5 Alasan Pertemanan Kuliah Tidak Seakrab Pertemanan Sekolah

Ilustrasi. - Zona Mahasiswa

 

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat sebuah VT TikTok mengenai seorang mahasiswa yang sedang melakukan wisuda.

Bukan IP yang tinggi atau kekocakan saat wisuda, tetapi saya meliat raut muka mahasiswa tersebut kurang menyenangkan. Pada slide selanjutnya, ia memperlihatkan sekumpulan teman mahasiswanya yang baru saja diwisuda dan menuliskan sebuah caption dalam bahasa Inggris.

Caption tersebut berisi kalimat yang cukup menohok. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih begini:

“Akhirnya bisa lulus. Aku bisa meng-unfollow dan memblokir mereka semua”.

Kutipan tersebut pun banyak menarik perhatian pengguna TikTok dan akhirnya VT tersebut bisa FYP. Walau cukup frontal dan kurang etis setidaknya saya memahami maksud dari sang mahasiswa tersebut. Apalagi jika hubungan pertemanan dunia kuliah yang tidak seerat dunia sekolah.

Lantas, apa yang menyebabkan hubungan pertemanan di dunia kampus tidak begitu akrab? Bertiku beberapa alasannya.

Pertama, latar belakang mahasiswa dari berbagai daerah.

Berbeda ketika saat sekolah dulu, para mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang. Tidak hanya ada satu kota tetapi bisa lain kota, lain provinsi, lain pulau, bahkan mancanegera. Pernah juga saya melihat VT mengenai asal SMA sebuah PTN yang isinya dari berbagai sekolah di Indonesia. Artinya, latar belakang daerah para mahasiswa berbeda-beda.

Perbedaan ini ternyata cukup membuat para mahasiswa susah untuk bisa akrab dengan cepat. Bahkan, dalam waktu yang lama sekali pun ada saja gap antara mahasiswa. Saya sendiri merasakannya ketika dari SMP dan SMA tidak begitu susah untuk mencari teman yang klik. Saat kuliah, rasanya tembok penghalang, entah bahasa atau kebiasaan membuat saya tidak begitu dekat.

Hingga tahun terakhir kuliah, saya masih belum mengenal secara personal satu kelas di perkuliahan. Kalau pun ada, itu hanya beberapa saja dan kebanyakan yang masih satu kota karena memang ada kedekatan secara kedaerahan. Untuk teman dari kota yang lain, rasanya sulit untuk membaur sama seperti saat SMA.

Kedua, pebedaan kepentingan

Saat kuliah, perbedaan kepentingan yang terjadi diantara mahasiswa menjadi salah satu alasannya. Jika saat sekolah dulu, siswa biasanya berangkat ke sekolah untuk belajar, bermain, dan mungkin berorganisasi. Saat kuliah, ada banyak sekali kepentingan yang ada, terutama di bidang ekonomi. Berjualan dan bekerja misalnya.

Ada banyak mahasiswa yang juga menyambung hidup dengan kerja sampingan. Mulai dari mengajar, berjualan, atau kegiatan usaha lain. Orientasi mereka sudah banyak yang tidak hanya untuk bersenang-seang saja, tetapi mulai melakukan planning ke depannya. Alhasil, jika saat jeda kuliah, maka biasanya banyak yang dilakukan untuk mempersiapkan berbagai hal di luar kegiatan kuliah. Makanya, saat saya ingin mengajak bicara, selain untuk tugas perkuliahan rasanya juga tidak enak. Takut mengganggu kegiatan mereka terlebih yang memang harus mencukupi kebutuhan hidupnya. Alhasil, saya bicara pun seperlunya dan kebanyakan memang untuk urusan tugas kuliah.

Berbeda halnya kala saya sekolah dulu, aktivitas mengobrol dengan teman untuk hal-hal remeh masih ada. Mulai sinetron, kartun, atau pembicaraan yang tak penting lainnya. Bahkan, dengan teman yang aktif di kegiatan OSIS pun, saya masih bisa mengobrol banyak hal.

Ketiga, tugas kuliah yang  menumpuk

Berbeda saat sekolah, tugas saat kuliah memang luar biasa. Jika saat sekolah paling-paling mengerjakan LKS atau tugas lain yang masih bisa dikondisikan. Saat kuliah, rasanya tugas kuliah amat sangat menumpuk dan banyak yang harus turun ke lapangan.

Semisal, saya pernah mendapat tugas mencari sampel air di sungai untuk kegiatan praktikum. Padahal saat itu kuliah masuk sampai jam 3 sore. Air harus segera dicari untuk praktikum 3 hari kemudian. Maka, saya dan beberapa rekan kuliah harus buru-buru ke sungai sebelum magrib. Setelah magrib saya harus memberi les dan teman saya harus persiapan untuk jualan. Makanya, waktu yang ada pun digunakan sebaik-baiknya. Tak ada waktu untuk berceloteh ria seperti saat SMA kala mengerjakan tugas kelompok.

Keempat, jarang ada acara yang saling mengakrabkan

Mungkin saat ini kondisinya berbeda ya dibandingkan saat kuliah dulu. Saya merasa, jarang sekali ada acara di Fakultas atau Jurusan bahkan kampus yang bisa mengakrabkan para mahasiswa. Ada sih beberapa tapi saya melihatnya garing. Kurang menarik minat mahasiswa untuk datang.

Kondisi ini cukup berbeda jika saat saya sekolah dulu. Ada saja kegiatan yang melibatkan satu kelas pada momen tertentu. Seperti saat 17an, saat akhir tahun, ulang tahun sekolah, dan beberapa kegiatan lain. Jadi, seringkali ada kegiatan berkumpul bersama satu kelas untuk tampil dengan berbagai kreativitasnya. Nah kegiatan ini jarang sekali dilakukan saat kuliah.

Terakhir, rasa egoisme yang cukup tinggi.

Entah ini perasaan saya yang salah, tetapi saya melihat egoisme mahasiswa cukup tinggi dibandingkan saat sekolah. Egoisme di sini dalam arti usaha menyelamatkan diri dan meraih sukses saat kuliah. Salah satunya, dalam meraih IP tinggi atau mendapatkan nilai ujian yang bagus.

Pernah suau ketika di semester 4 atau 5, saya melihat beberapa kursi di ruang kuliah yang digunakan untuk ujian telah ditempel dengan nama-nama tertentu, Ternyata kursi-kursi tersebut sudah di-booking oleh beberapa mahasiswa karena dianggap cukup strategis. Bahkan pernah ada sedikit perselisihan karena kegiatan ini.

Beberapa teman mahasiswa bahkan hingga sekarang masih saya ingat bagaimana sifat egoismenya. Sampai-sampai saat itu saya mikir, kok bisa ya maksudnya kan mereka juga hidup berdampingan dengan mahasiswa lain kok ya bisa-bisanya seperti itu.

Pernah juga saat mendekati hari lebaran, kebetulan ada kelas sebelah yang ingin melobi dosen agar bisa libur karena saat itu memang waktu libur kuliah sangat mepet. Hanya H-1 sebelum lebaran tetapi ada libur panjang setelah lebaran.

Lantaran dirasa tidak perlu, maka kelas kami tidak melakukannya. Kebetulan, ada satu mata kuliah yang merupakan gabungan antara dua kelas. Jadi, kalau mau melobi satu dosen maka ya melobi semuanya. Kelas kami tetap tidak mau karena nanti pasti ada tugas lain dan takutnya berakibat pada nilai mata kuliah. Walau banyak yang dari luar kota, tetapi teman-teman di kelas saya merasa masih cukup waktu untuk mudik. Ada beberapa anak yang memang izin dan para dosen memaklumi.

Akhirnya, mata kuliah tersebut tidak jadi dilobi dan tetap masuk. Tiba-tiba, ketua kelas sebelah, memaki-maki ketua kelas saya dengan kalimat yang tidak pantas, kebetulan pula, ketua kelas saya merupakan penganut nonmuslim.  Beberapa kalimat SARA pun dikeluarkan dan menurut saya cukup menyaktikan. Saya masih ingat lho sampai sekarang dan untungnya teman saya sabar.

Sejak saat itu saya mulai semakin yakin bahwa egoisme di perkuliahan memang nyata adanya. Makanya, saya juga tidak begitu akrab dan begitu selesai kuliah ya sudah putus komunikasi dengan mereka.

Beberapa waktu yang lalu, saya berada di sebuah restoran dan melihat ada sekumpulan mahasiswa yang rupanya baru lulus kuliah. Ada salah satu dari mereka yang berkata bahwa kegiatan makan-makan berkumpul tersebut akan dilakukan berkala untuk menjalin silaturahmi.

Dalam hati saya pun menggumam, “Mana Ada?”

Post a Comment

Next Post Previous Post