Menuntaskan Novel Karya V. Lestari; Target Membaca dan Belajar Menulis Fiksi Tahun Ini

Ilustrasi. - Dok. Istimewa

Tahun ini, rasanya saya ingin menuntaskan berbagai novel yang ingin saya baca.

Selain novel, saya juga ingin menuntaskan beberapa kumpulan cerpen, terutama cerpen yang pernah dimuat di Harian Kompas. Walau tidak menutup kemungkinan saya akan membaca buku nonfiksi juga, tetapi entah rasanya untuk tahun ini saya ingin fokus menuntaskan karya fiksi beberapa penulis kebanggan saya.

Alasan utama saya fokus ingin membaca karya buku fiksi adalah karena saya ingin belajar menulis fiksi. Kalau tidak banyak membaca, rasanya ya kurang. Dari banyak membaca karya fiksi, selain ide cemerlang, saya juga bisa mendapatkan insight dari berbagai unsur di dalamnya. Mulai penokohan, alur, dan setting.

Saya juga bisa menambah referensi tulisan fiksi saya yang masih belum luas. Entah dari segi kebahasaan maupun dalam hal teknis lainnya. Ada kalanya, saya mendapatkan pemahaman baru setelah membaca fiksi bahwa saya harus menuntaskan dulu satu konflik sebelum berlanjut ke konflik selanjutnya. Ini penting agar pembaca tidak merasa penuh dan bingung saat mengikuti rangkaian peristiwa di dalamnya.

Nah, diantara karya fiksi yang saya targetkan untuk selesai saya baca adalah buku karya V. Lestari. Novelis misterius yang sosoknya tidak diketahui ini menjadi salah satu novel kebanggan saya. Ramuannya dalam menulis kisah misteri disertai konflik yang berliku membuat saya penasaran dan ingin terus membaca karyanya.

Tahun kemarin, saya berhasil menuntaskan 6 buku karya novelis ini. Keenam buku tersebut adalah Misteri Kastil Cinta, Misteri Tiga Sekawan, Misteri Bunga Tasbih, Gazebo, dan dua sekuel yakni Cinta Seorang Psikopat dan Ayahku Seorang Psikopat. Walau masing-masing buku punya ketebalan hingga 700 halaman lebih, bagi saya tak masalah. Saya sangat menikmati alur yang dirangkai oleh V. Lestari terutama dalam kaitannya dengan hal-hal mistis.

Tak hanya itu, saya juga sangat menikmati plot twist yang sering tidak bisa diduga saat membaca bagian pertengahan buku. Ada saja tokoh yang tak terduga menjadi biang keladi dari berbagai kekisruhan yang terjadi. Cara V. Lestari dalam meramu rangkaian peristiwa tersebut bagi saya sangat memuaskan sehingga saya terus ketagihan untuk terus membaca karyanya.

Untuk tahun ini, saya berniat akan membaca 8 buku karya V. Lestari yang sudah saya bidik pada tahun lalu. Kedelapan buku tersebut adalah Kalau Cinta Hanya di Bibir, Sebelum Usia 21, Misteri di Balik Abu, Lukisan Kematian, Sang Mucikari, Kalung Imitasi, Misteri Kematian Emilia, dan Paviliun Maria.

Sayangnya, hanya 4 buku dari 8 buku tersebut yang bisa saya dapatkan dengan membaca gratis di aplikasi iPusnas. Sementara, 2 buku sudah ada di Perpustakaan Umum Kota Malang dan saya masih mencari 2 buku lainnya yakni Sebelum Usia 21 dan Kalung Imitasi. Ada rekan saya yang membantu mencarikan 2 buku tersebut di pasar buku loak. Saya juga mencari buku tersebut di marketplace dan beberapa tempat lain.

Untuk masalah menuntaskan membaca 8 buku tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit. Saya punya waktu luang yang banyak saat menunggu bus dan saat naik bus. Saya juga punya waktu saat menunggu jam bimbel di tempat saya dimulai. Jadi, saya masih bisa menuntaskan buku-buku tersebut sampai selesai. Masalahnya ya hanya pada ketersediaan buku yang akan saya baca. Kalau bukunya tidak ada, bagaimana saya bisa membacanya?

Jujur, karya V. Lestari tidak terlalu booming di pasaran. Jumlah cetakannya sangat terbatas walau penggemarnya cukup banyak. Ada beberapa orang yang baru membacanya terkesima dengan alur dan latar yang diceritakan. Saya tidak tahu mengapa novelis satu ini benar-benar tertutup dan tidak ingin terkenal. Wajahnya saja tidak ada orang yang tahu. Beda halnya dengan beberapa novelis misteri lain seperti S. Mara Gd., dan Abdullah Harahap.

Kemisteriusan V. Lestari inilah yang membuat saya juga penasaran dan ingin terus membaca karyanya. Belum lagi, rentang latar waktu yang dipaparkan, dari tahun 70an samoa 2000an membuat saya seakan bernostalgia dengan masa-masa tersebut, termasuk dengan segala pirantinya. Makanya, target membaca karya V. Lestari ini menjadi target utama saya membaca buku.

Untuk buku lain seperti nonfiksi saya tidak punya target. Saya tiba-tiba saja akan membaca sampai habis. Alasannya ya saya mengikuti situasi dan kondisi. Saya malah lebih banyak membaca majalah Natgeo tahun kemarin. Setiap ada majalah baru yang ada di perpustakaan, maka langsung saya baca. Paparan majalah tersebut mengenai perubahan iklim dan pengelolaan sampah saya baca sampai tuntas. Entah, saya lebih tertarik untuk belajar dan memaknai kehidupan dari penelitian sains dibandingkan dari buku-buku motivasi.

Semoga saja saya bisa menuntaskan target membaca buku saya. Syukur-syukur, saya bisa membaca lebih dari 8 novel V. Lestari. Asal, saya bisa mendapatkan bukunya dengan halaman lengkap.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya