final berlangsung seakan hari libur nasional. Catriona benar-benar diharapkan besar untuk meraih mahkota keempat.

Meski begitu, Catriona belajar dari kesalahan. Ia tak mau menjadikan harapan besar tersebut menjadi beban. Ia begitu menikmati setiap proses penjurian bahkan saking menikmatinya seakan ia menjadikan panggung MIss Universe panggung miliknya. Panggung aura positifnya mengalir. Menurut beberapa pageant lover, Catriona sukses “membanting” kontestan lain.

Lava Gown Catriona yang Bersejarah

Terlebih, saat swimsuit competition (sesi pakaian bikini), ia tampil luar biasa berkat langkah slow mo turn yang menjadi ciri khasnya. Gerakan ini ternyata diajarkan oleh seorang pria Filipina selam bertahun-tahun kepada Catriona. Saat berlatih, tak jarang Catriona mengalami cedera akibat ia memang memiliki masalah tulang belakang. Puncak dari penampilan Catriona adalah saat ia tampil anggun menggunakan lava gown. Gaun malam ikonik berwarna merah yang menyala dan menggambarkan pijaran lava sebuah gunung api di Filipina. Lava gown ini menjadi masterpiece sepanjang sejarah perhelatan Miss Universe.


 

Kemenangan Catriona pun disambut meriah oleh rakyat Filipina. Berbagai video reaksi memperlihatkan kegembiraan masyarakat Filipina. Catriona memang banyak belajar dari kegagalan. Ia belajar bahwa kekuatan diri adalah hal terpenting untuk meraih mimpi.   

11 comments:

  1. nama nama peserta pageont memang keren keren euy...

    perjalanan pia ternyata cukup terjal juga ya. Wes pernah rynner up nyoba ajang kecantikan lainnya malah terjegal di babak 15 besar soalnya pas jawab pertanyaan pake bahasa tagalog, padahal penilaian plusnya kalau lancar bahasa inggris. Begitu pula dengan catryona...ckkckck nama namanya susah diucap tapi bagus bagus.

    Ajang kayak ginian seleksinya ketat ya. Iya lah ajang prestis...alumnusnya bisa masuk dunia hiburan atau tingkatan karir yang lebih cemerlang. istilah kata buat batu loncatan kalau bisa ngantongin gelar juara, jalan rejeki selanjutnya biasanya terbuka lebar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mbul, ikut kontes Miss Indonesia dulu, siapa tahu jadi juara dan mewakili Indonesia di ajang Miss universe.😄

      Delete
    2. iya mbak nita namanya agak sulit tapi unik ya
      makanya mereka jadiin batu loncatan

      klo mau ke Miss Universe ikutnya Puteri Indonesia mas agus klo Miss Indonesia nanti dikirimnya ke Miss World hehehe

      Delete
  2. Mas Ikrom tertarik dengan Filipina karena punya teman orang sana yang pernah diceritakan di blog itu, ya?

    Terus terang aja, saya baru tahu itu soal Pia yang mencoba berkali-kali dan akhirnya bisa menang. Tapi kasihan juga ya si Ariadna, nyebut nama pemenangnya sampai diralat begitu dan batal girang. Haha.

    Saya memang kurang tertarik dengan kontes semacam ini, sih. Tapi kaget juga kalau yang Putri Indonesia ini menang ataupun belum dilarang ikut lagi. Mana ada kontraknya yang ketat pula kalau menang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkw iya mas
      iya kasian dia sampai depresi dan gamau ketemu orang saking malunya

      bener makanya ini yang pingin diubah aturannya biar bisa ikutan lagi taun depan

      Delete
  3. Salut dengan Pia Wurtzbach, biarpun pernah gagal dalam kontes tapi tidak lantas menyerah, ia berjuang lagi dan akhirnya jadi pemenang Miss Universe 2015, biarpun awalnya disangka yang juara wakil Kolombia.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas dia pejuang keras dan pantang menyerah

      Delete
  4. Kalau aku jd MC MU 2015 dan salah sebut nama pemenangnya rasanya mau ngilang aja dari panggung, hahahha, pasti malu banget sih, sekelas MU loh, tapi ya MC juga manusia ya.

    Salut banget ama perjalanan panjangnya Pia, ternyata seperti itu usahanya agar bisa jadi seperti skrg ini, bener2 ga kenal nyerah dan selalu berjuang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah malu banget kan mbak sampe dia gamau ketemu orang

      bener salut deh sama pia

      Delete
  5. Belajar dari semangatnya aja. Keren

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.