![]() |
| Ilustrasi. |
Tidak ada berita yang membuat saya sedih selain berheti tayangnya serial kartun asal Jepang, Doraemon.
Sebagai anak kecil yang tumbuh besar di era 90an, rasanya Doraemon adalah serial kartun yang paling saya tunggu. Saya selalu penasaran dengan alat-alat ajaib baru yang keluar dari kantong ajaib robot kucing tersebut. Saya juga penasaran dengan apa yang akan dihadapi Nobita dalam kehidupannya.
Suka atau tidak, Doraemon adalah sebuah perwujudan “Tuhan Yang Maha Esa” dalam benak saya kala itu. Walau saya sudah punya pedoman ajaran agama dan setiap hari mengaji, rasanya Doraemon adalah wujud lain dari Tuhan yang temanifestasi dalam robot kucing.
Bagaimana tidak, segala permasalahan rasanya bisa terselesaikan dengan bantuan alat-alat di dalam kantong ajaibnya. Sampai-sampai, saya bemimpi bisa masuk ke mesin waktu milik doraemon yang tersimpan dalam laci meja belajar Nobita. Bisa mengubah takdir dengan bertemu orang-orang terdahulu sehingga kehidupan masa sekarang bisa lebih baik. Persis dengan apa yang sudah dilakukan Nobita kala ia mengalami kesulitan di masa sekarang.
Di tengah segala kontroversinya, nyatanya Doraemon adalah teman bagi banyak orang. Terutama, mereka yang sudah dewasa tetapi masih memiliki ingatan memori dengannya. Silih berganti aneka kartun tayang dan berhenti tayang. Namun, Doraemon tetap bertahan hingga 35 tahun. Silih berganti minggu datang dan yang menonton semakin tua, tetap saja mereka masih ingat beberapa episode yang sedang tayang.
Saya sendiri episode yang paling saya ingat adalah tong sampah yang bisa menarik awan untuk mencegah hujan. Jujur, saya butuh sekali alat tersebut karena kadang saya ingin pergi keluar untuk urusan tertentu tetapi terhalang oleh hujan. Nantinya, jika urusan saya telah selesai, saya bisa mengeluarkan awan tersebut dan hujan pun turun.
Walau alat ini terdengar tak masuk akal, nyatanya dalam kehidupan sebenarnya proses modifikasi cuaca bisa dilakukan. Dari sini, semakin dewasa saya memahami bahwa Doraemon bukanlah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa. ia adalah perwujudan akal manusia yang memiliki aneka nalar yang sebenarnya tidak masuk akal, tetapi bisa diwujudkan.
Tak sampai di situ saja, beberapa sifat yang dimiliki oleh tokoh di dalamya ternyata juga ada di diri saya sebagai manusia. Nobita misalnya yang suka menunda pekerjaan dan tidur siang. Percaya atau tidak, dua sifat ini rasanya melekat pada saya saat dewasa. Giant misalnya yang pemarah tetapi sangat setia kawan. Sifat ini muncul pada diri saya dan mungkin kita semua yang marah saat melihat ketidakadilan dan keruwetan di negeri ini.
Pun demikian dengan sosok Suneo. Ia adalah sosok yang suka pamer dan acuh terhadap sesuatu. Percayalah, dua sifat ini sering kita miliki saat berada di dunia kerja. Saat kita butuh apresiasi atas hasil pekerjaan kita. Di saat yang sama, kita akan acuh terhadap drama-drama kehidupan kerja. Sifat dari Shizuka juga sering tampak pada diri kita yang perasa dan tidak bisa melihat orang kesusahan. Mudah tersinggingung tetapi gampang iba dengan orang yang kurang beruntung.
Alhasil, sebenarnya sifat-sifat pada tokoh Doraemon adalah perpaduan dari berbagai sifat manusia dewasa yang telah terpupuk sejak kecil. Sifat yang tidak kita sadari akan muncul jika kita mendapatkan respon tertentu. Makanya, berbagai tokoh dalam serial Doraemon sangat melekat pada kita.
Berhentinya Doraemon dari tayangan televisi membuat persepsi bahwa TV nasional semakin ditinggalkan. Anak-anak sekarang, Gen Z dan Gen Alpha, lebih tertarik menonton video lewat ponsel. Cocomelon, Bebefin, dan sejenisnya akan lebih mereka kenal. Padahal, Doraemon menjadi salah satu dasar dari Gen Millenial untuk bisa bertahan hidup di masa sekarang. Seperti lirik lagu penutup kartun ini yang paling terkenal:
Saya hidup di bumi ini
Masa depan dengan kapal angkasa
Mari kita banyak-banyak berhip riang
Menjadikan satu-satu kita wujudkan

saking lamanya udah gak pernah nonton tv, ternyata doraemon udah gak ada gitu? sayang banget ya :(
ReplyDelete