Tren Memberikan Bingkisan Kepada Guru, Yay or Nay?

Ilustrasi. - Kompas.com

Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan oleh tren memberi bingkisan lebaran kepada para guru.

Tren ini cukup banyak dilakukan oleh siswa sekolah dasar di berbagai penjuru tanah air. Dalam setiap video yang FYP, tampak siswa secara tertib bergilir memasukkan aneka barang ke sebuah dus. Barang tersebut kebanyakan adalah barang kebutuhan lebaran. Mulai snack dalam kaleng, sirup, camilan, gula, beras, dan beberapa pernak-pernik lainnya.

Pada narasi selanjutnya, setelah semua barang terkumpul, maka aneka barang tersebut dikemas dan diberikan kepadan sang guru. Biasanya, wali murid selaku koordinator paguyuban siswa yang memberikannya. Sang guru pun tampak sumringah dengan pemberian tersebut.

Ramainya kegiatan ini dan dilakukan oleh banyak sekolah memunculkan pro dan kontra. Bagi mereka yang setuju, pemberian tersebut dianggap biasa saja. Toh pemberian bersifat sukarela tanpa paksaan. Siswa dipersilakan memberi hadiah lebaran pada gurunya sesuai kemampuannya. Bahkan ada yang memberi gurunya dengan snack seharga 5 ribuan. Mereka juga berpendapat bahwa tradisi pemberian ini sudah ada sejak dulu.

Namun, bagi mereka yang kontra, pemberian tersebut dianggap sebagai kegiatan yang dapat berdampak buruk. Tidak hanya bagi guru tetapi bagi siswa. Bagi guru, tradisi ini bisa dianggap sebagai tradisi mengemis pada siswa. Tak hanya itu, bagi guru PNS, tentu ada aturan bahwa mereka dilarang mendapatkan hadiah atau gratifikasi.

Pemberian ini juga berdampak buruk bagi siswa. Meski tidak secara implisit, siswa akan berlomba-limba memberikan hadiah terbaiknya bagi para guru. Mereka yang kurang mampu akan memaksakan diri meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli barang yang mahal. Tujuannya, agar mereka tidak kalah dengan teman-temannya. Ya kali, teman-temannya memberi snak kaleng seharga 100 ribuan sementara ia hanya memberi snack 5 ribuan?

Tak hanya itu, pemberian semacam ini juga dianggap mengajarkan siswa untuk memberi gratifikasi. Toh momen memberi hadiah bagi para guru tidak hanya saat idul fitri saja. Saat hari guru dan kenaikan kelas pun, biasanya mereka juga memberi hadiah.

Untuk kegiatan ini, saya memilih berada di tengah. Artinya, saya setuju saja dengan kegiatan ini tetapi ada beberapa catatan yang membuat saya tak setuju.

Pertama, sebagai seorang guru yang pernah mengajar kelas, tentu saya mengalami kepayahan luar biasa saat mengajar siswa satu kelas. Kepayahan ini sebenarnya akan terbayar lunas jika tidak ada permasalahan yang serius antara siswa, guru, dan sekolah. Menyelesaikan tugas satu tahun mendidik mereka dengan nilai memuaskan dan perbaikan karakter adalah kepuasan utama.

Saya sudah diberi gaji oleh sekolah dan negara. Cukup atau tidak cukup itu urusan saya pribadi. Mengenai masalah bingkisan, sebenarnya beberapa guru dan sekolah juga mendapat bingkisan. Dulu, saya mendapat bingkisan dari Guru PNS yang rajin memberi bingkisan pada guru honorer. Saya juga pernah mendapat bingkisan dari Dinas Pendidikan karena berstatus sebagai guru honorer. Berbagai bingkisan tersebut bagi saya sudah cukup.

Makanya, saya kurang setuju dengan pemberian bingkisan saat lebaran ini. Ditambah, saat akhir tahun pelajaran, wali murid selalu memberi bingkisan yang selalu tidak pernah saya tolak. Saya pernah mendpaat bingkisan tas dan kaos yang saya pakai hingga sekarang.

Kedua, sebenarnya jika wali murid ingin memberi sesuatu pada guru bisa dengan cara yang lain. Semisal, mengajak buka puasa bersama atau kegiatan lainnya. Saat menjelang lebaran, dulu saya pernah diajak buka bersama oleh wali murid. Ajakan ini tidak bisa saya tolak karena semua wali murid hadir dan mengharapkan kehadiran saya. Makanya, saya lebih bisa menerima pemberian semacam ini karena lebih kecil kemungkinan untuk menuai pro dan kontra. Apalagi, kegiatan ini biasanya dilakukan dalam agenda paguyuban yang sudah disepakati.

Ketiga, saya lebih senang jika bingkisan itu diberikan bagi guru yang sudah purna tugas atau pensiun. Saya merasa mereka lebih berhak untuk mendapatkan bingkisan lebaran. Selain tak lagi mendapat penghasilan, dengan adanya bingkisan dan kehadiran murid, tentu akan mengobati rasa kangen mereka terhadap siswa. Percayalah, masih banyak guru yang sudah pensiun sebenarnya memiliki keinginan tinggi untuk tetap mengajar.

Terakhir, mesi saya setuju, sebaiknya pemberian semacam ini tidak dilakukan untuk tren semata. Apalagi, dengan mempertontonkan jenis pemberian siswa kepada masyarakat umum. Ada anak yang akan selalu mengingat bahwa pemberiannya tidak berharga terutama jika ia membaca komentar dari netizen.

Bagaimana rasanya seorang anak yang hanya bisa memberi snack 5 ribuan dan dikomentari dengan komentar miring. Bagaimana mentalnya akan terusik jika ia membaca komentar semacam itu. Makanya, pemberian ini sebenarnya tidak perlu dipublikasikan. Jika ingin dipublikasikan, maka bagian anak memberi dan memasukkan barang ke dalam kardus tidak perku diunggah. Cukup saat semua barang terkumpul jadi satu dan diserahkan ke wali murid.

Entah siapa yang memuali tren ini yang jelas sisi baik dan buruknya harus kita pahami bersama. Jangan sampai nanti ada pihak yang merasa dirugikan akibat kegiatan ini dan malah menciderai esensi dari pendidikan itu sendiri.   

Post a Comment

Next Post Previous Post